Terdengar gemercik air...
burung berkicau...
tempat yang hijau...
disepertiga bangku panjang aku memperhatikan semua ini..
seorang seniman duduk pada bangku bersama serulingnya, begitu santai... begitu syahdu dgn lantunan serulingnya.. terlihat sangat asyik menikmati hidupnya
sang mentari mulai tersenyum memberikan sinarnya... hangat terasa
disekeliling terdapat pohon yang besar lagi rindang...
pandangan mata tertuju pada rumah-rumah merpati, asyik mereka keluar masuk bersama keluarganya...
terbang dari satu dahan ke dahan berikutnya...
saat orang - orang mulai lalu lalang dengan kesibukkannya masing-masing aktifitas olah raganya
akupun mulai beranjak dari tempat duduku...
dalam hati berdecak kagum,
lirih terdengar, Subhanallah, indahnya pagi ini...
Tidak ada satupun hal yang Allah ciptakan sia-sia.
Jakarta, Sabtu pagi 24 Agustus pukul 06.07 - 07.06
Nas
Tampilkan postingan dengan label Tauhid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tauhid. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 24 Agustus 2013
Senin, 10 Desember 2012
DARI DIAM DAN HENING 5.
Adakalanya kita seperti ingin
memraktekkan cara mati sebelum mati. Tapi dengan cara seperti kita ingin
benar-benar mati. Misalnya, kita bisa saja melakukan aktivitas-aktivitas yang
sebenarnya akan merusak syaraf-syaraf otak yang sudah terbentuk itu dengan cara
menahan nafas untuk mengurangi suplai oksigen kedalam otak kita. Atau kita bisa
melakukan metoda penyiksaan diri lainnya seperti bertapa ditempat sunyi,
bermeditasi dibawah air terjun, dan dengan pemakaian obat-obatan penyebab
halusinasi lainnya seperti yang banyak dilakukan orang-orang di pedalaman rimba
Amazon Brazil. Tujuannya satu, yaitu agar kita bisa untuk beberapa saat
melepaskan diri kita dari penjara pikiran yang membelenggu kita selama ini.
Sabtu, 08 Desember 2012
DARI DIAM DAN HENING 4.
Kan ini yang menjadi masalah kita selama ini.
Kita rindu untuk bisa kembali merasakan dan mereguk indahnya kehidupan seorang
bayi. Seorang yang tidak punya rasa takut, khawatir, dan sedih sedikitpun.
Sehingga kehidupan seorang bayi adalah kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan,
kedamaian, kesejahteraan. Hidup yang aman dan sentosa. Hidup dengan semua
fasilitas makanan, minuman, pakaian, dan rumah yang terbaik dan terindah dari
orang tuanya. Hidup dimana semua orang ingin mencubitnya dengan gemas. Senyum
dan pandangan matanya menggetarkan rohani semua orang, sehingga semua orang
yang melihatnyapun dialiri oleh rasa senang yang melimpah ruah. Tangisnya
menyentuh rohani semua orang, sehingga siapapun yang mendengar tangisnya itu
akan tergopoh-gopoh ingin mengusir apa-apa yang membuatnya menangis. Kata-kata
dan kalimat-kalimat pertama yang diucapkannya sangat ditunggu-tunggu. Walaupun
kata dan kalimatnya itu masih terbata-bata. Saat dia berkata mamah, ibu, umi…,
mata ibunya akan segera saja berlinang dengan air mata sambil memeluk dan
menciumnya dengan lembut. Ketika dia panggil papah, abi, bapak…, bapaknya akan
bergetar penuh haru dan bangga. Ketika dia panggil, nenek…, kakek…, sang kakek
dan neneknya akan terkekeh penuh rasa bahagia…
DARI DIAM DAN HENING 3.
Istilah-istilah dan praktek-praktek
Yang Boleh Jadi Rancu.
Selama ini kita dibuat rancu tentang
istilah mengosongkan pikiran, istilah menjadi bayi, dan istilah menutup howo
songo. Belum lagi kalau ditambah dengan istilah-istilah yang berasal dari dunia
NLP, Hipnotherapy, Psikologi. Dunia tasawuf atau suffiyah dengan berbagai
tarekatnya cukup pula menjadi sebuah konsep yang misterius yang berada diatas
sebuah menara gading spiritualitas yang sepertinya tidak akan bisa didapatkan
oleh sembarangang orang, kecuali dengan bantuan seseorang yang katanya haruslah
bermaqam Waliyyam Mursyida yang Kamil Mukammil.
Rabu, 05 Desember 2012
DARI DIAM DAN HENING 2.
Sedikit tentang pikiran dan proses
berpikir.
Sebenarnya disini hanya ada dua entiti
saja yang saling berinteraksi, yaitu saya (kita) sebagai subjek dan sesuatu
yang lain sebagai objek. Kita dan objek itu saling terhubung oleh sebuah
“perhatian” yang sedang kita berikan. Sebuah pikiran adalah sebentuk objek yang
sedang menjadi pusat perhatian kita. Objek itu biasanya sesuatu yang dengan
mudah bisa kita kenali melalui VAKOG atau alat indera kita, yang kesemuanya
bisa kita sebut sebagai Objek Pikir saja.
Jadi yang disebut sebagai Pikiran itu adalah Objek Pikir yang sedang kita ambil perhatikan lebih terhadapnya.
Disini ada kita yang terlibat, ada
Objek Pikir sebagai pusat perhatian kita, dan ada pula Perhatian lebih yang
kita berikan terhadap Objek Pikir itu dibandingkan dengan Objek pikir lainnya.
Ketika kita sedang memberikan perhatian lebih kepada sebuah Objek Pikir, maka
kita disebut sebagai orang yang sedang berpikir. Sebaliknya, kalau kita sedang
tidak memberikan perhatian apa-apa kepada sebuah objek, maka kita juga
dikatakan sedang tidak berpikir. Itu saja kok. Sederhana kan?
DARI DIAM DAN HENING 1.
Ketika disuruh DIAM, saya hanya ikut.
Saya tidak mengajukan tanya kenapa. Berbilang hari berlalu. Lalu semua simpul
hubungan-hubungan pemikiranpun menjadi nyata…
Diam dan hening, adalah sebuah keadaan
dimana pergerakan RUHANI kita sudah tidak dihambat dan dihentikan lagi oleh
berbagai file pikiran, sebut saja objek pikir atau objek saja, yang tersimpan
didalam memori kita yang telah kita kumpulkan selama hidup kita. Berbagai objek
itu dalam ilmu NLP sering disebut dengan istilah keren sebagai objek VAKOG
(Visual. Auditory, Kinestetik, Olfactory, Gustatory), atau dalam bahasa kampung
kita disebut sebagai objek yang bisa dikenali dengan mudah oleh panca indera
kita.
Jumat, 09 Maret 2012
Tubuh bergaul dengan makhluk hati bergaul dengan khalik
Bagaimana mungkin hati akan cemerlang, bila gemerlap duniawi terpatri di dinding hati. Demikian ujar Syech ibnu athahilah Ra dalam kitab hikamnya.
Tidak sulit untuk mengetahui apakah dinding hati kita dipenuhi gemerlap dunia atau persiapan untuk akhirat. Lihatlah dibidang apa saja hati ini menjadi resah, bila hati resah karena kehilangan harta, takut tidak kebagian rezeki, berani tidak jujur demi sepeser-dua peser uang, melanggar aturan agama demi dunia.
Itu berarti dinding hati kita tidak sekedar dipenuhi gemerlap duniawi, tetapi sudah menjadi tawanan dunia. Tetapi bila keresahan kita pada shalat yang belum khusuk, bekal akhirat yang masih belum banyak, akhlak yang masih buruk, Itu pertanda hati kita berisi persiapan akhirat.
Tidak sulit untuk mengetahui apakah dinding hati kita dipenuhi gemerlap dunia atau persiapan untuk akhirat. Lihatlah dibidang apa saja hati ini menjadi resah, bila hati resah karena kehilangan harta, takut tidak kebagian rezeki, berani tidak jujur demi sepeser-dua peser uang, melanggar aturan agama demi dunia.
Itu berarti dinding hati kita tidak sekedar dipenuhi gemerlap duniawi, tetapi sudah menjadi tawanan dunia. Tetapi bila keresahan kita pada shalat yang belum khusuk, bekal akhirat yang masih belum banyak, akhlak yang masih buruk, Itu pertanda hati kita berisi persiapan akhirat.
Selasa, 17 Januari 2012
Menangisnya Kekasih Allah
Nabi Zakaria a.s., sebagai seorang utusan Allah, kerap menyampaikan ajaran-ajaran Allah kepada umatnya. Pesan-pesan yang disampaikannya senantiasa mengajak kaumnya untuk menyembah hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Namun, sebelum ia menyampaikan ayat-ayat Allah Swt. yang telah diwahyukan kepadanya, ia akan terlebih dahulu memerhatikan siapa saja yang bakal menjadi audiennya.
Apabila di antara mereka itu tidak terdapat Nabi Yahya a.s., ia akan membacakan ayat-ayat Allah yang berisi tentang ancaman siksa api neraka. Namun sebaliknya, apabila di antara audiennya itu terdapat putranya, yakni Nabi Yahya, tak sedikit pun ia menyinggung ayat-ayat yang berisi tentang ancaman siksa neraka.
Sebab, Nabi Zakaria a.s. paham betul bagaimana rentannya hati Nabi Yahya a.s. jika mendengar ayat-ayat Allah yang berisi tentang siksaan Allah Swt. Nabi Yahya a.s. selalu menangis jika mendengar ayat-ayat mengenai siksa neraka. Bahkan ia akan menyepi dan menangis sepanjang hari, sampai akhirnya ibunya datang membujuk dan menenteramkan hatinya.
Demikianlah ciri sifat Nabi Yahya a.s., sebagai tanda rasa takutnya kepada Allah dan kuatnya keimanan yang tertanam di dalam dirinya. Pernah, suatu ketika Nabi Zakaria a.s. akan menyampaikan ayat-ayat Allah kepada kaumnya. Sebagaimana yang biasa ia lakukan, ia akan memerhatikan dulu apakah di tengah orang yang hadir itu ada putranya atau tidak ada.
Setelah Nabi Zakaria a.s. memerhatikan dengan saksama tak melihat Nabi Yahya ikut hadir di situ, mulailah ia menyampaikan ajaran-ajaran Allah Taala yang telah diwahyukan kepadanya. Ia juga menyertakan ayat-ayat yang berisi ancaman siksa neraka bagi mereka yang tak mau mengikuti apa yang telah ditentukan oleh Allah. Ketika menyampaikan ayat-ayat tersebut, Nabi Zakaria a.s. sendiri juga menangis. Itu tidak lain disebabkan rasa takutnya yang amat sangat kepada Allah Rabbul ‘Izzati.
Di tengah isak tangisnya itulah, Nabi Zakaria a.s. berkata kepada kaumnya:
"Malaikat Jibril telah mengabarkan kepadaku, bahwasanya di dalam Neraka Jahanam itu terdapat sebuah gunung yang disebut Sakrana. Gunung itu berasal dari sebuah jurang yang dinamakan Ghadhban. Sedang Ghadhban itu sendiri diciptakan dari murka Allah Yang Maha Kasih Sayang."
"Pada jurang Ghadhban tersebut," lanjut beliau, "terdapat beberapa sumur api. Kedalaman masing-masing sumur itu mencapai dua ratus tahun perjalanan di bumi ini. Di dalam setiap sumur, terdapat banyak rantai dan belenggu yang terbuat dari besi."
Bersamaan dengan itu, ternyata Nabi Yahya a.s. datang dan sempat mendengar ayat-ayat yang berisi mengenai ancaman siksa neraka itu. Nabi Yahya a.s. langsung melompat keluar dari majelis dan berlari pergi seraya berteriak-teriak, "Aduh, Sakrana..., aduh
Ghadhban..." Dalam waktu yang relatif singkat, Nabi Yahya a.s. telah menghilang dari pandangan Nabi Zakaria a.s. dan orang- orang yang hadir dalam majelis itu.
Melihat hal itu, Nabi Zakaria segera mengakhiri ceramahnya dan kemudian mengajak istrinya untuk pergi mencari Nabi Yahya yang telah lari entah ke mana. Mereka bertanya kepada orang- orang yang ditemui di sepanjang jalan, apakah mereka melihat orang yang memiliki ciri-ciri seperti putranya. Namun, sebagian besar orang tak mengetahui ke mana Nabi Yahya pergi.
Hingga sore hari, mereka masih tak mengetahui keberadaan Nabi Yahya. Dalam pencarian tersebut, Nabi Zakaria dan istrinya bertemu dengan seorang penggembala yang akan pulang ke rumahnya. Setelah bertanya kepada sang penggembala itu, Nabi Zakaria memperoleh jawaban, bahwa orang yang dicarinya tengah berada di atas gunung.
"Aku tadi melihatnya di atas gunung sana. Ia menangis seraya berkata tak akan makan dan minum sampai ia mengetahui apakah tempatnya bakal di dalam surga ataukah di neraka," ujar si penggembala itu.
Segera Nabi Zakaria dan istrinya mendaki gunung yang dimaksudkan. Setibanya di atas gunung, mereka memang melihat Nabi Yahya tengah duduk berdzikir. Sebagai seorang ibu yang sangat khawatir dengan keadaan putranya, istri Nabi Zakaria berjalan mendekati Nabi Yahya.
"Anakku yang telah kukandung dan kususui, kemarilah engkau, dan ayo kita pulang bersama," bisik ibunya perlahan.
Nabi Yahya segera menunjukkan kepatuhannya kepada sang ibu. Ia segera melangkah menuju ibunya dan mengikuti ayah dan ibunya pulang ke rumah. Setelah tiba di rumah, Nabi Zakaria meminta putranya itu untuk mengganti jubahnya dengan jubah
lainnya yang lebih bagus. Nabi Yahya menurutinya. Kemudian ibunya memasak gulai untuk makanan mereka bersama.
Usai makan, Nabi Yahya langsung tertidur. Di dalam tidurnya, tiba-tiba ia bermimpi ada suara yang memanggilnya.
"Hai Yahya, apakah engkau telah mendapatkan rumah yang lebih baik dari rumah-Ku dan tetangga yang lebih baik dari tetangga-Ku?" Demikian isi suara dalam mimpinya saat itu. Nabi Yahya langsung terbangun dan menangis kembali.
Seraya masih tetap menangis, ia meminta kepada ayahnya agar mengembalikan lagi jubah miliknya yang ia pakai semula. Kemudian ia mengembalikan jubah barunya kepada ayahnya. Nabi Zakaria menuruti kehendak putranya itu. Sebab, ia tahu betul bahwa semua itu dilakukan anaknya karena rasa takutnya kepada Allah.
Tatkala ibadah mereka bertambah kuat, Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Zakaria yang berbunyi: "Sesungguhnya Aku telah mengharamkan neraka bagikalian semua" Ayat itu menjadi kabar gembira bagi keluarga Nabi Zakaria, bahwa mereka telah dijamin Allah untuk masuk ke dalam surga-Nya.
Karena kepatuhan, ketaatan dan ketakutan mereka kepada Sang Pencipta itulah, Allah kemudian memuji keluarga Nabi Zakaria dalam Al-Quran Surah Al-Anbiya` ayat 90 yang berbunyi: "Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera di dalam melakukan perbuatan-perbuatan baik, dan mereka berdoa kepada Kami dengan rasa harap dan cemas. Dan mereka termasuk orang-orang yang khusyuk kepada Kami" (QS Al-Anbiya` [21]: 90)
Disadur dari buku terbitan Darul Hikmah, karya Ummi Alhan Ramadhan Mazayasyah
Mutiara Hikmah, Kisah Para Kekasih Allah
Apabila di antara mereka itu tidak terdapat Nabi Yahya a.s., ia akan membacakan ayat-ayat Allah yang berisi tentang ancaman siksa api neraka. Namun sebaliknya, apabila di antara audiennya itu terdapat putranya, yakni Nabi Yahya, tak sedikit pun ia menyinggung ayat-ayat yang berisi tentang ancaman siksa neraka.
Sebab, Nabi Zakaria a.s. paham betul bagaimana rentannya hati Nabi Yahya a.s. jika mendengar ayat-ayat Allah yang berisi tentang siksaan Allah Swt. Nabi Yahya a.s. selalu menangis jika mendengar ayat-ayat mengenai siksa neraka. Bahkan ia akan menyepi dan menangis sepanjang hari, sampai akhirnya ibunya datang membujuk dan menenteramkan hatinya.
Demikianlah ciri sifat Nabi Yahya a.s., sebagai tanda rasa takutnya kepada Allah dan kuatnya keimanan yang tertanam di dalam dirinya. Pernah, suatu ketika Nabi Zakaria a.s. akan menyampaikan ayat-ayat Allah kepada kaumnya. Sebagaimana yang biasa ia lakukan, ia akan memerhatikan dulu apakah di tengah orang yang hadir itu ada putranya atau tidak ada.
Setelah Nabi Zakaria a.s. memerhatikan dengan saksama tak melihat Nabi Yahya ikut hadir di situ, mulailah ia menyampaikan ajaran-ajaran Allah Taala yang telah diwahyukan kepadanya. Ia juga menyertakan ayat-ayat yang berisi ancaman siksa neraka bagi mereka yang tak mau mengikuti apa yang telah ditentukan oleh Allah. Ketika menyampaikan ayat-ayat tersebut, Nabi Zakaria a.s. sendiri juga menangis. Itu tidak lain disebabkan rasa takutnya yang amat sangat kepada Allah Rabbul ‘Izzati.
Di tengah isak tangisnya itulah, Nabi Zakaria a.s. berkata kepada kaumnya:
"Malaikat Jibril telah mengabarkan kepadaku, bahwasanya di dalam Neraka Jahanam itu terdapat sebuah gunung yang disebut Sakrana. Gunung itu berasal dari sebuah jurang yang dinamakan Ghadhban. Sedang Ghadhban itu sendiri diciptakan dari murka Allah Yang Maha Kasih Sayang."
"Pada jurang Ghadhban tersebut," lanjut beliau, "terdapat beberapa sumur api. Kedalaman masing-masing sumur itu mencapai dua ratus tahun perjalanan di bumi ini. Di dalam setiap sumur, terdapat banyak rantai dan belenggu yang terbuat dari besi."
Bersamaan dengan itu, ternyata Nabi Yahya a.s. datang dan sempat mendengar ayat-ayat yang berisi mengenai ancaman siksa neraka itu. Nabi Yahya a.s. langsung melompat keluar dari majelis dan berlari pergi seraya berteriak-teriak, "Aduh, Sakrana..., aduh
Ghadhban..." Dalam waktu yang relatif singkat, Nabi Yahya a.s. telah menghilang dari pandangan Nabi Zakaria a.s. dan orang- orang yang hadir dalam majelis itu.
Melihat hal itu, Nabi Zakaria segera mengakhiri ceramahnya dan kemudian mengajak istrinya untuk pergi mencari Nabi Yahya yang telah lari entah ke mana. Mereka bertanya kepada orang- orang yang ditemui di sepanjang jalan, apakah mereka melihat orang yang memiliki ciri-ciri seperti putranya. Namun, sebagian besar orang tak mengetahui ke mana Nabi Yahya pergi.
Hingga sore hari, mereka masih tak mengetahui keberadaan Nabi Yahya. Dalam pencarian tersebut, Nabi Zakaria dan istrinya bertemu dengan seorang penggembala yang akan pulang ke rumahnya. Setelah bertanya kepada sang penggembala itu, Nabi Zakaria memperoleh jawaban, bahwa orang yang dicarinya tengah berada di atas gunung.
"Aku tadi melihatnya di atas gunung sana. Ia menangis seraya berkata tak akan makan dan minum sampai ia mengetahui apakah tempatnya bakal di dalam surga ataukah di neraka," ujar si penggembala itu.
Segera Nabi Zakaria dan istrinya mendaki gunung yang dimaksudkan. Setibanya di atas gunung, mereka memang melihat Nabi Yahya tengah duduk berdzikir. Sebagai seorang ibu yang sangat khawatir dengan keadaan putranya, istri Nabi Zakaria berjalan mendekati Nabi Yahya.
"Anakku yang telah kukandung dan kususui, kemarilah engkau, dan ayo kita pulang bersama," bisik ibunya perlahan.
Nabi Yahya segera menunjukkan kepatuhannya kepada sang ibu. Ia segera melangkah menuju ibunya dan mengikuti ayah dan ibunya pulang ke rumah. Setelah tiba di rumah, Nabi Zakaria meminta putranya itu untuk mengganti jubahnya dengan jubah
lainnya yang lebih bagus. Nabi Yahya menurutinya. Kemudian ibunya memasak gulai untuk makanan mereka bersama.
Usai makan, Nabi Yahya langsung tertidur. Di dalam tidurnya, tiba-tiba ia bermimpi ada suara yang memanggilnya.
"Hai Yahya, apakah engkau telah mendapatkan rumah yang lebih baik dari rumah-Ku dan tetangga yang lebih baik dari tetangga-Ku?" Demikian isi suara dalam mimpinya saat itu. Nabi Yahya langsung terbangun dan menangis kembali.
Seraya masih tetap menangis, ia meminta kepada ayahnya agar mengembalikan lagi jubah miliknya yang ia pakai semula. Kemudian ia mengembalikan jubah barunya kepada ayahnya. Nabi Zakaria menuruti kehendak putranya itu. Sebab, ia tahu betul bahwa semua itu dilakukan anaknya karena rasa takutnya kepada Allah.
Tatkala ibadah mereka bertambah kuat, Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Zakaria yang berbunyi: "Sesungguhnya Aku telah mengharamkan neraka bagikalian semua" Ayat itu menjadi kabar gembira bagi keluarga Nabi Zakaria, bahwa mereka telah dijamin Allah untuk masuk ke dalam surga-Nya.
Karena kepatuhan, ketaatan dan ketakutan mereka kepada Sang Pencipta itulah, Allah kemudian memuji keluarga Nabi Zakaria dalam Al-Quran Surah Al-Anbiya` ayat 90 yang berbunyi: "Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera di dalam melakukan perbuatan-perbuatan baik, dan mereka berdoa kepada Kami dengan rasa harap dan cemas. Dan mereka termasuk orang-orang yang khusyuk kepada Kami" (QS Al-Anbiya` [21]: 90)
Disadur dari buku terbitan Darul Hikmah, karya Ummi Alhan Ramadhan Mazayasyah
Mutiara Hikmah, Kisah Para Kekasih Allah
Senin, 16 Januari 2012
Putri Dzun Nun Al-Mishri
Dzun Nun menjadi paham dan sadar, bahwa ternyata Allah menurunkan hidangan dari langit itv bukanlah karena ibadahnya, melainkan karena rahmat Allah atas put rinya. Buktinya, setelah putrinya itu wafat, hidangan dari langit itu pun tak pernah turun lagi.
Dzun Nun Al-Mishri adalah salah seorang tokoh sufi dari wilayah Ikhmim di Mesir. Nama lengkapnya idalah Abu Al-Faidh Tsauban bin Ibrahim Al-Mishri. Di samping clikenal sebagai seorang tokoh sufi, Dzun Nun juga merupakan salah seorang ahli kimia dan memahami tulisan-tulisan Mesir kuno. Keahlian dalam bidang yang terakhir inilah yang kemudian membuat Dzun Nun banyak terlibat di dalam dunia sastra.
Semasa hidupnya, Dzun Nun banyak melakukan perjalanan ke berbagai daerah di wilayah Arab, termasuk Syiria. Kendati ia memiliki tingkat ilmu yang cuk ip tinggi, ia tak segan-segan mendatangi beberapa guru untuk belajar agama. Kiprahnya di bidang penyebaran agama, membuat Dzun Nun pernah ditangkap dan dipenjarakan di kota Bagdad, sekitar tahun 829 M (204 H). Penyebabnya adalah ia dituduh sebagai dalang yang telah menyebarkan bidah di dalam agama Islam. Akan tetapi, penangkapan itu tak berlangsung lama, karena tuduhan tersebut dianggap tidak terbukti.
Di dalam sebuah riwayat disebutkan, Dzun Nun Al-Mishri memiliki seorang anak perempuan yang sangat saleh seperti ayahnya. Ketika putrinya itu masih berusia sangat belia, Dzun Nun pernah mengajaknya pergi berdua ke laut untuk menjala ikan. Sesampainya di tepi laut, Dzun Nun mulai berjalan ke dalam air laut untuk menebarkan jalanya. Sedangkan putrinya yang masih kanak-kanak itu menunggunya di tepi pantai.
Setelah beberapa lama kemudian, Dzun Nun menarik jalanya. Tampaklah seekor ikan yang cukup besar tertangkap di dalam jalanya. Dzun Nun merasa sangat gembira. Ia segera bermaksud melepaskan ikan tersebut dari jalanya dan disimpan di dalam wadah yang sudah disiapkan. Akan tetapi, putrinya segera mengambil ikan itu dan melepaskannya kembali ke dalam air laut. Ikan itu pun berenang menuju ke tengah lautan.
Diajak Bersabar
Melihat perbuatan putrinya itu, Dzun Nun menjadi terperangah. "Mengapa engkau membuang ikan hasil jerih payah kita itu?" tanya Dzun Nun kepada putrinya dengan nada heran.
"Aku menyaksikan ikan itu tengah menggerak-gerakkan mulutnya. Sesungguhnya ia sedang berdzikir kepada Allah. Aku tidak mau memakan makhluk yang berdzikir kepada-Nya," jawab putrinya yang masih lugu itu dengan santai.
Dzun Nun terdiam. Ia menghela nafas seraya bergumam, "Apa lagi yang harus kita lakukan?"
Putri Dzun Nun memegang tangan ayahnya sambil berkata: "Bersabarlah, Ayah. Kita sebaiknya berserah diri kepada Allah. Sesungguhnya Allah akan memberi kita rezeki berupa sesuatu yang tidak berdzikir kepada-Nya "
Alhasil, Dzun Nun mengikuti saran putrinya. Mereka hanya duduk di tepi pantai tanpa menjala ikan lagi. Akan tetapi duduknya mereka saat itu bukan sekadar duduk seperti orang pada umumnya, melainkan sambil mengolah hati mereka agar pasrah kepada kehendak Allah.
Mereka berdua memilih melaksanakan shalat di tepi pantai itu seraya berserah diri kepada Allah. Hingga sore hari, tak ada sesuatu pun yang terjadi. Bahkan, sampai dengan waktu isya, tak ada sedikit makanan pun yang dapat mereka makan.
Dalam kondisi perut yang tengah lapar itu, tiba-tiba turunlah sebuah baki dari langit yang berisi aneka makanan yang lezat. Bahkan, bukan hanya saat itu saja. Hidangan dari langit itu juga hadir di hadapan mereka, ketika Dzun Nun dan putrinya sudah berada di rumah. Setiap malam, ketika telah masuk waktu isya, Dzun Nun selalu memperoleh hidangan dari langit yang sangat lezat.
Selama dua belas tahun, hidangan dari langit itu menjadi menu makan malam mereka secara terus-menerus. Sampai suatu ketika, putri Dzun Nun meninggal dunia. Malam harinya, hidangan dari langit itu pun tak kunjung datang lagi. Melihat kejadian itu, tersadarlah Dzun Nun tentang keistimewaan putrinya.
Selama dua belas tahun itu, ia mengira bahwa Allah menurunkan hidangan dari langit itu adalah karena kekhusyukan-nya dalam beribadah kepada Allah. Akan tetapi, malam itu, Dzun Nun menjadi paham dan sadar, bahwa ternyata Allah menurunkan hidangan dari langit itu bukanlah karena ibadahnya, melainkan karena rahmat Allah atas putrinya. Buktinya, setelah putrinya itu wafat, hidangan dari langit itu pun tak pernah turun lagi.
Disadur dari buku Mutiara Hikmah, Kisah Para Kekasih Allah, karya Ummi Alhan Ramadhan Mazayasyah, Penerbit Darul Hikmah,
Senin, 02 Januari 2012
4 Tahap Menuju Allah
Oleh Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah
(Disampaikan pada Tabligh Akbar pada tanggal 15 November 2011 di
Sukarami, Padang yang dihadiri oleh Syaikh Jibril, salah satu mursyid
Tariqah Naqsyabandiyah Haqqani)
Materi "Dialog tentang Ketuhanan" di Masjid Baitul Ihsan, Bank
Indonesia,
23 Desember 2011 atas kerjasama Manajemen Masjid Baitul Ikhsan
dan Tasawuf Islamic Center Indonesia.
Pembicara: Dr. Ahmad Rahman, MAg (Ahli Peneliti Utama Balitbang Kemenag
RI & Pembimbing TICI)
Moderator: Dr. Nawiruddin Dg Tola, M.Ag (Dosen UIN Syarif Hidayatullah)
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh
Asyhadu an laa ilaaha illa Allaah wa Asyhadu anna Muhammadan rasuul
Allah 3X
Segala puji bagi Allah, yang masih saja melimpahkan kasih sayang-Nya
kepada kita, yang tak jemu-jemunya, yang tak bosan-bosannya melihat
perangai kita. Namun, dengan kasih sayang-Nya, Allah kumpulkan kita di
masjid ini. Selawat dan salam atas junjungan kita Rasulullah Muhammad
Saw. Juga mari kita kirimkan surat al-Fatihah kepada orang tua kita dan
orang-orang yang telah mendahului kita, Al-Faatihah (dibacakan Tuangku
dan diikuti oleh seluruh jamaah), serta kepada guru-guru yang kita
cintai, Al-Faatihah (dibacakan Tuangku dan diikuti oleh seluruh jamaah).
Bapak-Ibu yang Allah rahmati…
Dalam dunia tariqah itu, ada empat perjalanan yang umumnya kita lewati.
Yang pertama adalah zikir atau ingat.
Yang kedua adalah rasa
Yang ketiga adalah penyaksian
Yang keempat adalah mahabbah atau cinta
Dzikir
Dzikir atau ingat. Sebaik-baik zikir adalah zikir yang melahirkan rasa
dekat kepada Allah Swt, bukan zikir yang melahirkan jumlah bilangan.
Sebaik-baik zikir yang kita laksanakan adalah bagaimana zikir itu dapat
melahirkan rasa dekat kepada Allah.
"Wahai hamba-Ku! Sesungguhnya Aku dan kamu tidak ada perantara.
Jikalau ada perantara, perantara itulah Aku." (Ilham Sirriyah, pen.)
Allah dengan manusia tiada perantara. Allah lebih dekat daripada kata
yang keluar dari lidah kita. Allah lebih dekat daripada pikiran yang
keluar dari akal kita. Dia lebih dekat daripada rasa yang keluar dari
hati kita. Mengapa kita tidak bisa merasa dekat dengan Allah? Zikir yang
melahirkan rasa dekat kepada Allah, inilah sebaik-baik zikir.
Rasa
Rasa dekat bukan tujuan kita (menuju Allah, pen.). sering bagi kalangan
sufi atau orang-orang tariqah muncul dalam dirinya rasa dekat kepada
Allah. Namun, rasa dekat kepada Allah bukan tujuan kita (para salik,
pencari Tuhan, pen.). Rasa dekat kepada Allah hanya menjadi batu
loncatan bagi kita untuk menyaksikan dari hati kita bahwasanya Allah
lebih dekat dariapda nurani kita sendiri. Rasa dekat hanya sebagai batu
loncatan. Jangan kita merasa sudah sampai sana (kepada Allah), (jangan
pula merasa inilah puncak segala-galanya!!!) Ingat, Allah bukan di dalam
rasa, tetapi Allah ada di balik rasa, di puncak rasa (yaitu, dimana
tiada lagi rasa yang dirasakan oleh seorang hamba kecuali yang ada
hanyalah Allah, termasuk tidak merasakan keberadaan dirinya sendiri,
pen.).
Rasa dekat apabila sudah sampai kepada kita, harus diiringi dengan hati
yang suci atau bersih. Apakah hati yang suci itu? Hati yang suci itu
bukan saja bebas dari penyakit hati, dan hati yang kotor bukan hati yang
berbintik-bintik. Hati yang kotor adalah hati yang masih bergantung pada
selain kepada Allah. Itulah hati yang kotor. Percuma kita sekarang ini
berzikir, belajar tariqah, merasa dekat, tetapi masih membiarkan hati
kita bergantung kepada selain Allah. Hati yang hanya bergantung kepada
Allah ialah hati yang nol, atau hati yang kosong. Yang kosong itu akan
diisi oleh Allah. Bagaimana kita akan melihat bulan di tengah hari di
saat cahaya matahari masih terik. Bila ingin melihat bulan yang sempurna
maka lihatlah di malam hari (di saat tidak ada cahaya lain selain cahaya
bulan, pen.). Hilangkan segala ketergantungan kita kecuali hanya kepada
Allah. Masalah hati kita akan diisi atau tidak itu urusan Allah. Tugas
kita hanyalah membersihkan hati kita.
Penyaksian
Sesungguhnya, ketika seseorang telah sampai pada maqam pembersihan,
dimana hijabnya sudah terbuka, maka dengan rasa dekat yang dia miliki
akan merasakan betapa nyata Tuhannya, betapa nyata Allah itu, lebih
nyata daripada dirinya sendiri. Allah lebih nyata daripada keberadaan
dirinya sendiri. Pada saat itu, Allah tetap menjadi Allah sebagai Tuhan,
dan kita tetaplah menjadi hamba, dan tidak akan pernah hamba akan
menjadi Tuhan. Ibarat benda dengan bayangannya. Benda dengan bayangannya
mustahil bercerai, tetapi juga mustahil pula benda dengan banyangannya
bersatu. Benda akan tetaplah menjadi benda dan bayangan tetaplah akan
menjadi bayangan. Begitulah kondisi antara kita dengan Allah. Jangan
menjadikan rasa dekat itu menjadi tujuan. Rasa dekat itu kita jadikan
sebagai hewan tunggangan menuju Allah.
Bapak Ibu yang Allah rahmati.
Mari, kita sepenuhnya bergantung hanya kepada Allah. Lepaskan
ketergantungan kita kepada yang lain. Bagaimana caranya? Caranya adalah
timbulkan kebutuhan kita kepada Allah. Sekarang, mari kita tanya diri
kita masing-masing. Apakah hari ini kita butuh kepada Allah? Butuh Allah
hanya di dalam shalat! Butuh Allah ketika di rumah sakit! Butuh Allah
setelah melihat saudara kita meninggal! Sedangkan para pecinta Allah,
kebutuhannya kepada Allah adalah di setiap saat. Tersandung kakinya pun
ia butuh kepada Allah. Dan orang yang bisa memiliki rasa butuh dengan
Allah hanyalah orang-orang yang benar-benar tahu betapa banyak nikmat
Allah kepada dirinya. Dia benar-benar tahu bahwa betapa lemahnya
dirinya. Namun, orang-orang yang merasa dia yang kuat, dia yang
berjalan, dia yang bergerak, tidak akan memunculkan rasa kebutuhannya
kepada Allah. Orang yang nol, orang yang kosong, orang yang benar-benar
menganggap dirinya tidak ada daya upaya, ialah yang akan menimbulkan
rasa butuh kepada Allah, yang selanjutnya akan menimbulkan rasa memiliki
Allah. Saya sering menyampaikan bahwasanya negara kita ini adalah negara
yang beragama, tapi belum bertuhan. Negara kita ini adalah negara
bertuhan, tapi belum memiliki Tuhan. Inilah tariqah dan ajaran kita,
bagaimana kita menggali agar merasa benar-benar beragama bertuhan, dan
memiliki Tuhan.
Semoga bermanfaat.
Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Tambahan dari penulis:
Cinta
Dalam beberapa majelis Tuangku, sering menyampaikan bahwa buah dari
penyaksian akan melahirkan cinta. Semakin sering berjumpa dengan Allah
maka akan melahirkan kerinduan untuk selalu berjumpa dengan-Nya. Rindu
itu adalah tiang dari cinta. Seorang hamba yang telah memiliki rasa
cinta, maka seluruh hidupnya diabdikan dan dipersembahkan kepada Allah
sebagai pembuktian cinta pada-Nya.
Transkriptor: Zubair
Diambil dari www. youtube.com
DISKUSI TENTANG KETUHANAN (MUKHATHABAH ILAHIYAH) Tasawuf Islamic
Centre Indonesia (TICI) bekerja sama dengan Manajemen Masjid Baitul
Ihsan, Bank Indonesia (MMBI) rutin diselenggarakan setiap hari Jumat
mulai pukul 17.00 WIB, dilanjutkan shalat Maghrib s/d Shalat Isya.
Bertempat di Basement Mesjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia, Jl. Budi
Kemuliaan No. 23, Jakarta Pusat,
(Disampaikan pada Tabligh Akbar pada tanggal 15 November 2011 di
Sukarami, Padang yang dihadiri oleh Syaikh Jibril, salah satu mursyid
Tariqah Naqsyabandiyah Haqqani)
Materi "Dialog tentang Ketuhanan" di Masjid Baitul Ihsan, Bank
Indonesia,
23 Desember 2011 atas kerjasama Manajemen Masjid Baitul Ikhsan
dan Tasawuf Islamic Center Indonesia.
Pembicara: Dr. Ahmad Rahman, MAg (Ahli Peneliti Utama Balitbang Kemenag
RI & Pembimbing TICI)
Moderator: Dr. Nawiruddin Dg Tola, M.Ag (Dosen UIN Syarif Hidayatullah)
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh
Asyhadu an laa ilaaha illa Allaah wa Asyhadu anna Muhammadan rasuul
Allah 3X
Segala puji bagi Allah, yang masih saja melimpahkan kasih sayang-Nya
kepada kita, yang tak jemu-jemunya, yang tak bosan-bosannya melihat
perangai kita. Namun, dengan kasih sayang-Nya, Allah kumpulkan kita di
masjid ini. Selawat dan salam atas junjungan kita Rasulullah Muhammad
Saw. Juga mari kita kirimkan surat al-Fatihah kepada orang tua kita dan
orang-orang yang telah mendahului kita, Al-Faatihah (dibacakan Tuangku
dan diikuti oleh seluruh jamaah), serta kepada guru-guru yang kita
cintai, Al-Faatihah (dibacakan Tuangku dan diikuti oleh seluruh jamaah).
Bapak-Ibu yang Allah rahmati…
Dalam dunia tariqah itu, ada empat perjalanan yang umumnya kita lewati.
Yang pertama adalah zikir atau ingat.
Yang kedua adalah rasa
Yang ketiga adalah penyaksian
Yang keempat adalah mahabbah atau cinta
Dzikir
Dzikir atau ingat. Sebaik-baik zikir adalah zikir yang melahirkan rasa
dekat kepada Allah Swt, bukan zikir yang melahirkan jumlah bilangan.
Sebaik-baik zikir yang kita laksanakan adalah bagaimana zikir itu dapat
melahirkan rasa dekat kepada Allah.
"Wahai hamba-Ku! Sesungguhnya Aku dan kamu tidak ada perantara.
Jikalau ada perantara, perantara itulah Aku." (Ilham Sirriyah, pen.)
Allah dengan manusia tiada perantara. Allah lebih dekat daripada kata
yang keluar dari lidah kita. Allah lebih dekat daripada pikiran yang
keluar dari akal kita. Dia lebih dekat daripada rasa yang keluar dari
hati kita. Mengapa kita tidak bisa merasa dekat dengan Allah? Zikir yang
melahirkan rasa dekat kepada Allah, inilah sebaik-baik zikir.
Rasa
Rasa dekat bukan tujuan kita (menuju Allah, pen.). sering bagi kalangan
sufi atau orang-orang tariqah muncul dalam dirinya rasa dekat kepada
Allah. Namun, rasa dekat kepada Allah bukan tujuan kita (para salik,
pencari Tuhan, pen.). Rasa dekat kepada Allah hanya menjadi batu
loncatan bagi kita untuk menyaksikan dari hati kita bahwasanya Allah
lebih dekat dariapda nurani kita sendiri. Rasa dekat hanya sebagai batu
loncatan. Jangan kita merasa sudah sampai sana (kepada Allah), (jangan
pula merasa inilah puncak segala-galanya!!!) Ingat, Allah bukan di dalam
rasa, tetapi Allah ada di balik rasa, di puncak rasa (yaitu, dimana
tiada lagi rasa yang dirasakan oleh seorang hamba kecuali yang ada
hanyalah Allah, termasuk tidak merasakan keberadaan dirinya sendiri,
pen.).
Rasa dekat apabila sudah sampai kepada kita, harus diiringi dengan hati
yang suci atau bersih. Apakah hati yang suci itu? Hati yang suci itu
bukan saja bebas dari penyakit hati, dan hati yang kotor bukan hati yang
berbintik-bintik. Hati yang kotor adalah hati yang masih bergantung pada
selain kepada Allah. Itulah hati yang kotor. Percuma kita sekarang ini
berzikir, belajar tariqah, merasa dekat, tetapi masih membiarkan hati
kita bergantung kepada selain Allah. Hati yang hanya bergantung kepada
Allah ialah hati yang nol, atau hati yang kosong. Yang kosong itu akan
diisi oleh Allah. Bagaimana kita akan melihat bulan di tengah hari di
saat cahaya matahari masih terik. Bila ingin melihat bulan yang sempurna
maka lihatlah di malam hari (di saat tidak ada cahaya lain selain cahaya
bulan, pen.). Hilangkan segala ketergantungan kita kecuali hanya kepada
Allah. Masalah hati kita akan diisi atau tidak itu urusan Allah. Tugas
kita hanyalah membersihkan hati kita.
Penyaksian
Sesungguhnya, ketika seseorang telah sampai pada maqam pembersihan,
dimana hijabnya sudah terbuka, maka dengan rasa dekat yang dia miliki
akan merasakan betapa nyata Tuhannya, betapa nyata Allah itu, lebih
nyata daripada dirinya sendiri. Allah lebih nyata daripada keberadaan
dirinya sendiri. Pada saat itu, Allah tetap menjadi Allah sebagai Tuhan,
dan kita tetaplah menjadi hamba, dan tidak akan pernah hamba akan
menjadi Tuhan. Ibarat benda dengan bayangannya. Benda dengan bayangannya
mustahil bercerai, tetapi juga mustahil pula benda dengan banyangannya
bersatu. Benda akan tetaplah menjadi benda dan bayangan tetaplah akan
menjadi bayangan. Begitulah kondisi antara kita dengan Allah. Jangan
menjadikan rasa dekat itu menjadi tujuan. Rasa dekat itu kita jadikan
sebagai hewan tunggangan menuju Allah.
Bapak Ibu yang Allah rahmati.
Mari, kita sepenuhnya bergantung hanya kepada Allah. Lepaskan
ketergantungan kita kepada yang lain. Bagaimana caranya? Caranya adalah
timbulkan kebutuhan kita kepada Allah. Sekarang, mari kita tanya diri
kita masing-masing. Apakah hari ini kita butuh kepada Allah? Butuh Allah
hanya di dalam shalat! Butuh Allah ketika di rumah sakit! Butuh Allah
setelah melihat saudara kita meninggal! Sedangkan para pecinta Allah,
kebutuhannya kepada Allah adalah di setiap saat. Tersandung kakinya pun
ia butuh kepada Allah. Dan orang yang bisa memiliki rasa butuh dengan
Allah hanyalah orang-orang yang benar-benar tahu betapa banyak nikmat
Allah kepada dirinya. Dia benar-benar tahu bahwa betapa lemahnya
dirinya. Namun, orang-orang yang merasa dia yang kuat, dia yang
berjalan, dia yang bergerak, tidak akan memunculkan rasa kebutuhannya
kepada Allah. Orang yang nol, orang yang kosong, orang yang benar-benar
menganggap dirinya tidak ada daya upaya, ialah yang akan menimbulkan
rasa butuh kepada Allah, yang selanjutnya akan menimbulkan rasa memiliki
Allah. Saya sering menyampaikan bahwasanya negara kita ini adalah negara
yang beragama, tapi belum bertuhan. Negara kita ini adalah negara
bertuhan, tapi belum memiliki Tuhan. Inilah tariqah dan ajaran kita,
bagaimana kita menggali agar merasa benar-benar beragama bertuhan, dan
memiliki Tuhan.
Semoga bermanfaat.
Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Tambahan dari penulis:
Cinta
Dalam beberapa majelis Tuangku, sering menyampaikan bahwa buah dari
penyaksian akan melahirkan cinta. Semakin sering berjumpa dengan Allah
maka akan melahirkan kerinduan untuk selalu berjumpa dengan-Nya. Rindu
itu adalah tiang dari cinta. Seorang hamba yang telah memiliki rasa
cinta, maka seluruh hidupnya diabdikan dan dipersembahkan kepada Allah
sebagai pembuktian cinta pada-Nya.
Transkriptor: Zubair
Diambil dari www. youtube.com
DISKUSI TENTANG KETUHANAN (MUKHATHABAH ILAHIYAH) Tasawuf Islamic
Centre Indonesia (TICI) bekerja sama dengan Manajemen Masjid Baitul
Ihsan, Bank Indonesia (MMBI) rutin diselenggarakan setiap hari Jumat
mulai pukul 17.00 WIB, dilanjutkan shalat Maghrib s/d Shalat Isya.
Bertempat di Basement Mesjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia, Jl. Budi
Kemuliaan No. 23, Jakarta Pusat,
Selasa, 05 April 2011
Mengenal Allah SWT
Tak kenal maka tak cinta, demikian bunyi pepatah. Banyak orang mengaku mengenal Allah, tapi mereka tidak cinta kepada Allah. Buktinya, mereka banyak melanggar perintah dan larangan Allah. Sebabnya, ternyata mereka tidak mengenal Allah dengan sebenarnya.
Sekilas, membahas persoalan bagaimana mengenal Allah bukan sesuatu yang asing. Bahkan mungkin ada yang mengatakan untuk apa hal yang demikian itu dibahas? Bukankah kita semua telah mengetahui dan mengenal pencipta kita? Bukankah kita telah mengakui itu semua?
Kalau mengenal Allah sebatas di masjid, di majlis dzikir, atau di majlis ilmu atau mengenal-Nya ketika tersandung batu, ketika mendengar kematian, atau ketika mendapatkan musibah dan mendapatkan kesenangan, barangkali akan terlontar pertanyaan demikian.
Yang dimaksud dalam pembahasan ini yaitu mengenal Allah yang akan membuahkan rasa takut kepada-Nya, tawakal, berharap, menggantungkan diri, dan ketundukan hanya kepada-Nya. Sehingga kita boleh mewujudkan segala bentuk ketaatan dan menjauhi segala apa yang dilarang oleh-Nya. Yang akan menenteramkan hati ketika orang-orang mengalami gundah-gulana dalam hidup, mendapatkan rasa aman ketika orang-orang dirundung rasa takut dan akan berani menghadapi segala macam problem hidup.
Faktanya, banyak yang mengaku mengenal Allah tetapi mereka selalu bermaksiat kepada-Nya siang dan malam. Lalu apa manfaat kita mengenal Allah kalau keadaannya demikian? Dan apa artinya kita mengenal Allah sementara kita melanggar perintah dan larangan-Nya?
Maka dari itu mari kita menyemak pembahasan tentang masalah ini, agar kita mengerti hakikat mengenal Allah dan boleh memetik buahnya dalam wujud amal.
Mengenal Allah ada empat cara iaitu mengenal wujud Allah, mengenal Rububiyah Allah, mengenal Uluhiyah Allah, dan mengenal Nama-nama dan Sifat-sifat Allah.
Keempat cara ini telah disebutkan Allah di dalam Al Qur’an dan di dalam As Sunnah baik secara global mahupun terperinci.
Ibnul Qoyyim dalam kitab Al Fawaid hal 29, mengatakan: “Allah mengajak hamba-Nya untuk mengenal diri-Nya di dalam Al Qur’an dengan dua cara yaitu pertama, melihat segala perbuatan Allah dan yang kedua, melihat dan merenungi serta menggali tanda-tanda kebesaran Allah seperti dalam firman-Nya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam terdapat (tanda-tanda kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memiliki akal.” (QS. Ali Imran: 190)
Juga dalam firman-Nya yang lain: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang, serta bahtera yang berjalan di lautan yang bermanfaat bagi manusia.” (QS. Al Baqarah: 164)
Mengenal Wujud Allah.
yaitu beriman bahawa Allah itu ada. Dan adanya Allah telah diakui oleh fitrah, akal, panca indera manusia, dan ditetapkan pula oleh syari’at.
Ketika seseorang melihat makhluk ciptaan Allah yang berbeda-beda bentuk, warna, jenis dan sebagainya, akal akan menyimpulkan adanya semuanya itu tentu ada yang mengadakannya dan tidak mungkin ada dengan sendirinya. Dan panca indera kita mengakui adanya Allah di mana kita melihat ada orang yang berdoa, menyeru Allah dan meminta sesuatu, lalu Allah mengabulkannya.
Minggu, 03 April 2011
Dampak maksiat terhadap Iman
Maksiat adalah lawan ketaatan, baik itu dalam bentuk meninggalkan perintah maupun melakukan suatu larangan. Sedangkan iman, sebagaimana telah kita ketahui adalah 70 cabang lebih, yang tertinggi adalah ucapan "la ilaha illallah" dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan di jalan.
Jadi cabang-cabang ini tidak bernilai atau berbobot sama, baik yang berupa mengerjakan (kebaikan) maupun meninggalkan (larangan). Karena itu maksiat juga berbeda-beda. Dan maksiat berarti keluar dari ketaatan. Jika ia dilakukan karena ingkar atau mendustakan maka ia bisa membatalkan iman.
Sebagaimana Allah menceritakan tentang Fir'aun dengan firmanNya: "Tetapi Fir'aun mendustakan dan mendurhakai." (An-Nazi'at: 21)
Dan terkadang maksiat itu tidak sampai pada derajat tersebut sehingga tidak membuatnya keluar dari iman, tetapi memperburuk dan mengurangi iman. Maka siapa yang melakukan dosa besar seperti berzina, mencuri, minum-minuman yang memabukkan atau sejenisnya, tetapi tanpa meyakini kehalalannya, maka hilang rasa takut, khusyu' dan cahaya dalam hatinya; sekalipun pokok pembenaran dan iman tetap ada di hatinya.
Sabtu, 02 April 2011
Makna & hakikat iman
Definisi Iman
Menurut bahasa iman berarti pembenaran hati. Sedangkan menurut istilah, iman adalah: membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan.
Ini adalah pendapat jumhur. Dan Imam Syafi'i meriwayatkan ijma para sahabat, tabi'in dan orang-orang sesudah mereka yang sezaman dengan beliau atas pengertian tersebut.
Penjelasan Definisi Iman
"Membenarkan dengan hati" maksudnya menerima segala apa yang dibawa oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam.
"Mengikrarkan dengan lisan" maksudnya, mengucapkan dua kalimah syahadat, syahadat "Laa ilaha illallahu wa anna Muhammadan Rasulullah" (Tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah).
"Mengamalkan dengan anggota badan" maksudnya, hati mengamalkan dalam bentuk keyakinan, sedang anggota badan mengamalkannya dalam bentuk ibadah-ibadah sesuai dengan fungsinya. Kaum salaf menjadikan amal termasuk dalam pengertian iman. Dengan demikian iman itu bisa bertambah dan berkurang seiring dengan bertambah dan berkurangnya amal shalih.
Ini adalah pendapat jumhur. Dan Imam Syafi'i meriwayatkan ijma para sahabat, tabi'in dan orang-orang sesudah mereka yang sezaman dengan beliau atas pengertian tersebut.
Penjelasan Definisi Iman
"Membenarkan dengan hati" maksudnya menerima segala apa yang dibawa oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam.
"Mengikrarkan dengan lisan" maksudnya, mengucapkan dua kalimah syahadat, syahadat "Laa ilaha illallahu wa anna Muhammadan Rasulullah" (Tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah).
"Mengamalkan dengan anggota badan" maksudnya, hati mengamalkan dalam bentuk keyakinan, sedang anggota badan mengamalkannya dalam bentuk ibadah-ibadah sesuai dengan fungsinya. Kaum salaf menjadikan amal termasuk dalam pengertian iman. Dengan demikian iman itu bisa bertambah dan berkurang seiring dengan bertambah dan berkurangnya amal shalih.
Selasa, 29 Maret 2011
Makna Aqidah Dan Urgensinya Sebagai Landasan Agama
oleh: Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan
Aqidah Secara Etimologi
Aqidah berasal dari kata 'aqd yang berarti pengikatan. Kalimat "Saya ber-i'tiqad begini" maksudnya: saya mengikat hati terhadap hal tersebut.
Aqidah adalah apa yang diyakini oleh seseorang. Jika dikatakan "Dia mempunyai aqidah yang benar" berarti aqidahnya bebas dari keraguan. Aqidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya kepada sesuatu.
Aqidah Secara Syara'
Yaitu iman kepada Allah, para MalaikatNya, Kitab-kitabNya, para RasulNya dan kepada Hari Akhir serta kepada qadar yang baik maupun yang buruk. Hal ini disebut juga sebagai rukun iman.
Aqidah Secara Etimologi
Aqidah berasal dari kata 'aqd yang berarti pengikatan. Kalimat "Saya ber-i'tiqad begini" maksudnya: saya mengikat hati terhadap hal tersebut.
Aqidah adalah apa yang diyakini oleh seseorang. Jika dikatakan "Dia mempunyai aqidah yang benar" berarti aqidahnya bebas dari keraguan. Aqidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya kepada sesuatu.
Aqidah Secara Syara'
Yaitu iman kepada Allah, para MalaikatNya, Kitab-kitabNya, para RasulNya dan kepada Hari Akhir serta kepada qadar yang baik maupun yang buruk. Hal ini disebut juga sebagai rukun iman.
Senin, 28 Maret 2011
Allah Maha Melihat
Seperti biasa, pagi itu saya masuk ke ruangan untuk mengajar siswa-siswa sekolah menengah atas di sebuah sekolah swasta. Di sekolah itu, saya mengampu pelajaran agama Islam. Hari itu merupakan hari pertama saya masuk, setelah seminggu para siswa melaksanaan ujian semester. Sudah menjadi kebiasaan, hari pertama masuk pasca ujian semester adalah hari pembagian lembar hasil ujian yang telah dinilai guru pengampu.
Sesaat setelah membagikan lembar hasil ujian yang telah saya nilai, saya menyampaikan beberapa patah kata kepada anak didik saya.
“Saya senang melihat nilai-nilai kalian yang bagus. Tapi, apa benar itu hasil pekerjaan kalian sendiri?”
Beraneka ragam reaksi siswa ketika saya melempar pertanyaan itu. Ada yang tersenyum, ada yang tertawa, ada yang diam dan ada juga yang menyahut dengan suara lantang, “Seratus persen pekerjaan sendiri, Pak!”
“Saya berharap seperti itu. Nilai itu kalian peroleh dari jerih payah kalian sendiri,” saya menanggapinya.
“Saya berharap seperti itu. Nilai itu kalian peroleh dari jerih payah kalian sendiri,” saya menanggapinya.
Setelah suana kelas tampak lengang, perlahan saya berdiri di hadapan siswa. Saya mengambil posisi berdiri di tengah, membelakangi papan tulis.
“Anak-anakku, dalam hidup ini kita harus jujur. Jujur kepada diri sendiri, jujur kepada orang lain dan jujur kepada Tuhan.”
Sesaat saya berhenti, sambil memperhatikan anak-anak yang diam seribu bahasa, serius mendengarkan ucapan saya.
Sesaat saya berhenti, sambil memperhatikan anak-anak yang diam seribu bahasa, serius mendengarkan ucapan saya.
“Saya tidak berprasangka buruk dengan nilai yang kalian peroleh. Tapi saya hanya ingin kalian semua jujur. Perbuatan menyontek, bertanya kepada teman di saat ujian merupakan perbuatan yang tercela. Dan jangan kalian menganggapnya sepele.”
Anak-anak tampak mulai terhanyut dengan ucapan saya. Dengan nada lirih, saya mencoba menyadarkan anak didik saya.
“Coba saya bertanya kepada kalian, seandainya saat kalian ujian, kemudian di empat sudut ruangan tempat ujian kalian ditunggui ayah, ibu, kakak dan adik kalian, apakah kalian berani untuk menyontek atau bertanya kepada teman kalian?”
“Tidak!!” Serentak jawaban mereka yang kemudian disusul suara tawa.
“Kalau kalian menjawab tidak, saya menjadi ragu akan kualitas keimanan kalian.” Celetuk saya yang mengejutkan para siswa. Salah seorang siswa yang duduk di bangku paling depan mengangkat tangannya seraya berucap, “Maaf, Pak. Kok bisa begitu?”
“Ya memang begitu. Keimanan kalian kepada Allah masih sangat minim, masih sebatas pada penglihatan mata manusia. Karena para realitanya, kalian berbuat atau tidak berbuat tergantung dilihat manusia atau tidak. Buktinya, kalian tidak akan berani menyontek saat ujian ketika ditunggui pengawas atau orang tua kalian. Jadi, intinya kalian masih belum bisa merasa bahwa ada Dzat Yang Maha Mengawasi, yaitu Allah.”
Sabtu, 26 Maret 2011
Mengenal Ilmu Tauhid
Apakah ilmu tauhid itu? Ilmu tauhid adalah ilmu yang membahas pengokohan keyakinan-keyakinan agama Islam dengan dalil-dalil naqli maupun aqli yang pasti kebenarannya sehingga dapat menghilangkan semua keraguan, ilmu yang menyingkap kebatilan orang-orang kafir, kerancuan dan kedustaan mereka. Dengan ilmu tauhid ini, jiwa kita akan kokoh, dan hati pun akan tenang dengan iman. Dinamakan ilmu tauhid karena pembahasan terpenting di dalamnya adalah tentang tauhidullah (mengesakan Allah). Allah swt. berfirman:
أَفَمَن يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ الأَلْبَابِ
“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar, sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.” (Ar-Ra’d: 19)
Bidang Pembahasan Ilmu Tauhid
Apa saja yang dibahas? Ilmu tauhid membahas enam hal, yaitu:
1. Iman kepada Allah, tauhid kepada-Nya, dan ikhlash beribadah hanya untuk-Nya tanpa sekutu apapun bentuknya.
2. Iman kepada rasul-rasul Allah para pembawa petunjuk ilahi, mengetahui sifat-sifat yang wajib dan pasti ada pada mereka seperti jujur dan amanah, mengetahui sifat-sifat yang mustahil ada pada mereka seperti dusta dan khianat, mengetahui mu’jizat dan bukti-bukti kerasulan mereka, khususnya mu’jizat dan bukti-bukti kerasulan Nabi Muhammad saw.
3. Iman kepada kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada para nabi dan rasul sebagai petunjuk bagi hamba-hamba-Nya sepanjang sejarah manusia yang panjang.
4. Iman kepada malaikat, tugas-tugas yang mereka laksanakan, dan hubungan mereka dengan manusia di dunia dan akhirat.
5. Iman kepada hari akhir, apa saja yang dipersiapkan Allah sebagai balasan bagi orang-orang mukmin (surga) maupun orang-orang kafir (neraka).
6. Iman kepada takdir Allah yang Maha Bijaksana yang mengatur dengan takdir-Nya semua yang ada di alam semesta ini.
Senin, 21 Maret 2011
32 Peringatan Bahaya SYIRIK
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabat dan seluruh pengikut mereka yang setia. Amma ba’du
إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya dan Dia akan mengampuni dosa lainnya yang berada di bawah tingkatannya bagi siapa saja yang dikehendaki oleh-Nya.” (QS. An Nisaa’: 116)
Pengertian dan Ruang lingkup Syirik
Syirik adalah menyamakan antara selain Allah dengan Allah ta’ala dalam perkara yang termasuk kategori kekhususan yang hanya dimiliki oleh Allah ta’ala saja. Kekhususan Allah itu meliputi tiga hal utama,
Pertama; hak rububiyah, seperti mencipta, mengatur alam, menguasainya, mengabulkan do’a dan lain-lain.
Kedua; hak uluhiyah, seperti berhak untuk diibadahi, menjadi tujuan do’a, permintaan tolong, permintaan perlindungan, tujuan dalam melaksanakan persembahan atau sembelihan, menjadi tujuan harapan, rasa takut dan kecintaan yang disertai dengan ketundukkan.
Ketiga, hak kesempurnaan Nama-nama dan Sifat-sifat, seperti menyandang nama Allah, Ar Rabb dan Ar Rahman, atau memiliki sifat mengetahui yang Gaib, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Mengetahui, yang tidak ada sesuatupun yang menyamai-Nya. Jadi kesyirikan itu bisa terjadi dalam hal rububiyah, uluhiyah maupun nama dan sifat-Nya.
Adapun yang sering disebut dengan syirik saja oleh para ulama maka yang dimaksud adalah syirik dalam hal uluhiyah/ibadah, dan inilah yang akan kita bicarakan sekarang. Yaitu syirik dalam hal ibadah.
Pertama; hak rububiyah, seperti mencipta, mengatur alam, menguasainya, mengabulkan do’a dan lain-lain.
Kedua; hak uluhiyah, seperti berhak untuk diibadahi, menjadi tujuan do’a, permintaan tolong, permintaan perlindungan, tujuan dalam melaksanakan persembahan atau sembelihan, menjadi tujuan harapan, rasa takut dan kecintaan yang disertai dengan ketundukkan.
Ketiga, hak kesempurnaan Nama-nama dan Sifat-sifat, seperti menyandang nama Allah, Ar Rabb dan Ar Rahman, atau memiliki sifat mengetahui yang Gaib, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Mengetahui, yang tidak ada sesuatupun yang menyamai-Nya. Jadi kesyirikan itu bisa terjadi dalam hal rububiyah, uluhiyah maupun nama dan sifat-Nya.
Adapun yang sering disebut dengan syirik saja oleh para ulama maka yang dimaksud adalah syirik dalam hal uluhiyah/ibadah, dan inilah yang akan kita bicarakan sekarang. Yaitu syirik dalam hal ibadah.
Berikut ini beberapa dalil dari Al Quran maupun As Sunnah yang hendaknya kita perhatikan dengan seksama. Dalil-dalil itu akan menggambarkan kepada kita sebuah gambaran mengerikan dan sangat menakutkan tentang dahsyatnya bahaya kesyirikan. Semoga Allah menyelamatkan diri kita darinya.
Langganan:
Postingan (Atom)