Minggu, 17 Juni 2012

Isra Mi'raj

Sekarang kita telah memasuki separo lebih bulan rojab dimana pada akhir bulan ini kita sebagai seorang muslim telah diingatkan kembali sebuah peristiwa besar dalam sejarah umat islam. Sebuah peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah hidup (siirah) Rasulullah SAW yaitu peristiwa diperjalankannya beliau (isra) dari Masjid al Haram di Makkah menuju Masjid al Aqsa di Jerusalem, lalu dilanjutkan dengan perjalanan vertikal (mi'raj) dari Qubbah As Sakhrah menuju ke Sidrat al Muntaha (akhir penggapaian). Peristiwa ini terjadi antara 16-12 bulan sebelum Rasulullah SAW diperintahkan untuk melakukan hijrah ke Yatsrib (Madinah).
Allah SWT mengisahkan peristiwa agung ini di S. Al Isra (dikenal juga dengan S. Bani Israil) ayat pertama:  سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير
Artinya; Maha Suci Allah Yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu (potongan) malam dari masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat".
Lalu apa pelajaran yang dapat diambil dari perjalanan Isra wal Mi'raj ini? Barangkali catatan ringan berikut dapat memotivasi kita untuk lebih jauh dan sungguh-sungguh menangkap pelajaran yang seharusnya kita tangkap dari perjalanan agung tersebut:

Pertama: Konteks situasi terjadinya

Kita kenal, Isra' wal Mi'raj terjadi sekitar setahun sebelum Hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah (Yatsrib ketika itu). Ketika itu, Rasulullah SAW dalam situasi yang sangat "sumpek", seolah tiada celah harapan masa depan bagi agama ini. Selang beberapa masa sebelumnya, isteri tercinta Khadijah r.a. dan paman yang menjadi dinding kasat dari penjuangan meninggal dunia. Sementara tekanan fisik maunpun psikologis kafir Qurays terhadap perjuangan semakin berat. Rasulullah seolah kehilangan pegangan, kehilangan arah, dan kini pandangan itu berkunang-kunang tiada jelas.

27 Rajab adalah

27 Rajab dipercaya sebagai tanggal terjadinya Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Ternyata, ada sebagian orang yang berpuasa khusus di hari itu dengan alasan bahwa hari itu adalah hari Islam, di mana Allah SWT memberi anugerah besar kepada Rasulullah dengan Isra’ Mi’raj yang terjadi pada hari itu.

Bagaimana sesungguhnya puasa 27 Rajab itu, adakah dalilnya? Berikut jawaban Syaikh Dr Yusuf Qardhawi yang beliau tulis dalam Fiqih Puasa:

Semua ini tidak ada dalilnya dalam syariat puasa. Allah SWT telah memerintahkan kaum muslimin untuk mengingat nikmat besar yang dianugerahkan kepada mereka, sebagaimana nikmat dalam Perang Ahzab.

Ingatlah nikmat Allah kepada kalian, ketika datang pasukan-pasukan kepada kalian, maka Kami utus angin dan pasukan tak terlihat untuk menghancurkan mereka” (QS. Al Ahzab : 9)

Meskipun demikian, mereka tidak pernah mengingat hari-hari ini. Semua melupakan nikmat ini, tenggelam oleh nikmat syawal dan lain-lain.

Dalam Zaadul Ma’ad, Ibnu Qayyim Al Jauziyah berkata, “Para sahabat dan tabiin tak pernah mengkhususkan malam isra’ dengan amalan tertentu, tidak pula memperingatinya dengan acara tertentu. Oleh karena itu, tidaklah malam isra’ dianggap sebagai malam yang paling utama bagi Rasulullah.”

“Tak ada dalil yang diketahui tentang bulannya (terjadi isra’ mi’raj), tentang sepuluh harinya, apalagi hari H nya. Bahkan nukilan tentang itu semua terputus riwayatnya dan saling berselisih. Tak ada yang qath’i tentangnya dan tak ada syariat bagi umat Islam untuk mengistimewakan malam (27 Rajab) itu dengan shalat atau lainnya.”

Dengan demikian, meskipun malam 27 Rajab telah termasyhur sebagai malam Isra’ dan Mi’raj, sesungguhnya tak ada dalil tentang itu.

Jadi, demikianlah puasa 27 Rajab atau puasa Isra’ Mi’raj. Syaikh Dr Yusuf Qardhawi telah menerangkan bahwa puasa itu tak ada dalilnya. []

Sabtu, 28 April 2012

6 Tips Menggapai Istiqomah

Seorang sahabat kami tercinta, dulunya adalah orang yang menuntun kami untuk mengenal ajaran islam yang haq (yang benar). Awalnya, ia begitu gigih menjalankan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia pun selalu memberikan wejangan dan memberikan beberapa bacaan tentang Islam kepada kami. Namun beberapa tahun kemudian, kami melihatnya begitu berubah. Ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sebenarnya adalah suatu yang wajib bagi seorang pria, lambat laun menjadi pudar dari dirinya. Ajaran tersebut tertanggal satu demi satu. Dan setelah lepas dari dunia kampus, kabarnya pun sudah semakin tidak jelas. Kami hanya berdo’a semoga sahabat kami ini diberi petunjuk oleh Allah.

Berlatar belakang inilah, kami menyusun risalah ini. Dengan tujuan agar kaum muslimin yang telah mengenal agama Islam yang hanif ini dan telah mengenal lebih mendalam ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa mengetahui bagaimanakah kiat agar tetap istiqomah dalam beragama, mengikuti ajaran Nabi dan agar bisa tegar dalam beramal. Semoga bermanfaat.
Keutamaan Orang yang Bisa Terus Istiqomah
Yang dimaksud istiqomah adalah menempuh jalan (agama) yang lurus (benar) dengan tidak berpaling ke kiri maupun ke kanan. Istiqomah ini mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan (kepada Allah) lahir dan batin, dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya.[1] Inilah pengertian istiqomah yang disebutkan oleh Ibnu Rajab Al Hambali.
Di antara ayat yang menyebutkan keutamaan istiqomah adalah firman Allah Ta’ala,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.” (QS. Fushilat: 30)

Senin, 16 April 2012

Prinsip Komunikasi dalam Al-Quran

Qur’an mengatakan bahwa komunikasi adalah satu fitrah manusia atau kebutuhan manusia. Manusia menghabiskan 70 persen dari kehidupannya sehari-hari untuk berkomunikasi, baik dengan menulis, membaca, berbicara, dan mendengarkan Apabila kebutuhan ini tidak dicukupi maka kehidupan manusia terasa belum bermakna. Komunikasi sebagai kebutuhan manusia mengisyaratkan adanya kebutuhan manusia untuk dekat dengan manusia lainnya karena kedekatan tersebut dapat dicapai apabila ada komunikasi di dalamnya.
Komunikasi adalah proses penerimaan, penyampaian dan pemahaman dari satu individu kepada individu lainnya melalui simbol. Bentuknya simbol ini beragam mulai dari kalimat yang terucap sampai pada tindakan yang diperbuat. Tangisan seorang bayi kepada ibunya adalah komunikasi yang mengisyaratkan dirinya merasa tidak nyaman. Kemarahan seorang mengkomunikasikan bahwa dirinya berada dalam bahaya yang menyangkut keselamatan dirinya

PRINSIP KOMUNIKASI DALAM AL QUR’AN
Kita harus belajar pada Rasulullah dalam berkomunikasi. Apa yang dikatakan oleh Rasulullah memberikan dampak yang luar biasa pada anaknya. Orang yang mendengarnya akan tersentuh baik emosi maupun pikirannya. Ucapan beliau sanggup menggelorakan semangat, menyembuhkan hati yang gundah, merangsang penalaran, dan mencerahkan pikiran. Komunikasi yang dilakukan Rasulullah adalah komunikasi yang berlandaskan nilai di dalam Al Qur’an. Beberapa pelajaran mengenai komunikasi yang dapat ditarik dari Al Qur’an antara lain :

Jumat, 30 Maret 2012

Untuk Mencapai Tujuan, Jangan Pernah Berhenti !

Perhatikanlah jam dinding atau jam tangan, akan terlihat jarum jam yang berputar sesuai dengan hitungan waktu dari mulai angka 1 sampai dengan angka seterusnya. Ketika jarum jam itu akan menuju angka 12 terlebih dahulu harus melewati angka-angka sebelumnya.
 
Begitupun dengan arah tujuan hidup kita harus jelas, dengan kewajiban untuk menapaki langkah demi langkah dalam suatu proses menjalaninya. Dimulai dengan menetapkan tujuan, setelah itu kita beramal, berikhtiar untuk menggapai arah tujuan tersebut. Jika tidak, maka penetapan tujuan yang sudah kita canangkan sebaik apa pun, pasti kita tidak akan dapat meraihnya.
Memiliki tujuan berarti memiliki arah dalam kehidupan ini. Mau ke mana arah hidup kita? Jika sudah memiliki arah yang benar dan harus bergerak menuju arah tersebut, maka secara pasti akan dapat mencapai tujuan tersebut. Yang penting tidak berhenti di tengah jalan untuk menggapainya. Apalagi jika memiliki tujuan yang besar, akan memakan waktu yang lama. Perlu kesabaran, ketekunan, dan optimis (husnuzhan) dalam mencapai tujuan tersebut. Jika ada saat kesabaran itu pudar kemudian berhenti, maka kegagalan dalam meraih tujuan itu pasti teralami. Selama tidak berhenti, dan terus berbuat untuk meraihnya, maka semakin dekat tujuan tersebut kita raih.

Jumat, 09 Maret 2012

Tubuh bergaul dengan makhluk hati bergaul dengan khalik


Bagaimana mungkin hati akan cemerlang, bila gemerlap duniawi terpatri di dinding hati. Demikian ujar Syech ibnu athahilah Ra dalam kitab hikamnya.

Tidak sulit untuk mengetahui apakah dinding hati kita dipenuhi gemerlap dunia atau persiapan untuk akhirat. Lihatlah dibidang apa saja hati ini menjadi resah, bila hati resah karena kehilangan harta, takut tidak kebagian rezeki, berani tidak jujur demi sepeser-dua peser uang, melanggar aturan agama demi dunia.

Itu berarti dinding hati kita tidak sekedar dipenuhi gemerlap duniawi, tetapi sudah menjadi tawanan dunia. Tetapi bila keresahan kita pada shalat yang belum khusuk, bekal akhirat yang masih belum banyak, akhlak yang masih buruk, Itu pertanda hati kita berisi persiapan akhirat.

Selasa, 17 Januari 2012

Menangisnya Kekasih Allah

Nabi Zakaria a.s., sebagai seorang utusan Allah, kerap menyampai­kan ajaran-ajaran Allah kepada umatnya. Pesan-pesan yang disampaikannya senantiasa mengajak kaumnya untuk menyembah hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Namun, sebelum ia menyampai­kan ayat-ayat Allah Swt. yang telah diwahyukan kepadanya, ia akan terlebih dahulu memerhatikan siapa saja yang bakal menjadi audiennya.

Apabila di antara mereka itu tidak terdapat Nabi Yahya a.s., ia akan membacakan ayat-ayat Allah yang berisi tentang ancaman siksa api neraka. Namun sebaliknya, apabila di antara audiennya itu terdapat putranya, yakni Nabi Yahya, tak sedikit pun ia menyinggung ayat-ayat yang berisi tentang ancaman siksa neraka.

Sebab, Nabi Zakaria a.s. paham betul bagaimana rentannya hati Nabi Yahya a.s. jika mendengar ayat-ayat Allah yang berisi tentang siksaan Allah Swt. Nabi Yahya a.s. selalu menangis jika mendengar ayat-ayat mengenai siksa neraka. Bahkan ia akan menyepi dan menangis sepanjang hari, sampai akhirnya ibunya datang membujuk dan menenteramkan hatinya.

Demikianlah ciri sifat Nabi Yahya a.s., sebagai tanda rasa takutnya kepada Allah dan kuatnya keimanan yang tertanam di dalam dirinya. Pernah, suatu ketika Nabi Zakaria a.s. akan menyampaikan ayat-ayat Allah kepada kaumnya. Sebagaimana yang biasa ia lakukan, ia akan memerhatikan dulu apakah di tengah orang yang hadir itu ada putranya atau tidak ada.

Setelah Nabi Zakaria a.s. memerhatikan dengan saksama tak melihat Nabi Yahya ikut hadir di situ, mulailah ia menyampai­kan ajaran-ajaran Allah Taala yang telah diwahyukan kepadanya. Ia juga menyertakan ayat-ayat yang berisi ancaman siksa neraka bagi mereka yang tak mau mengikuti apa yang telah ditentukan oleh Allah. Ketika menyampaikan ayat-ayat tersebut, Nabi Zakaria a.s. sendiri juga menangis. Itu tidak lain disebabkan rasa takutnya yang amat sangat kepada Allah Rabbul ‘Izzati.

Di tengah isak tangisnya itulah, Nabi Zakaria a.s. berkata kepada kaumnya:

"Malaikat Jibril telah mengabarkan kepadaku, bahwasanya di dalam Neraka Jahanam itu terdapat sebuah gunung yang disebut Sakrana. Gunung itu berasal dari sebuah jurang yang dinamakan Ghadhban. Sedang Ghadhban itu sendiri diciptakan dari murka Allah Yang Maha Kasih Sayang."

"Pada jurang Ghadhban tersebut," lanjut beliau, "terdapat beberapa sumur api. Kedalaman masing-masing sumur itu mencapai dua ratus tahun perjalanan di bumi ini. Di dalam setiap sumur, terdapat banyak rantai dan belenggu yang terbuat dari besi."

Bersamaan dengan itu, ternyata Nabi Yahya a.s. datang dan sempat mendengar ayat-ayat yang berisi mengenai ancaman siksa neraka itu. Nabi Yahya a.s. langsung melompat keluar dari majelis dan berlari pergi seraya berteriak-teriak, "Aduh, Sakrana..., aduh

Ghadhban..." Dalam waktu yang relatif singkat, Nabi Yahya a.s. telah menghilang dari pandangan Nabi Zakaria a.s. dan orang- orang yang hadir dalam majelis itu.

Melihat hal itu, Nabi Zakaria segera mengakhiri ceramahnya dan kemudian mengajak istrinya untuk pergi mencari Nabi Yahya yang telah lari entah ke mana. Mereka bertanya kepada orang- orang yang ditemui di sepanjang jalan, apakah mereka melihat orang yang memiliki ciri-ciri seperti putranya. Namun, sebagian besar orang tak mengetahui ke mana Nabi Yahya pergi.

Hingga sore hari, mereka masih tak mengetahui keberadaan Nabi Yahya. Dalam pencarian tersebut, Nabi Zakaria dan istrinya bertemu dengan seorang penggembala yang akan pulang ke rumahnya. Setelah bertanya kepada sang penggembala itu, Nabi Zakaria memperoleh jawaban, bahwa orang yang dicarinya tengah berada di atas gunung.

"Aku tadi melihatnya di atas gunung sana. Ia menangis seraya berkata tak akan makan dan minum sampai ia mengetahui apakah tempatnya bakal di dalam surga ataukah di neraka," ujar si penggembala itu.

Segera Nabi Zakaria dan istrinya mendaki gunung yang dimaksudkan. Setibanya di atas gunung, mereka memang melihat Nabi Yahya tengah duduk berdzikir. Sebagai seorang ibu yang sangat khawatir dengan keadaan putranya, istri Nabi Zakaria berjalan mendekati Nabi Yahya.

"Anakku yang telah kukandung dan kususui, kemarilah engkau, dan ayo kita pulang bersama," bisik ibunya perlahan.

Nabi Yahya segera menunjukkan kepatuhannya kepada sang ibu. Ia segera melangkah menuju ibunya dan mengikuti ayah dan ibunya pulang ke rumah. Setelah tiba di rumah, Nabi Zakaria meminta putranya itu untuk mengganti jubahnya dengan jubah

lainnya yang lebih bagus. Nabi Yahya menurutinya. Kemudian ibunya memasak gulai untuk makanan mereka bersama.

Usai makan, Nabi Yahya langsung tertidur. Di dalam tidurnya, tiba-tiba ia bermimpi ada suara yang memanggilnya.

"Hai Yahya, apakah engkau telah mendapatkan rumah yang lebih baik dari rumah-Ku dan tetangga yang lebih baik dari tetangga-Ku?" Demikian isi suara dalam mimpinya saat itu. Nabi Yahya langsung terbangun dan menangis kembali.

Seraya masih tetap menangis, ia meminta kepada ayahnya agar mengembalikan lagi jubah miliknya yang ia pakai semula. Kemudian ia mengembalikan jubah barunya kepada ayahnya. Nabi Zakaria menuruti kehendak putranya itu. Sebab, ia tahu betul bahwa semua itu dilakukan anaknya karena rasa takutnya kepada Allah.

Tatkala ibadah mereka bertambah kuat, Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Zakaria yang berbunyi: "Sesungguhnya Aku telah mengharamkan neraka bagikalian semua" Ayat itu menjadi kabar gembira bagi keluarga Nabi Zakaria, bahwa mereka telah dijamin Allah untuk masuk ke dalam surga-Nya.

Karena kepatuhan, ketaatan dan ketakutan mereka kepada Sang Pencipta itulah, Allah kemudian memuji keluarga Nabi Zakaria dalam Al-Quran Surah Al-Anbiya` ayat 90 yang berbunyi: "Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera di dalam melakukan perbuatan-perbuatan baik, dan mereka berdoa kepada Kami dengan rasa harap dan cemas. Dan mereka termasuk orang-orang yang khusyuk kepada Kami" (QS Al-Anbiya` [21]: 90)



Disadur dari buku terbitan Darul Hikmah, karya Ummi Alhan Ramadhan Mazayasyah           

Mutiara Hikmah, Kisah Para Kekasih Allah

Senin, 16 Januari 2012

Putri Dzun Nun Al-Mishri

Dzun Nun menjadi paham dan sadar, bahwa ternyata Allah menurunkan hidangan dari langit itv bukanlah karena ibadahnya, melainkan karena rahmat Allah atas put rinya. Buktinya, setelah putrinya itu wafat, hidangan dari langit itu pun tak pernah turun lagi.

Dzun Nun Al-Mishri adalah salah seorang tokoh sufi dari wilayah Ikhmim di Mesir. Nama lengkapnya idalah Abu Al-Faidh Tsauban bin Ibrahim Al-Mishri. Di samping clikenal sebagai seorang tokoh sufi, Dzun Nun juga merupakan salah seorang ahli kimia dan memahami tulisan-tulisan Mesir kuno. Keahlian dalam bidang yang terakhir inilah yang kemudian membuat Dzun Nun banyak terlibat di dalam dunia sastra.

Semasa hidupnya, Dzun Nun banyak melakukan perjalanan ke berbagai daerah di wilayah Arab, termasuk Syiria. Kendati ia memiliki tingkat ilmu yang cuk ip tinggi, ia tak segan-segan mendatangi beberapa guru untuk belajar agama. Kiprahnya di bidang penyebaran agama, membuat Dzun Nun pernah ditangkap dan dipenjarakan di kota Bagdad, sekitar tahun 829 M (204 H). Penyebabnya adalah ia dituduh sebagai dalang yang telah menyebarkan bidah di dalam agama Islam. Akan tetapi, penangkapan itu tak berlangsung lama, karena tuduhan tersebut dianggap tidak terbukti.

Di dalam sebuah riwayat disebutkan, Dzun Nun Al-Mishri memiliki seorang anak perempuan yang sangat saleh seperti ayah­nya. Ketika putrinya itu masih berusia sangat belia, Dzun Nun pernah mengajaknya pergi berdua ke laut untuk menjala ikan. Sesampainya di tepi laut, Dzun Nun mulai berjalan ke dalam air laut untuk menebarkan jalanya. Sedangkan putrinya yang masih kanak-kanak itu menunggunya di tepi pantai.

Setelah beberapa lama kemudian, Dzun Nun menarik jalanya. Tampaklah seekor ikan yang cukup besar tertangkap di dalam jalanya. Dzun Nun merasa sangat gembira. Ia segera bermaksud melepaskan ikan tersebut dari jalanya dan disimpan di dalam wadah yang sudah disiapkan. Akan tetapi, putrinya segera mengambil ikan itu dan melepaskannya kembali ke dalam air laut. Ikan itu pun berenang menuju ke tengah lautan.

Diajak Bersabar

Melihat perbuatan putrinya itu, Dzun Nun menjadi terpera­ngah. "Mengapa engkau membuang ikan hasil jerih payah kita itu?" tanya Dzun Nun kepada putrinya dengan nada heran.

"Aku menyaksikan ikan itu tengah menggerak-gerakkan mulutnya. Sesungguhnya ia sedang berdzikir kepada Allah. Aku tidak mau memakan makhluk yang berdzikir kepada-Nya," jawab putrinya yang masih lugu itu dengan santai.

Dzun Nun terdiam. Ia menghela nafas seraya bergumam, "Apa lagi yang harus kita lakukan?"

Putri Dzun Nun memegang tangan ayahnya sambil berkata: "Bersabarlah, Ayah. Kita sebaiknya berserah diri kepada Allah. Sesungguhnya Allah akan memberi kita rezeki berupa sesuatu yang tidak berdzikir kepada-Nya "

Alhasil, Dzun Nun mengikuti saran putrinya. Mereka hanya duduk di tepi pantai tanpa menjala ikan lagi. Akan tetapi duduknya mereka saat itu bukan sekadar duduk seperti orang pada umumnya, melainkan sambil mengolah hati mereka agar pasrah kepada kehendak Allah.

Mereka berdua memilih melaksanakan shalat di tepi pantai itu seraya berserah diri kepada Allah. Hingga sore hari, tak ada sesuatu pun yang terjadi. Bahkan, sampai dengan waktu isya, tak ada sedikit makanan pun yang dapat mereka makan.

Dalam kondisi perut yang tengah lapar itu, tiba-tiba turun­lah sebuah baki dari langit yang berisi aneka makanan yang lezat. Bahkan, bukan hanya saat itu saja. Hidangan dari langit itu juga hadir di hadapan mereka, ketika Dzun Nun dan putri­nya sudah berada di rumah. Setiap malam, ketika telah masuk waktu isya, Dzun Nun selalu memperoleh hidangan dari langit yang sangat lezat.

Selama dua belas tahun, hidangan dari langit itu menjadi menu makan malam mereka secara terus-menerus. Sampai suatu ketika, putri Dzun Nun meninggal dunia. Malam harinya, hidangan dari langit itu pun tak kunjung datang lagi. Melihat kejadian itu, tersadarlah Dzun Nun tentang keistimewaan putrinya.

Selama dua belas tahun itu, ia mengira bahwa Allah menurunkan hidangan dari langit itu adalah karena kekhusyukan-nya dalam beribadah kepada Allah. Akan tetapi, malam itu, Dzun Nun menjadi paham dan sadar, bahwa ternyata Allah menurunkan hidangan dari langit itu bukanlah karena ibadahnya, melainkan karena rahmat Allah atas putrinya. Buktinya, setelah putrinya itu wafat, hidangan dari langit itu pun tak pernah turun lagi.


Disadur dari buku Mutiara Hikmah, Kisah Para Kekasih Allah, karya Ummi Alhan Ramadhan Mazayasyah, Penerbit Darul Hikmah,

Senin, 02 Januari 2012

4 Tahap Menuju Allah


Oleh Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah

(Disampaikan pada Tabligh Akbar pada tanggal 15 November 2011 di
Sukarami, Padang yang dihadiri oleh Syaikh Jibril, salah satu mursyid
Tariqah Naqsyabandiyah Haqqani)

Materi "Dialog tentang Ketuhanan" di Masjid Baitul Ihsan, Bank
Indonesia,

23 Desember 2011 atas kerjasama Manajemen Masjid Baitul Ikhsan

dan Tasawuf Islamic Center Indonesia.

Pembicara: Dr. Ahmad Rahman, MAg (Ahli Peneliti Utama Balitbang Kemenag
RI & Pembimbing TICI)

Moderator: Dr. Nawiruddin Dg Tola, M.Ag (Dosen UIN Syarif Hidayatullah)

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh

Asyhadu an laa ilaaha illa Allaah wa Asyhadu anna Muhammadan rasuul
Allah 3X

Segala puji bagi Allah, yang masih saja melimpahkan kasih sayang-Nya
kepada kita, yang tak jemu-jemunya, yang tak bosan-bosannya melihat
perangai kita. Namun, dengan kasih sayang-Nya, Allah kumpulkan kita di
masjid ini. Selawat dan salam atas junjungan kita Rasulullah Muhammad
Saw. Juga mari kita kirimkan surat al-Fatihah kepada orang tua kita dan
orang-orang yang telah mendahului kita, Al-Faatihah (dibacakan Tuangku
dan diikuti oleh seluruh jamaah), serta kepada guru-guru yang kita
cintai, Al-Faatihah (dibacakan Tuangku dan diikuti oleh seluruh jamaah).

Bapak-Ibu yang Allah rahmati…

Dalam dunia tariqah itu, ada empat perjalanan yang umumnya kita lewati.

Yang pertama adalah zikir atau ingat.

Yang kedua adalah rasa

Yang ketiga adalah penyaksian

Yang keempat adalah mahabbah atau cinta

Dzikir

Dzikir atau ingat. Sebaik-baik zikir adalah zikir yang melahirkan rasa
dekat kepada Allah Swt, bukan zikir yang melahirkan jumlah bilangan.
Sebaik-baik zikir yang kita laksanakan adalah bagaimana zikir itu dapat
melahirkan rasa dekat kepada Allah.

"Wahai hamba-Ku! Sesungguhnya Aku dan kamu tidak ada perantara.
Jikalau ada perantara, perantara itulah Aku." (Ilham Sirriyah, pen.)

Allah dengan manusia tiada perantara. Allah lebih dekat daripada kata
yang keluar dari lidah kita. Allah lebih dekat daripada pikiran yang
keluar dari akal kita. Dia lebih dekat daripada rasa yang keluar dari
hati kita. Mengapa kita tidak bisa merasa dekat dengan Allah? Zikir yang
melahirkan rasa dekat kepada Allah, inilah sebaik-baik zikir.

Rasa

Rasa dekat bukan tujuan kita (menuju Allah, pen.). sering bagi kalangan
sufi atau orang-orang tariqah muncul dalam dirinya rasa dekat kepada
Allah. Namun, rasa dekat kepada Allah bukan tujuan kita (para salik,
pencari Tuhan, pen.). Rasa dekat kepada Allah hanya menjadi batu
loncatan bagi kita untuk menyaksikan dari hati kita bahwasanya Allah
lebih dekat dariapda nurani kita sendiri. Rasa dekat hanya sebagai batu
loncatan. Jangan kita merasa sudah sampai sana (kepada Allah), (jangan
pula merasa inilah puncak segala-galanya!!!) Ingat, Allah bukan di dalam
rasa, tetapi Allah ada di balik rasa, di puncak rasa (yaitu, dimana
tiada lagi rasa yang dirasakan oleh seorang hamba kecuali yang ada
hanyalah Allah, termasuk tidak merasakan keberadaan dirinya sendiri,
pen.).

Rasa dekat apabila sudah sampai kepada kita, harus diiringi dengan hati
yang suci atau bersih. Apakah hati yang suci itu? Hati yang suci itu
bukan saja bebas dari penyakit hati, dan hati yang kotor bukan hati yang
berbintik-bintik. Hati yang kotor adalah hati yang masih bergantung pada
selain kepada Allah. Itulah hati yang kotor. Percuma kita sekarang ini
berzikir, belajar tariqah, merasa dekat, tetapi masih membiarkan hati
kita bergantung kepada selain Allah. Hati yang hanya bergantung kepada
Allah ialah hati yang nol, atau hati yang kosong. Yang kosong itu akan
diisi oleh Allah. Bagaimana kita akan melihat bulan di tengah hari di
saat cahaya matahari masih terik. Bila ingin melihat bulan yang sempurna
maka lihatlah di malam hari (di saat tidak ada cahaya lain selain cahaya
bulan, pen.). Hilangkan segala ketergantungan kita kecuali hanya kepada
Allah. Masalah hati kita akan diisi atau tidak itu urusan Allah. Tugas
kita hanyalah membersihkan hati kita.

Penyaksian

Sesungguhnya, ketika seseorang telah sampai pada maqam pembersihan,
dimana hijabnya sudah terbuka, maka dengan rasa dekat yang dia miliki
akan merasakan betapa nyata Tuhannya, betapa nyata Allah itu, lebih
nyata daripada dirinya sendiri. Allah lebih nyata daripada keberadaan
dirinya sendiri. Pada saat itu, Allah tetap menjadi Allah sebagai Tuhan,
dan kita tetaplah menjadi hamba, dan tidak akan pernah hamba akan
menjadi Tuhan. Ibarat benda dengan bayangannya. Benda dengan bayangannya
mustahil bercerai, tetapi juga mustahil pula benda dengan banyangannya
bersatu. Benda akan tetaplah menjadi benda dan bayangan tetaplah akan
menjadi bayangan. Begitulah kondisi antara kita dengan Allah. Jangan
menjadikan rasa dekat itu menjadi tujuan. Rasa dekat itu kita jadikan
sebagai hewan tunggangan menuju Allah.

Bapak Ibu yang Allah rahmati.

Mari, kita sepenuhnya bergantung hanya kepada Allah. Lepaskan
ketergantungan kita kepada yang lain. Bagaimana caranya? Caranya adalah
timbulkan kebutuhan kita kepada Allah. Sekarang, mari kita tanya diri
kita masing-masing. Apakah hari ini kita butuh kepada Allah? Butuh Allah
hanya di dalam shalat! Butuh Allah ketika di rumah sakit! Butuh Allah
setelah melihat saudara kita meninggal! Sedangkan para pecinta Allah,
kebutuhannya kepada Allah adalah di setiap saat. Tersandung kakinya pun
ia butuh kepada Allah. Dan orang yang bisa memiliki rasa butuh dengan
Allah hanyalah orang-orang yang benar-benar tahu betapa banyak nikmat
Allah kepada dirinya. Dia benar-benar tahu bahwa betapa lemahnya
dirinya. Namun, orang-orang yang merasa dia yang kuat, dia yang
berjalan, dia yang bergerak, tidak akan memunculkan rasa kebutuhannya
kepada Allah. Orang yang nol, orang yang kosong, orang yang benar-benar
menganggap dirinya tidak ada daya upaya, ialah yang akan menimbulkan
rasa butuh kepada Allah, yang selanjutnya akan menimbulkan rasa memiliki
Allah. Saya sering menyampaikan bahwasanya negara kita ini adalah negara
yang beragama, tapi belum bertuhan. Negara kita ini adalah negara
bertuhan, tapi belum memiliki Tuhan. Inilah tariqah dan ajaran kita,
bagaimana kita menggali agar merasa benar-benar beragama bertuhan, dan
memiliki Tuhan.

Semoga bermanfaat.

Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Tambahan dari penulis:

Cinta

Dalam beberapa majelis Tuangku, sering menyampaikan bahwa buah dari
penyaksian akan melahirkan cinta. Semakin sering berjumpa dengan Allah
maka akan melahirkan kerinduan untuk selalu berjumpa dengan-Nya. Rindu
itu adalah tiang dari cinta. Seorang hamba yang telah memiliki rasa
cinta, maka seluruh hidupnya diabdikan dan dipersembahkan kepada Allah
sebagai pembuktian cinta pada-Nya.

Transkriptor: Zubair

Diambil dari www. youtube.com

DISKUSI TENTANG KETUHANAN (MUKHATHABAH ILAHIYAH) Tasawuf Islamic
Centre Indonesia (TICI) bekerja sama dengan Manajemen Masjid Baitul
Ihsan, Bank Indonesia (MMBI) rutin diselenggarakan setiap hari Jumat
mulai pukul 17.00 WIB, dilanjutkan shalat Maghrib s/d Shalat Isya.
Bertempat di Basement Mesjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia, Jl. Budi
Kemuliaan No. 23, Jakarta Pusat,

Jumat, 02 Desember 2011

Puasa Muharram Senin 9 Muharram 1433/ 5 Des 2011


Allah swt menjadikan 4 di antara 12 bulan yang ada sebagai bulan-bulan haram, yaitu Dzulkaidah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab berdasarkan firman-Nya :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَات وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلاَ تَظْلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ

Artinya : “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu,” (QS. At-Taubah [9] : 36)

Diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Abu Bakrah dari Nabi saw bersabda, ”Zaman telah berputar seperti keadaannya pada hari Allah menciptakan langit dan bumi, setahun terdiri dari dua belas bulan dan diantaranya ada empat bulan haram, tiga bulan berturut-turut, yaitu : Dzulkaidah, Dzulhijjah dan Muharram sedangkan Rajab Mudhar berada diantara Jumadi (al akhiroh) dan Sya’ban.”

Bulan Muharram adalah salah satu bulan haram yang dianjurkan Rasulullah saw untuk banyak melakukan puasa di dalamnya berdasarkan sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurariroh berkata, ”Rasulullah saw bersabda, ’Puasa yang paling afdhol setelah bulan Ramadhan adalah bulan Allah al Muharram dan shalat yang paling afdhol setelah shalat fardhu adalah shalat malam.”

Didalam Syarhnya, Imam Nawawi mengatakan bahwa bulan ini (Muharram) adalah bulan yang paling utama untuk berpuasa.

Ada pendapat ulama yang menyebutkan bahwa yang paling utama untuk berpuasa dari bulan Muharram ini adalah sepuluh hari pertama, sebagaimana dikatakan al Mardawi didalam kitab “al Inshaf” bahwa yang paling utama dari bulan Muharram adalah hari kesepuluh atau Asyu’ra lalu hari kesembilan atau tasuua’a lalu sepuluh hari pertama.

Ibnu Rajab didalam kitab “Latha’if al Ma’arif” juga menyebutkan bahwa yang paling utama dari bulan Allah al Muharram adalah sepuluh hari pertama.’

Kemudian juga dinukil dari Abi ‘Utsman an Nahdiy berkata bahwa mereka menganggungkan sepuluh hari yang tiga, yaitu : sepuluh hari pertama bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan sepuluh hari pertama bulan Muharram.

Namun demikian tidak terdapat hadits shahih yang menjelaskan tentang keutamaan berpuasa pada sepuluh hari pertama dari bulan Muharram secara keseluruhan. (Markaz al Fatwa no. 43810)

Dan tidak pula terdapat dalil khusus yang menyebutkan bahwa berpuasa pada hari pertama (tanggal 1) dari bulan Muharram adalah sunnah akan tetapi yang di-sunnah-kan adalah memperbanyak berpuasa di bulan ini, sebagaimana penjelasan di atas. Dan jika seseorang melakukan puasa pada tanggal 1 Muharram karena anjuran memperbanyak puasa di bulan ini bukan karena kekhususan tanggal 1 Muharram maka ia telah melakukan sunnah berdasarkan hadits Abu Hurairoh di atas.

Sedangkan pada hari ke-9 (Tasuua’a) dan ke-10 (Asyura’) dari bulan Muharram maka dianjurkan bagi setiap muslim untuk melakukan puasa sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ibnu Abbas berkata, ”Sewaktu Rasulullah saw berpuasa pada hari Asyura lalu beliau saw memerintahkan (para sahabat) untuk berpuasa.” 

Para sahabat bertanya, ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.” Beliau saw menjawab, ”Untuk tahun depan, insya Allah kita berpuasa (juga) pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas berkata, ”Ternyata tahun depan tidaklah menemuinya hingga beliau saw wafat.”

Didalam Syarhnya, Imam Nawawi menyebutkan pendapat Syafi’i dan para pengikutnya, Ahmad, Ishaq dan ulama lainnya, ”Dianjurkan berpuasa pada hari ke-9 dan ke-10 sekaligus karena Nabi saw berpuasa pada hari ke-10 dan beliau saw telah berniat untuk berpuasa pada hari ke-9.

Sebagian ulama mengatakan bahwa bisa jadi sebab dari berpuasa pada hari ke-9 yang disertai hari ke-10 adalah agar tidak tasyabbuh (menyerupai) orang-orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ke-10, dan hadits diatas mengisyaratkan hal ini. (Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi juz IV hal 121)

Wallahu A’lam.


Jumat, 25 November 2011

Membeli Dunia Menjual Akhirat, Astagfirullah !!!

Sahabat seiman, Mentari telah bersinar, pertanda kesibukan hari telah dimulai kembali, siapkah pena diri tuk menggores kemuliaan..?, lihatlah, Allah telah menyediakan tintanya, kertasnya, bahkan referensi terbaik.. pantaskah bila coreng buram yang memenuhi, atau mengkoyak rusak indah lembarannya..?

Sahabat seiman, lembut firman Allah Swt menyentuh relung hati, artinya: “Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, Maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong.” (Q.S. Al Baqoroh: 86)

Sahabat seiman, apa pendapatmu bila ada yang membeli seekor lalat dengan simpanan deposito yang tak akan habis dinikmati banyak generasi..? mungkin kita terheran-heran, tetapi siapakah yang terkejut melihat orang yang berlari mengejar secuil kesenangan dunia yang sementara dengan melupakan tugasnya, dan tatkala hampir meraihnya, tak kuasa lagi diri menikmati, tak ada waktu lagi yang tersisa.., saat itu seseorang baru kan memahami bahwa ia telah merelakan miliknya yang berharga tak terhingga demi mendapatkan kecilnya dunia..

Sahabat seiman, lihatlah hari ini begitu indah, kebaikan yang ditebar melimpah ruah,apalah hebatnya jika hanya dapat menghabiskan fasilitas yang tersedia? Siapapun bisa bila hanya sekedar menikmati karunia yang telah sempurna.. Sahabat.., seharusnya kita dapat menjual dunia tuk membeli kebahagiaan akhirat.., bukan malah membeli kebahagiaan dunia dengan mengorbankan akhirat.. jangan lupakan tugas, mari ukir kemuliaan, selamat beraktifitas! (SaiBah)

*Ditulis utk Masyarakat Muslim Perkantoran oleh Bid. Pembinaan dan Dakwah Forsimpta, www.dakwahkantor.com*

sumber

Rabu, 23 November 2011

ribath adalah

“Maukah kutunjukkan kepadamu apa yang dapat menghapus dosa dan meningkatkan derajat?” Para sahabat menjawab, “Baiklah ya Rasulullah!” Beliau bersabda, “Menyempurnakan wudhu di saat kesukaran, banyaknya langkah ke masjid, menunggu sholat (berikutnya) sesudah menunaikan sholat. Itulah yang disebut ar-ribath. Itulah yang disebut ar-ribath (terikat karena menunaikan tugas).” (HR Muslim)

Hadits di atas kita dapati di dalam Riyadhus Sholihin di Bab Keutamaan Wudhu. Di dalamnya Rasulullah saw menyebutkan pentingnya ribath. Ribath biasanya dipergunakan dalam pengertian bersiap siaga menghadapi musuh namun dalam hadits di atas disebutkan bahwa menanti waktu-waktu sholat dengan bersiap dalam keadaan wudhu dan berjalan jauh ke masjid termasuk ribath. Ribath berasal dari kata robatho yang artinya mengikat.
Dalam Al Qur-an, yang dimaksud ribath adalah menyiapkan diri terikat dalam pembelaan Islam, sebagaimana firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siagalah (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (QS Ali Imraan: 200). Dalam ayat ini, Allah menggandengkan kata ribath dengan sifat shabar dan mushabaroh. Tanpa kesabaran dan memperkuat keshabaran (mushabaroh), ribath akan gagal. Shabar adalah menahan diri atas sesuatu yang tidak disukai karena mengharap ridha Allah. Sedangkan, mushabaroh artinya saling berbuat antara kedua pihak atau mengungguli musuh dalam kesabaran.
Ribath itu ada dua macam: Pertama, ribath (terikat) di front peperangan untuk membela dan menegakkan Islam. Ini lazimnya cukup ditangani oleh sebagian ummat Islam. Kedua, ribath (terikat) secara kejiwaan yaitu memelihara diri jangan sampai terjatuh ke dalam larangan Allah serta memaksa diri mengerjakan amal-amal sholeh dan membiasakannya terus menerus. Ribath ini wajib dikerjakan oleh seluruh Muslimin. Ribath jenis kedua tidak menggugurkan ribath yang pertama karena jihad membela Islam tetap berlangsung dan menjadi kewajiban Muslimin kapan pun dan di manapun manakala waktu dan kesempatannya terbuka.
Sementara itu, hadits di atas menjadi dalil bagi ribath jenis kedua ini. Karena di ujung hadits tersebut Rasulullah saw berkata, “Itulah yang disebut ar-ribath (terikat karena menunaikar tugas)”. Dengan kata lain, hadits menggambarkan betapa besarnya perhatian Rasulullah terhadap julus fi masajid (duduk di masjid). Rasulullah saw menjelaskan bahwa menghapus dosa dan meninggikan derajat dilakukan dengan memakmurkan masjid-masjid. Dengan menggunakan kata ribath, beliau memberikan perumpamaan seorang yang memakmurkan masjid tidak ubahnya sebagai mujahid yang berperang menghadapi musuh.
Berdasarkan hadits di atas yang disebut ribath dan akan menaikkan derajat serta menghapus dosa:
  1. Melakukan wudhu kendati di saat kesukaran air. Yaitu memelihara kesucian diri dengan kondisi bersiap melaksanakan sholat kapan pun dan di mana pun. Sebab, wudhu adalah diantara syarat sahnya sholat. Hal ini tergambar pada para sahabat Rasulullah yang mencintai kesuciaan dan tempat yang suci (masjid): “…Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih”. (WS At Taubah: 108)
  2. Menunggu-nunggu waktu sholat dengan penuh harap berjumpa dengan Allah.
  3. Mendatangi masjid dengan sholat berjamaah meskipun tempatnya jauh. Nabi SAW bertanya kepada malaikat Jibril as, “Wahai Jibril, tempat manakah yang paling disenangi Allah?” Jibril AS menjawab, “Masjid-masjid dan yang paling disenangi adalah yang pertama masuk dan yang paling terakhir meninggalkannya…” (HR. Muslim)
Di tengah gencarnya sekularisasi dan ghazwul fikri (pertarungan pemikiran), setiap Muslim dituntut untuk bertahan di masjid sebagai benteng akidah dan akhlak kaum Muslimin. Apalagi seorang aktivis dakwah Islam, dia bukan hanya dituntut untuk melakukan ribath, tetapi juga meramaikan masjid.
Di masjid-masjid, rahmat dan kasih sayang Allah bertaburan. Maka dengan memperbanyak duduk di masjid, Muslim berorientasi mempertahankan masyarakat Islam. Adapun pengajian di masjid akan dengan mudah dibentuk manakala masjid-masjid telah menjadi tempat ribath para aktivis.
(Ditulis oleh M. Aminullah)

Obat Hati

Hati manusia terkadang tidak stabil atau sakit seperti halnya badan.
Meskipun berbeda antara sifat maupun obatnya. Apa obat yang bisa
dipakai untuk mengobati hati yang sakit? Berikut ini kami sebutkan 8
obatnya. Semoga bermanfaat.

Pertama: al-Qur’an al-Karim.
Allah berfirman, artinya, “Hai manusia, sesungguhnya telah datang
kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit
(yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang
yang beriman.” (QS.Yunus: 57). Dia juga berfirman, artinya, “Dan Kami
turunkan dari al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman dan al-Quran itu tidaklah menambah kepada
orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. al-Isra: 82)

Ibnu Qoyyim berkata, “Inti penyakit hati itu adalah syubhat dan nafsu
syahwat. Sedangkan al-Qur’an adalah penawar bagi kedua penyakit itu,
karena di dalamnya terdapat penjelasan-penjelasan dan
argumentasi-argumentasi yang akurat, yang membedakan antara yang haq
dengan yang batil, sehingga penyakit syubhat hilang. Penyembuhan
al-Qur’an terhadap penyakit nafsu syahwat, karena di dalam al-Qur’an
terdapat hikmah, nasihat yang baik, mengajak zuhud di dunia dan lebih
mengutamakan kehidupan akhirat.”

Orang yang ingin memperbaiki hatinya hendaknya mengetahui bahwa
berobat dengan al-Qur’an itu tidak cukup hanya dengan membaca
al-Qur’an saja, tetapi harus memahami, mengambil pelajaran dan
mematuhi hukum-hukum yang terkandung di dalamnya.

Ya Allah, jadikanlah al-Qur’an itu sebagai pelipur lara, penawar hati
dan penghilang kegundahan dan kegelisahan kami. Amin.

Kedua: Cinta kepada Allah.
Cinta kepada Allah merupakan terapi yang mujarab bagi hati. Cinta
seorang hamba kepada Allah akan menjadikan hatinya tunduk kepada-Nya,
merasa tenteram tatkala mengingat-Nya, mengorbankan perasaannya demi
sang kekasihnya, yaitu Allah. Hatinya senantiasa mengharap kepada yang
dicintainya untuk memecahkan problem yang ia hadapi. Ia pun tak putus
asa dari kasih sayang-Nya. Ia yakin bahwa yang dicintainya adalah Dzat
yang tepat untuk mengadukan berbagai masalah. Ia yakin akan diberikan
solusi yang terbaik untuknya. Kecintaan kepada-Nya menyebabkan dapat
menikmati manisnya iman yang bersemayam di dalam hati.

Ketiga: Berdzikir atau mengingat Allah.
Ketidaktenteraman hati merupakan hal yang membahayakan. Allah
memberikan salah satu obat yang bisa menjadi sarana terapi keadaan
hati yang demikian. “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati
menjadi tenteram” demikianlah arti firman Allah dalam QS. ar-Ra’d :
28. Obat ini menjadikan hati seseorang hidup, terhindar dari kekerasan
dan kegelapan. Ibnu Qayyim berkata, “Segala sesuatu itu mempunyai
penerang, dan sesungguhnya penerang hati itu adalah dzikrullah
(mengingat Allah).

Suatu ketika, seorang berkata kepada Hasan al-Basri, “Wahai Abu Sa’id,
aku mengadu kepadamu, hati saya membatu.” Maka beliau menjawab,
“Lunakkanlah dengan dzikir, karena tidak ada yang dapat melunakkan
kerasnya hati yang sebanding dengan dzikrullah.” maka dari itu Allah
di dalam banyak ayat-ayat-Nya menyuruh orang-orang yang beriman agar
banyak dan sering berdzikir kepada-Nya. Seperti pada firman-Nya,
artinya, “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut
nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. al-Ahzab: 41). Nabi
kita Muhammad selalu berdzikir kepada Allah pada setiap saat,
sebagaimana dituturkan oleh istri beliau ‘Aisyah.

Keempat: Taubat nasuha dan banyak beristighfar (minta ampun).
Perhatikanlah sabda Rasulullah, “Sesungguhnya hatiku kadang keruh,
maka aku beristighfar dalam satu hari sebanyak seratus kali” (HR.
Ahmad)

Dalam hadis ini Nabi menjelaskan bahwa beliau menghilangkan kabut atau
kekeruhan hati beliau dengan istighfar, padahal dosa-dosa beliau yang
telah lalu maupun yang akan datang telah diampuni oleh Allah.
Bagaimanakah dengan kita yang banyak dosa dan banyak melakukan
kemaksiatan? Tidakkah kita lebih membutuhkan istighfar untuk hati kita
yang sakit?! Demi Allah, betapa kita semua, sangat membutuhkan
istighfar.

Kelima: Banyak berdoa dan permintaan kepada Allah untuk memperbaiki
dan membersihkan hati serta memberinya petunjuk.
Berdoa merupakan pintu utama yang agung untuk memperbaiki hati. Allah
berfirman, artinya, “Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah)
dengan tunduk me- rendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada
mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan setan pun
menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.”
(QS. al-An’am: 43).

Teladan kita yang mulia Muhammad sendiri selalu memohon kepada Allah
untuk kesucian hatinya, kokoh berjalan di atas kebenaran dan petunjuk.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dari Ummu Salamah. Ia
meriwayatkan bahwa doa Nabi yang sering beliau panjatkan ialah, “wahai
Tuhan Pembolak-balik hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu” (HR.
at-Tirmidzi)

Keenam: Sering mengingat kehidupan akhirat.
Sesungguhnya kelalaian mengingat akhirat itu adalah penghambat segala
kebaikan, kebajikan dan merupakan pemicu setiap malapetaka dan
kejahatan. Seseorang yang banyak mengingat akhirat, akan menyadarkan
dirinya bahwa kehidupan sebenarnya, yang dia hidup selama-lamanya
adalah kehidupan akhirat. Dengan demikian, hatinya lurus dalam
mengendalikan jasad. Tindak tanduknya mencerminkan amal nyata yang ia
tanam di dunia ini dengan harapan ia akan dapat menuai hasilnya yang
baik di akhirat kelak.

Ketujuh: Membaca dan mempelajari sejarah kehidupan orang-orang yang shalih.
Ini pun bisa menjadi salah satu obat bagi hati. Banyak pelajaran
tentang teguhnya hati dari hempasan badai kehidupan yang menerjang.
Siapa saja yang memperhatikan dan mempelajari kehidupan atau sejarah
suatu kaum berdasarkan pengetahuan dan penghayatan, maka niscaya
hatinya dihidupkan kembali oleh Allah dan disucikan batinnya. Itulah
sejarah dan perjalanan hidup Nabi Muhammad. Sejarah kehidupan beliau
merupakan terapi untuk mempertebal iman dan memperbaiki hati.

Kedelapan: Bersahabat dengan orang-orang shalih, bertakwa dan berbuat kebaikan.
Seseorang yang bergaul dengan orang yang bertakwa niscaya tidak
celaka. Karena mereka tidak akan mengajak selain kepada kebaikan.
Selamatlah hati dari terkontaminasi penyakit-penyakit hati.
Sebaliknya, jika Anda bersahabat dengan orang-orang yang tidak shalih,
tidak bertakwa dan tidak berbuat kebaikan, niscaya Anda akan celaka.
Mereka akan mengajak Anda untuk melakukan berbagai kejelekan yang akan
menyebabkan hati Anda menjadi kotor. Allah secara tegas berfirman,
artinya, “… dan janganlah kamu mengikuti orang-orang yang hatinya
telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya
dan adalah keadaannya itu melewati batas”(QS. al-Kahfi : 28) Maka
berupayalah untuk bersahabat dengan orang-orang yang shalih.

Demikian 8 obat untuk menyembuhkan penyakit hati. Berusahalah Anda
untuk memahami dengan baik dan mengamalkan dengan tekun, karena
sesungguhnya kebahagiaan yang hakiki itu, tidak akan dapat dicapai
kecuali dengan keselamatan dan kesucian hati. Dan tidak ada yang
sempurna, yang lebih bahagia, yang lebih baik, dan tidak ada pula yang
lebih nikmat daripada kehidupan orang-orang yang berhati bersih juga
mulia. Wallahu ‘alam bish shawab (Redaksi)

[Sumber: Disarikan dari “Shalahul Qulub”, Syaikh Dr. Khalid bin
Abdullah al-Mushlih –semoga Allah menjaganya- dengan sedikit gubahan.]