Kitab ini termasuk dalam kekayaan khazanah kitab kuning yaitu :“Qurotul uyun” dalam kitab ini tidak hanya mengajari pasangan suami istri bergaul …hingga pergaulan yang paling intim…bahkan juga memuat petunjuk -petunjuk tentang hari-hari baik untuk melaksanakan perkawinan(hal-hal baik lainnya)
PASAL PASAL Kitab Qurrotul 'uyun
pasal 1 Nikah dan Hukumnya
pasal 2 Beberapa hal yang positif dalam nikah
pasal 3 hal-hal yang perlu di upayakan dalam menikah
pasal 4 mencari waktu yang tepat untuk melakukan hubungan intim
pasal 5 sekitar penyelenggaraan pesta perkawinan(walimah)
pasal 6 tentang tata krama melakukan hubungan intim
pasal 7 tentang etika dan cara-cara yang nikmat dalam melakukan hubungan intim
pasal 8 tentang berdandan dan kesetiaan istri
pasal 9 tentang posisi,cara untuk mencapai puncak kenikmatan dan do`a dalam bersetubuh
pasal 10 tentang makanan yang perlu di jauhi saat sedang berbulan madu dan saat istri hamil
pasal 11 beberapa hal yang harus di upayakan ketika hendal melakukan hubungan intim
pasal 12 kewajiban suami terhadap istri dalam memberi nafkah bathin
pasal 13 posisi dalam bersetubuh yang perlu di hindari
pasal 14 batas-batas yang di haramkan dan di halalkan dalam hubungan intim dengan istri
pasal 15 memilih waktu yang tepat dan hal-hal lainnya yang perlu di perhatikan dalam
hubungan intim
pasal 16 tata kerama orang yang sedang junub
pasal 17 tentang tata kerama orang yang hendak bersetubuh dua kali dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam bersetubuh
pasal 18 sumai istri harus saling memuliakan dan saling menghormati
pasal 19 kewajiban suami terhadap istri dan seluruh anggota keluarganya dalam membina
rumah tangga.
pasal 20 suami dan istri wajib mendidik anaknya agar menjadi anak yang berbudi luhur
Download disini : goo.gl/XMVMK4
Tampilkan postingan dengan label nikah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nikah. Tampilkan semua postingan
Kamis, 25 September 2014
Sabtu, 07 September 2013
YAKINlah bersama PILIHANmu
Sudahkah Engkau menikah? Kataku, MeNikAh itu “Me mang Nik mat Ah !” Ya, menikah itu pun memilih. Pria siap ditolak dengan "Tidak" atau "Tindak". Wanita siap berkata tidak atau tetap tunduk pada Tindakan pria atau apa kata Papa dan Mama. Bagaimana pun prosesnya, yang telah lalu biarlah berlalu. Tapi kuhargai pilihanmu; yang dulu, yang kini, yang akan. Walau mungkin, kau dulu menikahinya bersama ragu, dan bahkan bagi sebagianmu yang sampai saat ini masih ragu, maka coba tanamkan keyakinanmu. Tanamkan saja dengan senyum terbaikmu. Mudah. Alhamdulillah.
Jangan menunggu bahagia baru engkau tersenyum, tapi tersenyumlah sebaik upaya, maka insya Allah kebahagiaan akan segera bersamamu. Bahagia itu bukan dari sana, tapi dari sini. Bukan dari harta, tapi dari hati. Bukan dari mata, tapi dari penglihatan nurani.
Sugestikan dirimu, setiap kenikmatan bangun pagi dianugerahkan kepadamu. “Ya Allah terimakasih, dia adalah pasangan terbaik yang Engkau hadirkan untukku!” Bersyukurlah dengan pilihanmu, maka kenikmatan hidupmu akan menjulang. Tak usah mengeluh, kalaulah bersyukur itu jauh lebih ampuh.
Begitu pun, jangan menunggu sukses baru engkau bersyukur, tapi bersyukurlah sebaik upaya, maka insya Allah kesuksesan akan segera bersamamu. Sukses itu bukan dari sana, tapi dari sini. Bukan dari harta, tapi dari hati. Bukan dari mata, tapi dari penglihatan nurani. La insyakartum La aziidannakum. Kalau engkau bersyukur maka Allah berjanji akan menambahkan nikmat-Nya untukmu. Bilakah Allah tak menepati janji-janji-Nya? Bersyuklurlah.
Jadi, mulai hari ini, pilihlah jangan meragu. Pilihlah jangan terus menunggu. Menunggu keyakinan yang enggan hadir dikarenakan engkau pun belum siap menyambutnya. Sambutlah keyakinanmu dengan ceria, dan pilihlah segera, sekarang juga. Cukup satu detik untuk yakin, bisa pula sepuluh tahun untuk menjadi yakin. Itu terserahmu. Keberanianmu. Yang jelas, Memilih pun harus yakin. Setidaknya engkau YAKIN bahwa memilih jauh lebih meyakinkan dari pada berdiam diri, meragu.
Kemudian, ingatlah – sekali lagi dan selalu - bahwa memilih pun harus diiringi kekuatan syukur. Tiada lebihnya jika kau memilih lalu mengeluh semisal : “Benar dugaanku, ini adalah pilihan yang salah!”. Sebab jika kau meyakini pilihanmu sebuah kesalahan, maka kau akan mendapatkan berbagai kesalahan lainnya dalam hidupmu, sebab di fana ini, kita digerakkan oleh apa yang kita yakini adanya.
Taruhlah, walaupun di kasat mata pilihan itu ternyata salah, tapi jiwamu tetap saja boleh tersenyum, sebab kau telah banyak belajar dari kesalahanmu, dan kau tetap bersyukur dengan pilihanmu. Mari berumpama : Mungkin saja kalau pilihanmu saat itu “tepat” dalam pandanganmu, maka boleh jadi sekarang kau sudah terjerumus dalam jiwa jumawa, super istidroj – dosa-dosa yang tak terasa dosa, seperti sedang dicintai-Nya, padahal Dia sedang menghukummu dengan kesenangan semu. Dan itu tentu saja jauh lebih fatal dan vital.
Sahabatku, selama engkau yakin bahwa Allah menawarkan yang terbaik dan memberikan yang terbaik, maka engkau akan mendapatkan yang terbaik. “Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku”, begitulah firmannya dalam sebuah hadist Qudsi.
Ya, seberat apapun liku menuju keterbaikan itu. Lakukan saja liku itu. Pastinya, dibalik liku ada laku, dibalik pilu ada pahala, dibalik serat ada sehat, dibalik pelik ada pelak, dibalik kelam ada kalam, dibalik frustasi ada prestasi, dibalik sukar ada sekar, dibalik duri ada dara. “Pokoknya” bersama kesulitan itu ada kemudahan. Filter kita adalah, fokuslah pada kemudahannya, insya Allah hidup kita akan dimudahkan-Nya. Mudah, Furqon, Otomatis!
"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. {TERJEMAHAN DATA SUCI Q.S. Al-A’raaf (7) : 201}
Wallahu alam
KZ
www.cahaya-semesta.com
Jangan menunggu bahagia baru engkau tersenyum, tapi tersenyumlah sebaik upaya, maka insya Allah kebahagiaan akan segera bersamamu. Bahagia itu bukan dari sana, tapi dari sini. Bukan dari harta, tapi dari hati. Bukan dari mata, tapi dari penglihatan nurani.
Sugestikan dirimu, setiap kenikmatan bangun pagi dianugerahkan kepadamu. “Ya Allah terimakasih, dia adalah pasangan terbaik yang Engkau hadirkan untukku!” Bersyukurlah dengan pilihanmu, maka kenikmatan hidupmu akan menjulang. Tak usah mengeluh, kalaulah bersyukur itu jauh lebih ampuh.
Begitu pun, jangan menunggu sukses baru engkau bersyukur, tapi bersyukurlah sebaik upaya, maka insya Allah kesuksesan akan segera bersamamu. Sukses itu bukan dari sana, tapi dari sini. Bukan dari harta, tapi dari hati. Bukan dari mata, tapi dari penglihatan nurani. La insyakartum La aziidannakum. Kalau engkau bersyukur maka Allah berjanji akan menambahkan nikmat-Nya untukmu. Bilakah Allah tak menepati janji-janji-Nya? Bersyuklurlah.
Jadi, mulai hari ini, pilihlah jangan meragu. Pilihlah jangan terus menunggu. Menunggu keyakinan yang enggan hadir dikarenakan engkau pun belum siap menyambutnya. Sambutlah keyakinanmu dengan ceria, dan pilihlah segera, sekarang juga. Cukup satu detik untuk yakin, bisa pula sepuluh tahun untuk menjadi yakin. Itu terserahmu. Keberanianmu. Yang jelas, Memilih pun harus yakin. Setidaknya engkau YAKIN bahwa memilih jauh lebih meyakinkan dari pada berdiam diri, meragu.
Kemudian, ingatlah – sekali lagi dan selalu - bahwa memilih pun harus diiringi kekuatan syukur. Tiada lebihnya jika kau memilih lalu mengeluh semisal : “Benar dugaanku, ini adalah pilihan yang salah!”. Sebab jika kau meyakini pilihanmu sebuah kesalahan, maka kau akan mendapatkan berbagai kesalahan lainnya dalam hidupmu, sebab di fana ini, kita digerakkan oleh apa yang kita yakini adanya.
Taruhlah, walaupun di kasat mata pilihan itu ternyata salah, tapi jiwamu tetap saja boleh tersenyum, sebab kau telah banyak belajar dari kesalahanmu, dan kau tetap bersyukur dengan pilihanmu. Mari berumpama : Mungkin saja kalau pilihanmu saat itu “tepat” dalam pandanganmu, maka boleh jadi sekarang kau sudah terjerumus dalam jiwa jumawa, super istidroj – dosa-dosa yang tak terasa dosa, seperti sedang dicintai-Nya, padahal Dia sedang menghukummu dengan kesenangan semu. Dan itu tentu saja jauh lebih fatal dan vital.
Sahabatku, selama engkau yakin bahwa Allah menawarkan yang terbaik dan memberikan yang terbaik, maka engkau akan mendapatkan yang terbaik. “Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku”, begitulah firmannya dalam sebuah hadist Qudsi.
Ya, seberat apapun liku menuju keterbaikan itu. Lakukan saja liku itu. Pastinya, dibalik liku ada laku, dibalik pilu ada pahala, dibalik serat ada sehat, dibalik pelik ada pelak, dibalik kelam ada kalam, dibalik frustasi ada prestasi, dibalik sukar ada sekar, dibalik duri ada dara. “Pokoknya” bersama kesulitan itu ada kemudahan. Filter kita adalah, fokuslah pada kemudahannya, insya Allah hidup kita akan dimudahkan-Nya. Mudah, Furqon, Otomatis!
"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. {TERJEMAHAN DATA SUCI Q.S. Al-A’raaf (7) : 201}
Wallahu alam
KZ
www.cahaya-semesta.com
Senin, 12 Agustus 2013
Pernikahan Nini ..eh Dini..
Beberapa waktu yang lalu, ada sahabat lajang yang bertanya perihal ini, dan minta saya membahasnya. Padahal saya cukup yakin, yang bertanya sudah cukup paham tentang hal yang ditanyakannya. Jadi saya tidak membahasnya dari sisi yang sudah dipahaminya. Tapi dari sisi lain, yang mungkin bisa menambahkan keyakinannya untuk bergerak. Insya Allah.
Intinya, bagaimana jika Anda
- Usia baru 20 tahun
- Belum punya penghasilan tetep
- Belum punya rumah
- Belum punya motor
- Masih kuliah
- Semester Tiga
- Kebelet nikah
- Mau pacaran malah nambah masalah
- Setiap hari terkenang
- Ibadah ingat dia bukan DIA
- Hidup selalu degdegan
Apa yang harus dilakukan?
Saya akan bahas dengan pendekatan PE (Prinsip Energi). Salah satu Prinsip Energi adalah bahwa Energi itu selalu bergerak dan menuju sesuatu yang JELAS/difokuskan.
Nah itu sebabnya, jika suatu KONDISI membuat Anda menjadi BERGERAK dengan TIDAK JELAS maka Anda harus membenahi kondisi tersebut. Sebab kalau Anda membiarkan ketidakjelasan dalam hidup Anda maka Anda sedang TIDAK BERSINERGI dengan SISTEM yang ada di SEMESTA. Artinya Anda akan SAKIT, MENDERITA, dan TIDAK BAHAGIA.
Hati yang SERING DEGDEGAN adalah salah satu bukti bahwa seseorang berada dalam kondisi yang tidak jelas, sehingga harus lekas-lekas memperjelas diri (menenangkan diri, menghilangkan degdegan-nya). Dan MENIKAH adalah salah satu usaha terbaik memperjelas apa yang Anda lakukan, dan akan menghadirkan ketenangan yang lebih sejati dalam kehidupan Anda. Tentu saja ketenangan yang hadir itu lebih sejati daripada Pacaran apalagi Berzina.
Atau, jika bener-bener belum mampu MENIKAH, dan Anda betul-betul yakin abis bahwa Anda belum Confident untuk menikah, maka Anda dianjurkan untuk berpuasa. Kenapa berpuasa?
Berpuasa adalah teknik mengosongkan “perut”, dimana perut adalah lambang dari hawa nafsu. Artinya berpuasa adalah teknik mengosongkan berbagai keinginan yang tidak perlu.
Dan pun, dalam Prinsip Energi (PE) yang lainnya dinyatakan bahwa Energi mengalir ke tempat yang kosong. Maka ketika Anda mengosongkan diri Anda dari berbagai keinginan yang tidak perlu maka secara otomatis energi yang perlu akan hadir dalam kehidupan Anda.
Dengan demikian, berpuasalah dengan IKHLAS, maka hasrat untuk “kesitu” akan berkurang. Karena itulah puasa dikatakan bisa menjadi BENTENG.
So, kalau kebelet nikah, nikah aja atau "untuk sementara" Puasa saja senikmat mungkin... yang penting ENERGI tetap mengalir dalam kehidupan Anda dalam kejelasan, ketenangan, dan keseimbangan yang menyemesta...
Wallahu alam
KZ
Sumber : http://cahaya-semesta.com/article/33888/pernikahan-nini-eh-dini.html
Intinya, bagaimana jika Anda
- Usia baru 20 tahun
- Belum punya penghasilan tetep
- Belum punya rumah
- Belum punya motor
- Masih kuliah
- Semester Tiga
- Kebelet nikah
- Mau pacaran malah nambah masalah
- Setiap hari terkenang
- Ibadah ingat dia bukan DIA
- Hidup selalu degdegan
Apa yang harus dilakukan?
Saya akan bahas dengan pendekatan PE (Prinsip Energi). Salah satu Prinsip Energi adalah bahwa Energi itu selalu bergerak dan menuju sesuatu yang JELAS/difokuskan.
Nah itu sebabnya, jika suatu KONDISI membuat Anda menjadi BERGERAK dengan TIDAK JELAS maka Anda harus membenahi kondisi tersebut. Sebab kalau Anda membiarkan ketidakjelasan dalam hidup Anda maka Anda sedang TIDAK BERSINERGI dengan SISTEM yang ada di SEMESTA. Artinya Anda akan SAKIT, MENDERITA, dan TIDAK BAHAGIA.
Hati yang SERING DEGDEGAN adalah salah satu bukti bahwa seseorang berada dalam kondisi yang tidak jelas, sehingga harus lekas-lekas memperjelas diri (menenangkan diri, menghilangkan degdegan-nya). Dan MENIKAH adalah salah satu usaha terbaik memperjelas apa yang Anda lakukan, dan akan menghadirkan ketenangan yang lebih sejati dalam kehidupan Anda. Tentu saja ketenangan yang hadir itu lebih sejati daripada Pacaran apalagi Berzina.
Atau, jika bener-bener belum mampu MENIKAH, dan Anda betul-betul yakin abis bahwa Anda belum Confident untuk menikah, maka Anda dianjurkan untuk berpuasa. Kenapa berpuasa?
Berpuasa adalah teknik mengosongkan “perut”, dimana perut adalah lambang dari hawa nafsu. Artinya berpuasa adalah teknik mengosongkan berbagai keinginan yang tidak perlu.
Dan pun, dalam Prinsip Energi (PE) yang lainnya dinyatakan bahwa Energi mengalir ke tempat yang kosong. Maka ketika Anda mengosongkan diri Anda dari berbagai keinginan yang tidak perlu maka secara otomatis energi yang perlu akan hadir dalam kehidupan Anda.
Dengan demikian, berpuasalah dengan IKHLAS, maka hasrat untuk “kesitu” akan berkurang. Karena itulah puasa dikatakan bisa menjadi BENTENG.
So, kalau kebelet nikah, nikah aja atau "untuk sementara" Puasa saja senikmat mungkin... yang penting ENERGI tetap mengalir dalam kehidupan Anda dalam kejelasan, ketenangan, dan keseimbangan yang menyemesta...
Wallahu alam
KZ
Sumber : http://cahaya-semesta.com/article/33888/pernikahan-nini-eh-dini.html
Sabtu, 12 Januari 2013
Nazhar, Bukan Sekedar Ta’aruf
Oleh : Salim A fillah
Engkaulah
itu minyak atar
Meskipun masih tersimpan
Dalam kuntum yang akan mekar
-Iqbal, Javid Namah-
“Seandainya kami bisa membelikan
janggut untuk Qais dengan harta kami”, kata orang-orang Anshar, “Niscaya akan
kami lakukan.” Semua sifat dan jiwa kepemimpinan memang ada pada pemuda ini.
Nasabnya juga terkemuka lagi mulia. Kecuali, ya itu tadi. Janggut. Salah satu
simbol kejantanan dalam kaumnya yang sayangnya tak dimilikinya. Wajahnya licin
dan bersih.
Namanya Qais ibn Sa’d ibn ‘Ubadah.
Ayahnya, Sa’d ibn ‘Ubadah, pemimpin suku Khazraj di Madinah. Rasulullah
menyebut keluarga ini sebagai limpahan kedermawanan. Ketika para muhajirin
datang, masing-masing orang Anshar membawa satu atau dua orang yang telah
dipersaudarakan dengan mereka ke rumahnya untuk ditanggung kehidupannya.
Kecuali Sa’d ibn ‘Ubadah. Dia membawa 80 orang muhajirin ke rumahnya!
Saat masuk Islam, Sa’d ibn ‘Ubadah
menyerahkan sang putera kepada Rasulullah. “Inilah khadam anda wahai Nabi
Allah”, ujar Sa’d. Tapi menurut Anas ibn Malik, Qais lebih pas disebut ajudan
Sang Nabi. Dan air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga. Dalam pergaulannya
di kalangan pemuda, Qais sangat royal seperti bapaknya di kalangan tua-tua. Tak
terhitung lagi sedekah dan dermanya. Tak pernah ditagihnya piutang-piutangnya.
Tak pernah diambilnya jika orang mengembalikan pinjaman padanya.
Kedermawanan Qais begitu masyhur di
kalangan muhajirin hingga menjadi bahan perbincangan. Sampai-sampai suatu hari
Abu Bakr Ash Shiddiq dan ‘Umar ibn Al Khaththab berbicara tentangnya dan
berujar, “Kalau kita biarkan terus pemuda ini dengan kedermawanannya, bisa-bisa
habis licinlah harta orangtuanya!”
Pembicaraan ini sampai juga ke telinga
sang ayah, Sa’d ibn ‘Ubadah. Apa komentarnya? Menarik sekali. “Aduhai siapa
yang dapat membela diriku terhadap Abu Bakr dan ‘Umar?!”, serunya. “Mereka
telah mengajari anakku untuk kikir dengan memperalat namaku!” Mendengarnya para
sahabat pun tertawa. Lalu Abu Bakr dan ‘Umar meminta maaf padanya.
Ah, Qais dan Sa’d. Ayah dan anak ini
sebaris di jalan cinta para pejuang. Tak ada bedanya.
♥♥♥
Inilah salah satu ciri yang menonjol
dari zaman yang mulia itu. Pewarisan karakter yang sangat kental dari para ayah
kepada para anak. Seperti dari Sa’d ibn ’Ubadah kepada Qais yang telah kita
bicarakan. Di belakang nama orang Arab selalu terderet nama ayah-ayah mereka.
Mungkin salah satu hikmahnya adalah identifikasi. Tak cuma identifikasi keturunan
siapa. Tapi juga wataknya. Kalau kau ingat bapaknya dulu punya suatu sifat
mulia, demikian pula kurang lebih anaknya.
Itulah zaman di mana orangtua
benar-benar dituakan oleh anaknya, dan mereka mendapatkan pendidikannya di
madrasah yang tanpa libur dan tanpa jeda. Di rumahnya. Tempat di mana mereka
belajar bukan hanya dari apa yang terucap, tapi apa yang dilakukan oleh ayah
bundanya. Orangtua adalah guru yang sebenar-benarnya. Mereka digugu,
ditaati karena integritas di hadapan anak-anaknya. Dan ditiru, karena memang
semua perilakunya membanggakan untuk dijadikan identitas.
Maka jadilah masyarakat itu masyarakat
yang punya tingkat saling percaya amat tinggi. Kalau kau mau menikahi Hafshah,
tak perlu berkenalan dengan Hafshah. Lihatlah saja ’Umar, bapaknya. Nah,
Hafshah kurang lebih ya seperti bapaknya. Kalau mau menikah dengan
’Aisyah, tak perlu engkau mengenal ’Aisyah. Coba perhatikan Abu Bakr. Nah,
’Aisyah tak beda jauh dengannya. Maka dalam gelar pun mereka serupa; Abu Bakr
dijuluki Ash Shiddiq, dan ’Aisyah sering dipanggil Ash Shiddiqah
binti Ash Shiddiq.
Dari sinilah saya berargumen pada
sebuah seminar pernikahan yang membuat para pesertanya nyaris tersedak. Ada
yang memberi pernyataan, ”Di dalam Islam kan tidak ada pacaran, yang ada
ta’aruf.” Kata saya, ”Ta’aruf? Tidak ada dalilnya. Tidak ada asal dan contohnya
dari Rasulullah maupun para shahabat. Ini istilah umum yang dipaksakan menjadi
istilah khusus pernikahan. Sedihnya lagi, ada yang menyalahgunakannya.
Mengganti istilah, dengan hakikat dan isi yang nyaris sama dengan pacaran. Na’udzu
billaahi min dzalik.”
Maafkan sekiranya saya berlebihan. Tapi
begitulah. Kata ta’aruf artinya ’saling mengenal’ hanya kita temukan
dalam Al Quran dalam konteks yang umum.
”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan
kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang
yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi
Maha Mengenal.” (Al Hujuraat 13)
♥♥♥
Tetapi tentu saja sebuah pernikahan
yang dimulai dengan hanya mengandalkan rasa saling percaya di dalam suatu
masyarakat menjadi penuh resiko di kelak kemudian hari. Apalagi hari ini,
ketika kita mudah oleng, tak teguh berpijak pada wahyu dan nurani. Beberapa
halaman lewat, pada tajuk Berkelana dalam Pilihan kita sudah menyimak
kisah Habibah binti Sahl yang akhirnya memilih mengajukan pisah dari suaminya,
Tsabit ibn Qais. Mengapa? Habibah mengukur kekuatan dirinya yang ia rasa takkan
sanggup bersabar atas kondisi suaminya yang menurutnya, ”Paling hitam kulitnya,
pendek tubuhnya, dan paling jelek wajahnya.”
Ya, masalahnya adalah Habibah belum
pernah melihat calon suaminya itu. Belum pernah. Sama sekali belum pernah.
Mereka baru bertemu setelah akad diikatkan oleh walinya. Sebelum berjumpa,
dalam diri Habibah muncul harapan sewajarnya akan seorang suami. Dan harapan
itu, karena ketidaksiapannya, karena ia belum pernah melihat sebelumnya,
menjadi tinggi melangit dan tak tergapai oleh kenyataan. Ia dilanda kekecewaan.
Mungkin kisahnya akan lain jika Habibah telah melihat calon suaminya sebelum
pernikahan terjadi. Ia punya waktu untuk menimbang. Ia punya waktu untuk
bersiap. Ia punya waktu untuk, kata Sang Nabi, ”Menemukan sesuatu yang menarik
hati pada dirinya.”
Dalam riwayat Imam Abu Dawud, Jabir ibn
’Abdillah mendengar Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam bersabda,
”Jika salah seorang dari kalian hendak meminang seorang perempuan, jika mampu
hendaklah ia melihatnya terlebih dahulu untuk menemukan daya tarik yang
membawanya menuju pernikahan.” Maka ketika Jabir hendak meminang, ia rahasiakan
maksudnya, dan ia melihat kepada wanita Bani Salamah yang hendak dinikahinya.
Ia menemukannya. Hal-hal yang menarik hati pada wanita itu, yang mebuatnya
memantapkan hati untuk menikahi.
Al Mughirah ibn Syu’bah Radhiyallaahu
’Anhu, sahabat Rasulullah yang masyhur karena kehidupan rumahtangganya yang
sering dilanda prahara sejak zaman jahiliah, suatu hari ingin meminang seorang
shahabiyah, seorang wanita shalihah. Maka Sang Nabi pun berkata padanya,
”Lihatlah dulu kepadanya, suapaya kehidupan kalian berdua kelak lebih
langgeng.”
Subhanallah, inilah pernikahan
terakhir Al Mughirah yang lestari hingga akhir hayatnya. Padahal sebelumnya
entah berapa puluh wanita yang pernah menemani hari-harinya. Penuh dinamika
dalam nikah dan cerai. Itu di antaranya disebabkan ia tak pernah melihat calon
isterinya sebelum mereka menikah. Maka dengan menjalani sunnah Sang Nabi, Al
Mughirah mendapatkan doa beliau, mendapatkan ikatan hati yang langgeng dan
mesra. Demikian disampaikan kepada kita oleh Imam An Nasa’i, Ibnu Majah, dan At
Tirmidzi.
Dari mereka kita belajar bahwa syari’at
mengajari kita untuk nazhar. Melihat. Melihat untuk menemukan sesuatu yang
membuat kita melangkah lebih jauh ke jalan yang diridhai Allah. Melihat untuk
menemukan sebuah ketertarikan. Itu saja. Bukan mencari aib. Bukan menyelidiki
cela. Bukan mendetailkan data-data. Lihatlah kepadanya. Itu saja. Tentu dengan
mestarikan prasangka baik kita kepada Allah, kepada diri, dan kepada sesama.
Di jalan cinta para pejuang, kita
melestarikan nilai-nilai nazhar; berbaik sangka kepada Allah, menjaga pandangan
dalam batas-batasnya, dan selalu mencari hal yang menarik. Bukan sebaliknya..
Keluarkan Kucing dari Karungnya
jangan kau kira cinta datang
dari keakraban dan pendekatan yang
tekun
cinta adalah putera dari kecocokan jiwa
dan jikalau itu tiada
cinta takkan pernah tercipta,
dalam hitungan tahun, bahkan millenia
-Kahlil Gibran-
Jika nazhar telah kita lakukan, sungguh
kita telah mengeluarkan kucing dari karungnya. Tak lagi membeli kucing dalam
karung. Karena kucing juga tak suka dimasukkan dalam karung. Karena kita juga
tak ingin menikah dengan kucing.
Tapi nazhar itu cukuplah sedikit
saja.
Adalah Malcolm Gladwell, wartawan The
New Yorker yang setelah sukses dengan buku Tipping Point-nya, lalu
berkelana penjuru Amerika untuk menulis dan merilis buku barunya, Blink: The
Power of Thinking without Thinking. Buku tentang berfikir tanpa berfikir.
Buku tentang dua detik pertama yang menentukan. Yang dengan pertimbangan dua
detik itu, keputusan yang dihasilkan seringkali jauh lebih baik dari riset yang
menjelimet. Dalam bukunya, Gladwell membentangkan puluhan riset yang kuat
validitasnya dari berbagai ilmuwan terkemuka untuk menjabarkan tesisnya.
Dua detik pertama mencerap dengan
indera itu menentukan. Mahapenting.
Sejalan dengan riset-riset yang
dibabarkan Malcolm Gladwell, Kazuo Murakami, ahli genetika peraih Max Planck
Award 1990 itu berkisah bahwa para ilmuwan yang begitu tekun belajar untuk
menguasai disiplin ilmunya hingga ke taraf ahli, acapkali tak pernah
menghasilkan penemuan besar. Justru ilmuwan yang ‘tak banyak tahu’ seringkali
menghasilkan dobrakan-dobrakan mengejutkan. Penemuan akbar.
“Mengapa terlalu banyak tahu terkadang
menghalangi kita?”, kata Murakami dalam buku The Divine Message of The DNA.
“Sebenarnya bukan informasi itu sendiri yang pada dasarnya buruk; tetapi
mengetahui lebih banyak daripada orang lain dapat membuai kita untuk
mempercayai bahwa keputusan kita lebih baik.”
Padahal seringkali dengan banyaknya
informasi membanjir, kemampuan otak kita untuk memilah mana informasi yang
berguna dan mana yang tak bermakna menjadi menurun. Otak kita bingung
menentukan prioritas. Fakta yang kita anggap penting ternyata sampah.
Sebaliknya, hal kecil yang kita remehkan justru bisa jadi adalah kunci dari
semuanya. Maka, merujuk pada Gladwell dan Murakami, kita memang tak perlu tahu
banyak hal. Cukup mengetahui yang penting saja.
Begitu juga tentang calon isteri, calon
suami, calon pasangan kita. Kita tak perlu tahu terlalu banyak. Cukup yang
penting saja.
Alkisah, seorang lelaki hendak menikah.
Maka satu hal saja yang ia persyaratkan untuk calon isterinya; memiliki tiga
kelompok binaan pengajian yang kompak padu. Ketika mereka bertemu untuk nazhar
sekaligus merencanakan pinangan, sang wanita berkata, “Maaf, saya tidak bisa
memasak.” Ini ujian Allah, batin si lelaki. Bukankah dia hanya meminta yang
memiliki binaan pengajian? Mengapa harus mundur, ketika sang calon tak bias
memasak?
“Insyaallah di Jogja banyak rumah
makan”, begitu jawabnya sambil menundukkan senyum.
“Dan saya juga tidak terbiasa mencuci.”
Kali ini senyumnya ditahan lebih dalam.
Kebangetan juga sih. Tapi ia tahu, ini ujian. Maka katanya, “Insyaallah
di Jogja banyak laundry.”
Ia, sang lelaki tahu apa yang penting.
Kejujuran. Keterbukaan. Itu sudah ditunjukkan oleh sang wanita dengan sangat
jelas, sangat ksatria. Ia berani mengakui tak bisa memasak dan tak bisa
mencuci. Tanpa diminta. Dua hal yang kadang membuat lelaki rewel. Tetapi dia
adalah lelaki yang berupaya selalu memiliki visi dan misi. Maka dia mendapatkan
sesuatu yang berharga; seorang wanita yang memiliki tiga kelompok binaan kompak
padu. Dan itu sangat berarti bagi visi dan misinya dalam membangun keluarga.
Selebihnya, siapa juga yang mencari tukang cuci dan tukang masak? Yang dia cari
adalah seorang isteri, bukan kedua macam profesi itu.
Dan tahukah anda? Setelah pernikahan
berjalan beberapa waktu, ketika merasa diterima apa adanya oleh suami tercinta,
sang isteripun mencoba memasak. Ternyata ia pandai. Hanya selama ini ia tak
pernah mencoba. Masakannya lezat, jauh melebihi harapan sederhana sang suami.
Begitu juga dalam hal-hal lain. Banyak kejutan yang diterima sang suami. Jauh
melebihi harapan-harapannya. Dulu, dia memang tak terlalu banyak tahu tentang
calon isterinya. Ia cukup mengetahui yang terpenting saja.
Dua detik itu sangat menentukan.
Mungkin karena dalam dua detik itulah ruh saling mengenal. Mereka saling
mengirim sandi. Jika sandi dikenali, mereka akan bersepakat, tanpa banyak
tanya, tanpa banyak bicara. Karena sesudah itu adalah saatnya bekerja
mewujudkan tujuan bersama. Segera. Jangan ditunda-tunda.
“Ruh-ruh itu ibarat prajurit-prajurit
yang dibaris-bariskan. Yang saling mengenal diantara mereka pasti akan saling
melembut dan menyatu. Yang tidak saling mengenal diantara mereka pasti akan
saling berbeda dan berpisah.” (HR Al Bukhari [3336] secara mu’allaq dari
’Aisyah, dan Muslim [2638], dari Abu Hurairah)
Ruh itu seperti tentara. Ada sandi di antara mereka. Jika sandi telah dikenali,
tak perlu banyak lagi yang diketahui. Cukup itu saja. Mereka akan bersepakat.
Mereka adalah sekawan dan sepihak. Mereka akan bergerak untuk satu tujuan yang
diyakini. Jadi apakah yang menjadi sandi di antara para ruh? Iman. Tentu saja.
Kadar-kadarnya akan menerbitkan gelombang dalam frekuensi yang sama. Jika tak
serupa, jika sandinya tak diterima, ia telah berbeda dan sejak awal tak hendak
menyatu.
”Iman”, kata Sayyid Quthb dalam Fii
Zhilaalil Quran, ”Adalah persepsi baru terhadap alam, apresiasi baru
terhadap keindahan, dan kehidupan di muka bumi, di atas pentas ciptaan Allah,
sepanjang malam dan siang. Dan inilah yang diperbuat keimanan. Membuka mata dan
hati. Menumbuhkan kepekaan. Menyirai kejelitaan, keserasian, dan kesempurnaan.”
Maka biarlah dia yang menjadi ratu penentu, di dua detik pertama nazhar
kita.
Di jalan cinta para pejuang, kita
melestarikan nilai-nilai nazhar; berbaik sangka kepada Allah, menjaga
pandangan dalam batas-batasnya, dan selalu mencari hal yang menarik. Bukan
sebaliknya. Di jalan cinta para pejuang, yang terpenting bukanlah seberapa
banyak engkau tahu, tapi bahwa engkau mengetahui yang memang bermakna bagimu.
Dan bahwa Allah selalu bersamamu.
kecocokan jiwa memang tak selalu sama
rumusnya
ada dua sungai besar yang bertemu dan
bermuara di laut yang satu; itu kesamaan
ada panas dan dingin bertemu untuk
mencapai kehangatan; itu keseimbangan
ada hujan lebat berjumpa tanah subur,
lalu menumbuhkan taman; itu kegenapan
tapi satu hal tetap sama
mereka cocok karena bersama
bertasbih memuji Allah
seperti segala sesuatu yang ada di
langit dan bumi, ruku’ pada keagunganNya
Menjaga, Menata, lalu Bercahaya
Oleh
: Salim A fillah
Salman
Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya
sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya.
Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan
yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut
perasaan yang halus, juga ruh yang suci.
Tapi
bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya.
Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa,
dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis
pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus
ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam
khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang
dipersaudarakan dengannya, Abud Darda’.
”Subhanallaah..
wal hamdulillaah..”, girang Abud Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum
bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah
kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah
dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.
”Saya
adalah Abud Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah
telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan
amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah
Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli
bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk
dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling
murni.
”Adalah
kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima anda berdua, shahabat
Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan
seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya
saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang
di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.
”Maafkan
kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang
bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena anda berdua yang datang, maka dengan
mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman.
Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri
kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”
Jelas
sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri
lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan
ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman.
Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut
tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan
gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang
dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.
”Allahu
Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku
serahkan pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”
♥♥♥
Tak
mudah menjadi lelaki sejantan Salman. Tak mudah menjadi sahabat setulus Abud
Darda’. Dan tak mudah menjadi wanita sejujur shahabiyah yang kelak kita kenal
sebagai Ummud Darda’. Belajar menjadi mereka adalah proses belajar untuk
menjadi orang yang benar dalam menata dan mengelola hati. Lalu merekapun
bercahaya dalam pentas sejarah. Bagaimanakah kiranya?
Ijinkan
saya mengenang seorang ulama yang berhasil mengintisarikan Ihya’ ‘Ulumiddin karya
Imam Al Ghazali. Ustadz Sa’id Hawa namanya. Dalam buku Tazkiyatun Nafs,
beliau menggambarkan pada kita proses untuk menjadi orang yang shadiq,
orang yang benar. Prosesnya ada empat, ialah sebagai berikut,
- Shidqun Niyah
Artinya
benar dalam niat. Benar dalam semburat pertama hasrat hati. Benar dalam
mengikhlaskan diri. Benar dalam menepis syak dan riya’. Benar dalam menghapus
sum’ah dan ‘ujub. Benar dalam menatap lurus ke depan tanpa mempedulikan pujian
kanan dan celaan kiri. Benar dalam kejujuran pada Allah. Benar dalam
persangkaan pada Allah. Benar dalam meneguhkan hati.
- Shidqul ‘Azm
Artinya
benar dalam tekad. Benar dalam keberanian-keberanian. Benar dalam janji-janji
pada Allah dan dirinya. Benar dalam memancang target-target diri. Benar dalam
pekik semangat. Benar dalam menemukan motivasi setiap kali. Benar dalam
mengaktivasi potensi diri. Benar dalam memikirkan langkah-langkah pasti. Benar
dalam memantapkan jiwa.
- Shidqul Iltizam
Artinya
benar dalam komitmen. Benar dalam menetapi rencana-rencana. Benar dalam
melanggengkan semangat dan tekad. Benar dalam memegang teguh nilai-nilai. Benar
dalam memaksa diri. Benar dalam bersabar atas ujian dan gangguan. Benar dalam
menghadapi tantangan dan ancaman. Benar dalam mengistiqamahkan dzikir, fikir,
dan ikhtiyar.
- Shidqul ‘Amaal
Artinya
benar dalam proses kerja. Benar dalam melakukan segalanya tanpa menabrak
pagar-pagar Ilahi. Benar dalam cara. Benar dalam metode. Benar dalam
langkah-langkah yang ditempuh. Benar dalam profesionalisme dan ihsannya amal.
Benar dalam tiap gerak anggota badan.
Nah,
mari coba kita refleksikan proses menjadi orang benar ini dalam proses menuju
pernikahan. Seperti Salman. Ia kuat memelihara aturan-aturan syar’i. Dan
mengharukan caranya mengelola hasrat hati. Insyaallah dengan demikian
keberkahan itu semakin mendekat. Jikalau Ash Shidq berarti kebenaran dan
bermakna kejujuran, maka yang pertama akan tampak sebagai gejala keberkahan
adalah di saat kita jujur dan benar dalam bersikap pada Allah dan manusia.
♥♥♥
Apa
kiat sederhana untuk menjaga hati menyambut sang kawan sejati? Dari pengalaman,
ini jawabnya: memfokuskan diri pada persiapan. Mereka yang berbakat gagal dalam
pernikahan biasanya adalah mereka yang berfokus pada “Who”. Dengan siapa.
Mereka yang insyaallah bisa melalui kehidupan pernikahan yang penuh tantangan
adalah mereka yang berfokus pada “Why” dan “How”. Mengapa dia menikah, dan
bagaimana dia meraihnya dalam kerangka ridha Allah.
Maka
jika kau ingin tahu, inilah persiapan-persiapan itu:
- Persiapan Ruhiyah (Spiritual)
Ini
meliputi kesiapan kita untuk mengubah sikap mental menjadi lebih bertanggung
jawab, sedia berbagi, meluntur ego, dan berlapang dada. Ada penekanan juga
untuk siap menggunakan dua hal dalam hidup yang nyata, yakni sabar dan syukur.
Ada kesiapan untuk tunduk dan menerima segala ketentuan Allah yang mengatur
hidup kita seutuhnya, lebih-lebih dalam rumahtangga.
- Persiapan ‘Ilmiyah-Fikriyah (Ilmu-Intelektual)
Bersiaplah
menata rumahtangga dengan pengetahuan, ilmu, dan pemahaman. Ada ilmu tentang Ad
Diin. Ada ilmu tentang berkomunikasi yang ma’ruf kepada pasangan. Ada ilmu untuk
menjadi orangtua yang baik (parenting). Ada ilmu tentang penataan ekonomi. Dan
banyak ilmu yang lain.
- Persiapan Jasadiyah (Fisik)
Jika
memiliki penyakit-penyakit, apalagi berkait dengan kesehatan reproduksi, harus
segera diikhtiyarkan penyembuhannya. Keputihan pada akhwat misalnya. Atau
gondongan (parotitis) bagi ikhwan. Karena virus yang menyerang kelenjar parotid
ini, jika tak segera diblok, bisa menyerang testis. Panu juga harus
disembuhkan, he he. Perhatikan kebersihan. Yang lain, perhatikan makanan.
Pokoknya harus halal, thayyib, dan teratur. Hapus kebiasaan jajan sembarangan.
Tentang pakaian juga, apalagi pada bagian yang paling pribadi. Kebiasaan
memakai dalaman yang terlalu ketat misalnya, berefek sangat buruk bagi kualitas
sperma. Nah.
- Persiapan Maaliyah (Material)
Konsep
awal; tugas suami adalah menafkahi, BUKAN mencari nafkah. Nah, bekerja itu
keutamaan & penegasan kepemimpinan suami. Persiapan finansial #Nikah sama
sekali TIDAK bicara tentang berapa banyak uang, rumah, & kendaraan yang
harus kita punya. Persiapan finansial bicara tentang kapabilitas menghasilkan
nafkah, wujudnya upaya untuk itu, & kemampuan mengelola sejumlah apapun ia.
Maka
memulai per nikahan, BUKAN soal apa kita sudah punya tabungan, rumah, &
kendaraan. Ia soal kompetensi & kehendak baik menafkahi. Adalah ‘Ali ibn
Abi Thalib memulai pernikahannya bukan dari nol, melainkan minus: rumah,
perabot, dan lain-lain dari sumbangan kawan dihitung hutang oleh Nabi. Tetapi
‘Ali menunjukkan diri sebagai calon suami kompeten; dia mandiri, siap bekerja
jadi kuli air dengan upah segenggam kurma.
Maka
sesudah kompetensi & kehendak menafkahi yang wujud dalam aksi bekerja
-apapun ia-, iman menuntun: pernikahan itu jalan Allah membuka kekayaan (QS 24:
32). Buatlah proyeksi nafkah rumahtangga secara ilmiah & executable. JANGAN
masukkan pertolongan Allah dalam hitungan, tapi siaplah dengan kejutanNya.
Kemapanan
itu tidak abadi. Saat belum mapan masing-masing pasangan bisa belajar untuk
menghadapi lapang maupun sempitnya kehidupan. Bahkan ketidakmapanan yang
disikapi positif menurut penelitian Linda J. Waite, signifikan memperkuat
ikatan cinta. Ketidakmapanan yang dinamis menurut penelitian Karolinska
Institute Swedia, menguatkan jantung dan meningkatkan angka harapan hidup.
- Persiapan Ijtima’iyyah (Sosial)
Artinya,
siap untuk bermasyarakat, faham bagaimana bertetangga, mengerti bagaimana
bersosialisasi dan mengambil peran di tengah masyarakat. Juga tak kalah
penting, memiliki visi dan misi da’wah di lingkungannya.
Nah,
ini semua adalah persiapan. Artinya sesuatu yang kita kerjakan dalam proses
yang tak berhenti. Seberapa banyak dari persiapan di atas yang harus dicapai
sebelum menikah? Ukurannya menjadi sangat relatif. Karena, bahkan proses
persiapan hakikatnya adalah juga proses perbaikan diri yang kita lakukan
sepanjang waktu. Setelah menikah pun, kita tetap harus terus mengasah apa-apa
yang kita sebut sebagai persiapan menikah itu. Lalu, kapan kita menikah?
Ya.
Memang harus ada parameter yang jelas. Apa? Rasulullah ternyata hanya menyebut
satu parameter di dalam hadits berikut ini. Satu saja. Coba perhatikan.
“Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian telah bermampu BA’AH,
maka hendaklah ia menikah, karena pernikahan lebih dapat menundukkan pandangan
dan menjaga kehormatan farj. Dan barangsiapa belum mampu, hendaklah ia
berpuasa, sungguh puasa itu benteng baginya.” (HR Al Bukhari dan Muslim)
Hanya
ada satu parameter saja. Apa itu? Ya, ba’ah. Apa itu ba’ah?
Sebagian ‘ulama berbeda pendapat tetapi menyepakati satu hal. Makna ba’ah yang
utama adalah kemampuan biologis, kemampuan berjima’. Adapun makna tambahannya,
menurut Imam Asy Syaukani adalah al mahru wan nafaqah, mahar dan nafkah.
Sedang menurut ‘ulama lain adalh penyediaan tempat tinggal. Tetapi, makna utamalah
yang ditekankan yakni kemampuan jima’.
Maka,
kita dapati generasi awal ummat ini menikahkan putra-putri mereka di usia muda.
Bahkan sejak mengalami ihtilam (mimpi basah) pertama kali. Sehingga,
kata Ustadz Darlis Fajar, di masa Imam Malik, Asy Syafi’i, Ahmad, tidak ada
kenakalan remaja. Lihatlah sekarang, kata beliau, ulama-ulama besar dan
tokoh-tokoh menyejarah menikah di usia belasan. Yusuf Al Qaradlawi menikah di
usia belasan, ‘Ali Ath Thanthawi juga begitu. Beliau lalu mengutip hasil sebuah
riset baru di Timur Tengah, bahwa penyebab banyaknya kerusakan moral di tengah
masyarakat adalah banyaknya bujangan dan lajang di tengah masyarakat itu.
Nah.
Selesai sudah. Seberapa pun persiapan, sesedikit apapun bekal, anda sudah
dituntut menikah kalau sudah ba’ah. Maka persiapan utama adalah komitmen.
Komitmen untuk menjadikan pernikahan sebagai perbaikan diri terus menerus. Saya
ingin menegaskan, sesudah kebenaran dan kejujuran, gejala awal dari barakah
adalah mempermudah proses dan tidak mempersulit diri, apalagi mempersulit orang
lain. Sudah berani melangkah sekarang? Apakah anda masih perlu sebuah jaminan
lagi? Baik, Allah akan memberikannya, Allah akan menggaransinya:
“Ada
tiga golongan yang wajib bagi Allah menolong mereka. Pertama, budak mukatab yang
ingin melunasi dirinya agar bisa merdeka. Dua, orang yang menikah demi menjaga
kesucian dirinya dari ma’shiat. Dan ketiga, para mujahid di jalan Allah.” (HR
At Tirmidzi, An Nasa’i, dan Ibnu Majah)
Pernah
di sebuha milis, saya juga menyentil sebuah logika kecil yang pernah
disampaikan seorang kawan lalu saya modifikasi sedikit. Apa itu? Tentang bahwa
menikah itu membuka pintu rizqi. Jadi logikanya begini. Jatah rizqi kita itu
sudah ada, sudah pasti sekian-sekian. Kita diberi pilihan-pilihan oleh Allah
untuk mengambilnya dari jalan manapun. Tetapi, ia bisa terhalang oleh beberapa
hal semisal malas, gengsi, dan ma’shiat.
Kata
‘Umar ibn Al Khaththab, pemuda yang tidak berkeinginan segera menikah itu
kemungkinannya dua. Kalau tidak banyak ma’shiatnya, pasti diragukan
kejantanannya. Nah, kebanyakan insyaallah jantan. Cuma ada ma’shiat. Ini saja
sudah menghalangi rizqi. Belum lagi gengsi dan pilih-pilih pekerjaan yang kita
alami sebelum menikah. Malu, gengsi, pilih-pilih.
Tapi
begitu menikah, anda mendapat tuntutan tanggungjawab untuk menafkahi. Bagi yang
berakal sehat, tanggungjawab ini akan menghapus gengsi dan pilih-pilih itu. Ada
kenekatan yang bertanggungjwab ditambah berkurangnya ma’shiat karena di sisi
sudah ada isteri yang Allah halalkan. Apalagi, kalau memperbanyak istighfar.
Rizqi akan datang bertubi-tubi. Seperti kata Nabi Nuh ini,
“Maka aku katakan kepada mereka: “Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya
Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan
lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu
kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Nuh
10-12)
Pernah
membayangkan punya perkebunan yang dialiri sungai-sungai pribadi? Banyaklah
beristighfar, dan segeralah menikah, insyaallah barakah. Nah, saya sudah
menyampaikan. Sekali lagi, gejala awal dari barakahnya sebuah pernikahan adalah
kejujuran ruh, terjaganya proses dalam bingkai syaria’t, dan memudahkan diri.
Ingat kata kuncinya; jujur, syar’i, mudah. Saya sudah menyampaikan, Allaahummasyhad!
Ya Allah saksikanlah! Jika masih ada ragu menyisa, pertanyaan Nabi Nuh di ayat
selanjutnya amat relevan ditelunjukkan ke arah wajah kita.
“Mengapa
kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?” (Nuh 13)
Begitulah.
Selamat menyambut kawan sejati, sepenuh cinta.
Langganan:
Postingan (Atom)