Tampilkan postingan dengan label Dahsyatnya Al-Quran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dahsyatnya Al-Quran. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 07 Juni 2014
Siapakah Ahlullah itu ?
Orang-orang yang mendapatkan julukan sebagai “Ahlullah”, adalah mereka yang memiliki kedudukan istimewa disisi Allah dan Rasul-Nya, dimuliakan di antara penduduk langit dan bumi , di hamparkan segenap rahmat –Nya dari segala penjuru mata arah dan di abadikan namanya dalam pemeliharaan-Nya yang agung.
Para ahlullah adalah mereka yang berbakti dalam pengabdian kepada Allah dengan tanpa lelah dan lengah di atas bumi-Nya, mereka adalah pelita masa dan kehidupan yang membawa cahaya ilahiyah , cahaya abadi yang lebih terang dari purnama dan surya.
Mereka mengenal Allah dalam ma’rifatnya yang kudus, kemauannya keras dan tidak gentar sedikit pun manakala menengadahkan tangan untuk memohon kepada-Nya. sekalipun tangan sang Maha pengasih tidak segera memberikan apa yang diminta, tapi mereka tetap yakin dengan sepenuh hati bahwa Allah tidak akan pernah surut bagi hamba-Nya yang mukmin , bahkan pertolongan-Nya akan datang secara berantai, kasih sayang dan pemberian-Nya akan tertuang tanpa batas dan akan segera turun sebelum lisan terkatup dari do’a.
Mereka merupakan pribadi yang tangguh dalam menjalani hidup , tidak mudah mengeluh terhadap keprihatinan dan kepahitan, apalagi merasa kecewa dan berputus asa dari rahmat Allah SWT hanya karena musibah demi musibah yang mereka terima. sebab mereka memiliki mutiara hidup dan harta paling berharga dari semua yang ada di bumi, yaitu “kekayaan hati”.
Lantas siapakah sesungguhnya “Ahlullah” itu?
Coba kita perhatikan hadist berikut ini :
Dari Anas ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda :
Senin, 12 Agustus 2013
Menghafal al-Quran, Siapa Takut?
Jadikan motivasi satu-satunya menghafal al-Quran, yakni mendapatkan keridhaan-Nya. Bukan berorientasi pada ketenaran, popularitas
SALAH satu garansi langsung dari Allah Subhanahu Wata’ala adalah, al-Quran sangat mudah dibaca dan dihafalkan. Sehingga, tak ada alasan seseorang untuk mangkir dan berpaling dari belajar membaca al-Quran. Terlebih, berdalih susah lalu tidak menghafalnya. Ini sesuai dengan janji Allah dalam firman;
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ
“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?.” (QS: al-Qamar [54]: 17).
Sekarang, mari kita kalkulasikan bersama. Jika Anda menghafal satu hari satu ayat secara konsisten, Anda akan bisa rampung menghafalnya selama 17 tahun, tujuh bulan, dan sembilan hari.
Ini bila dengan asumsi jumlah ayat mengikuti pendapat mayoritas ulama Makkah yaitu lebih dari 6220 ayat. Perinciannya sebagai berikut: 17 x 360 hari = 6120 hari. Jumlah itu ditambah tujuh bulan sembilan hari. Totalnya 6339 hari.
Jika dua hari dua ayat, maka hafalan tersebut akan kelar selama delapan tahun, sembilan bulan, dan 18 hari. Jika proses itu dijalani, tak akan terasa.
Ketahuilah, para penghafal al-Quran, mengemban misi dan tugas yang mulia. Mereka akan mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat kelak. Secara tegas, Allah memuliakan para hafidz itu melalui lisan Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam.
Penghafal Kitab Suci itu, seperti dinukilkan Imam at Tirmidzi dalam riwayatnya, “akan berhias dengan mahkota kemuliaan.” Ini karena Sang Khaliq memberikan keridhaan pada yang bersangkutan. Kebaikannya pun akan bertambah, tiap kali melantunkan satu ayat.
Para penghafal al-Quran, seperti ditegaskan pula di hadis riwayat Ahmad, adalah ‘keluarga’ Allah di muka bumi. Keutamaan inilah, yang mendorong Rasul memuliakan para sahabat penghafal al-Quran.
Ketika perang Uhud meletus, tak sedikit sahabat yang gugur dalam pertarungan itu. Rasulullah selalu mendahulukan para penghafal al-Quran untuk dimakamkan lebih dulu.
“Manakah di antara mereka yang hafal Al-Quran?,” demikian jawaban Rasul atas pertanyaan Sahabat.
Semasa Rasul hidup, gairah menghafal al-Quran di kalangan Sahabat sangatlah tinggi. Tak terkecuali para pemuda. Ada sederet nama kawula muda ketika itu yang menghafal al-Quran seperti Amar bin Salamah, al-Barra’ bin ‘Azib, dan Zaid bin Haritsah.
Sahabat Zaid bin Tsabit yang berusia belia saat itu, bahkan masuk ke dalam daftar Sahabat pencatat wahyu. Di masa Khalifah Abu Bakar, Zaid dilibatkan pula proyek kodifikasi al-Quran.
Akan tetapi, terdapat poin penting yang mesti ditekankan para penghafal al-Quran. Mereka mesti mengikuti sejumlah aturan dan etika agar proses menghafal mendapatkan keberkahan dari-Nya. Syeikh Qahthan Birqadar, memaparkan sejumlah fondasi dasar yang harus diperkokoh para penghafal al-Quran.
Yang paling utama ialah meluruskan niat. Jadikan motivasi satu-satunya menghafal al-Quran, yakni mendapatkan keridhaan-Nya. Bukan berorientasi pada ketenaran, popularitas, yang berkelindan dengan melimpah ruahnya materi. “Niat duniawi tak akan berbuah manis,” tulisnya.
Lihatlah, kisah yang tertuang di hadis riwayat Muslim. Mereka yang belajar dan mengajarkan Kitab Samawi itu, harus menerima siksa lantaran tujuannya hanya ingin dielu-elukan manusia.
Kedua, Syeikh Qahthan mengingatkan, agar menyempurnakan proyek hafalan itu dengan praktik dan pengamalan al-Quran. Amalkan ajaran, nilai, dan etika yang terkandung di dalamnya. Jadilah hafidz (penghafal) yang pionir dan selalu terdepan soal akhlak dan moralitas.
Ketiga, tetap tawadhu dan tidak sombong di hadapan orang lain. Ingatlah, Al-Quran akan menjadi saksi kita kelak di akhirat. “Al-Quran adalah saksi atats kebaikan atau keburukanmu,”sabda Rasulullah di hadis Muslim.
Keempat, tetaplah konsisten mengulang-ulang hafalan (muraja’ah). Ini agar anugerah berupa hafalan yang diberikan Allah, tidak sirna begitu saja. Proses mengulang dan menjaga hafalan, justru lebih berat dibandingkan menghafal itu sendiri.
Sebuah hadits riwayat Bukhari Muslim menyatakan hal itu. Rasul pernah menyerukan agar tetap menjaga hafalan al-Quran. “Memelihara hafalan lebih berat ketimbang mengikat seekor unta,”ujar Nabi.
Ada banyak media yang bisa dilakukan untuk proses muraja’ah. Mulai dari menjadi imam shalat, mendengarkan tilawah melalui mp3, saling bertukar bacaan, dan sebagainya. Tentu, ini akan lebih utama dan ditekankan dengan bimbingan guru yang berkompeten.*/
SALAH satu garansi langsung dari Allah Subhanahu Wata’ala adalah, al-Quran sangat mudah dibaca dan dihafalkan. Sehingga, tak ada alasan seseorang untuk mangkir dan berpaling dari belajar membaca al-Quran. Terlebih, berdalih susah lalu tidak menghafalnya. Ini sesuai dengan janji Allah dalam firman;
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ
“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?.” (QS: al-Qamar [54]: 17).
Sekarang, mari kita kalkulasikan bersama. Jika Anda menghafal satu hari satu ayat secara konsisten, Anda akan bisa rampung menghafalnya selama 17 tahun, tujuh bulan, dan sembilan hari.
Ini bila dengan asumsi jumlah ayat mengikuti pendapat mayoritas ulama Makkah yaitu lebih dari 6220 ayat. Perinciannya sebagai berikut: 17 x 360 hari = 6120 hari. Jumlah itu ditambah tujuh bulan sembilan hari. Totalnya 6339 hari.
Jika dua hari dua ayat, maka hafalan tersebut akan kelar selama delapan tahun, sembilan bulan, dan 18 hari. Jika proses itu dijalani, tak akan terasa.
Ketahuilah, para penghafal al-Quran, mengemban misi dan tugas yang mulia. Mereka akan mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat kelak. Secara tegas, Allah memuliakan para hafidz itu melalui lisan Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam.
Penghafal Kitab Suci itu, seperti dinukilkan Imam at Tirmidzi dalam riwayatnya, “akan berhias dengan mahkota kemuliaan.” Ini karena Sang Khaliq memberikan keridhaan pada yang bersangkutan. Kebaikannya pun akan bertambah, tiap kali melantunkan satu ayat.
Para penghafal al-Quran, seperti ditegaskan pula di hadis riwayat Ahmad, adalah ‘keluarga’ Allah di muka bumi. Keutamaan inilah, yang mendorong Rasul memuliakan para sahabat penghafal al-Quran.
Ketika perang Uhud meletus, tak sedikit sahabat yang gugur dalam pertarungan itu. Rasulullah selalu mendahulukan para penghafal al-Quran untuk dimakamkan lebih dulu.
“Manakah di antara mereka yang hafal Al-Quran?,” demikian jawaban Rasul atas pertanyaan Sahabat.
Semasa Rasul hidup, gairah menghafal al-Quran di kalangan Sahabat sangatlah tinggi. Tak terkecuali para pemuda. Ada sederet nama kawula muda ketika itu yang menghafal al-Quran seperti Amar bin Salamah, al-Barra’ bin ‘Azib, dan Zaid bin Haritsah.
Sahabat Zaid bin Tsabit yang berusia belia saat itu, bahkan masuk ke dalam daftar Sahabat pencatat wahyu. Di masa Khalifah Abu Bakar, Zaid dilibatkan pula proyek kodifikasi al-Quran.
Akan tetapi, terdapat poin penting yang mesti ditekankan para penghafal al-Quran. Mereka mesti mengikuti sejumlah aturan dan etika agar proses menghafal mendapatkan keberkahan dari-Nya. Syeikh Qahthan Birqadar, memaparkan sejumlah fondasi dasar yang harus diperkokoh para penghafal al-Quran.
Yang paling utama ialah meluruskan niat. Jadikan motivasi satu-satunya menghafal al-Quran, yakni mendapatkan keridhaan-Nya. Bukan berorientasi pada ketenaran, popularitas, yang berkelindan dengan melimpah ruahnya materi. “Niat duniawi tak akan berbuah manis,” tulisnya.
Lihatlah, kisah yang tertuang di hadis riwayat Muslim. Mereka yang belajar dan mengajarkan Kitab Samawi itu, harus menerima siksa lantaran tujuannya hanya ingin dielu-elukan manusia.
Kedua, Syeikh Qahthan mengingatkan, agar menyempurnakan proyek hafalan itu dengan praktik dan pengamalan al-Quran. Amalkan ajaran, nilai, dan etika yang terkandung di dalamnya. Jadilah hafidz (penghafal) yang pionir dan selalu terdepan soal akhlak dan moralitas.
Ketiga, tetap tawadhu dan tidak sombong di hadapan orang lain. Ingatlah, Al-Quran akan menjadi saksi kita kelak di akhirat. “Al-Quran adalah saksi atats kebaikan atau keburukanmu,”sabda Rasulullah di hadis Muslim.
Keempat, tetaplah konsisten mengulang-ulang hafalan (muraja’ah). Ini agar anugerah berupa hafalan yang diberikan Allah, tidak sirna begitu saja. Proses mengulang dan menjaga hafalan, justru lebih berat dibandingkan menghafal itu sendiri.
Sebuah hadits riwayat Bukhari Muslim menyatakan hal itu. Rasul pernah menyerukan agar tetap menjaga hafalan al-Quran. “Memelihara hafalan lebih berat ketimbang mengikat seekor unta,”ujar Nabi.
Ada banyak media yang bisa dilakukan untuk proses muraja’ah. Mulai dari menjadi imam shalat, mendengarkan tilawah melalui mp3, saling bertukar bacaan, dan sebagainya. Tentu, ini akan lebih utama dan ditekankan dengan bimbingan guru yang berkompeten.*/
Rabu, 20 April 2011
Keajaiban Matahari
Matahari adalah unit terbesar dari sistem tata surya kita. Matahari sangatlah panas dan mengandung gas yang selalu terbakar. Di permukaannya selalu terjadi ledakan bagaikan jutaan bom atom yang dijatuhkan tiap waktu. Ledakan ini menghasilkan lidah api raksasa yang ukurannya 40 atau 50 kali lebih besar dari bumi kita. Matahari seperti bola api raksasa yang memberikan panas dan cahaya yang sangat besar dari permukaannya. Ruang angkasa, bagaimanapun, gelap gulita. Bumi kita adalah salah satu bagian yang indah dari kegelapan mutlak itu. Dan, tidak ada unit lain selain matahari di tata surya kita yang mampu menyinari dan menghangatkan bumi kita. Apabila bukan dari matahari, maka akan terjadi malam selama-lamanya, dan setiap daerah akan terselimuti es. Kehidupan dengan begitu akan mustahil, dan kita pun tidak akan ada. Panas yang diberikan matahari akan sangat tinggi selama musim panas. Namun, matahari jaraknya jutaan kilometer dari bumi, dan hanya 0,2 persen dari panasnya yang benar-benar mencapai bumi. Sejak suhu di bumi bisa sangat tinggi, meskipun matahari letaknya begitu jauh, bagaimana dengan suhu matahari itu sendiri? Temperatur di permukaan matahari adalah 6.000 derajat Celcius, dan 12 juta derajat Celsius di dalamnya. Allah telah menciptakan jarak yang sempurna antara bumi dan matahari. Apabila jarak matahari lebih dekat dengan kita, maka semua yang ada di bumi akan menguap dan terbakar. Begitu juga, apabila jaraknya lebih jauh dari saat ini, maka semua daerah akan tertutupi es. Dengan begitu, tentu saja, kehidupan akan mustahil. Daerah kutub, daerah yang mendapatkan panas paling sedikit dari matahari, secara permanen diselimuti oleh es, sedangkan daerah ekuator, yang mendapatkan lebih banyak panas, selalu panas. Namun, perbedaan suhu antara kutub dan ekuator ini yang menyebabkan terciptanya iklim moderat di bumi secara keseluruhan, dan iklim inilah yang menyokong terwujudnya kehidupan. Hal tersebut adalah salah satu tanda dari tidak terhitungnya bukti cinta Allah kepada manusia. | |
Senin, 18 April 2011
Keajaiban Hujan
Hujan merupakan salah satu perkara terpenting bagi kehidupan di muka bumi. Ia merupakan sebuah prasyarat bagi kelanjutan aktivitas di suatu tempat. Hujan–yang memiliki peranan penting bagi semua makhluk hidup, termasuk manusia–disebutkan pada beberapa ayat dalam Al-Qur’an mengenai informasi penting tentang hujan, kadar dan pengaruh-pengaruhnya.
Informasi ini, yang tidak mungkin diketahui manusia di zamannya, menunjukkan kepada kita bahwa Al-Qur’an merupaka kalam Allah. Sekarang, mari kita kaji informasi-informasi tentang hujan yang termaktub di dalam Al-Qur’an.
Kadar Hujan
Di dalam ayat kesebelas Surat Az-Zukhruf, hujan dinyatakan sebagai air yang diturunkan dalam “ukuran tertentu”. Sebagaimana ayat di bawah ini:
“Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” (QS. Az-Zukhruf, (43):11)
“Kadar” yang disebutkan dalam ayat ini merupakan salah satu karakteristik hujan. Secara umum, jumlah hujan yang turun ke bumi selalu sama. Diperkirakan sebanyak 16 ton air di bumi menguap setiap detiknya. Jumlah ini sama dengan jumlah air yang turun ke bumi setiap detiknya. Hal ini menunjukkan bahwa hujan secara terus-menerus bersirkulasi dalam sebuah siklus seimbang menurut “ukuran” tertentu.
Sabtu, 19 Maret 2011
Kiat Menghafal dari : Dr. Abdul Muhsin Al Qasim (Imam dan Khatib masjid Nabawi)
Segala puji Bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad salallaahu alayhi wassalam.
Dalam tulisan ini akan kami kemukakan cara termudah untuk menghafalkan al quran. Keistimewaan teori ini adalah kuatnya hafalan yang akan diperoleh seseorang disertai cepatnya waktu yang ditempuh untuk mengkhatamkan al-Quran. Teori ini sangat mudah untuk di praktekan dan insya Allah akan sangat membantu bagi siapa saja yang ingin menghafalnya. Disini akan kami bawakan contoh praktis dalam mempraktekannya:
Misalnya saja jika anda ingin menghafalkan surat an-nisa, maka anda bisa mengikuti teori berikut ini:
Kamis, 17 Maret 2011
Menghafal Al-Quran Usia 82 tahun. Berapa usia anda ?
Ummu Shalih, Seorang Nenek yang Menghafalkan Al-Qur’an di Usia 82 Tahun
Alhamdulillah, Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quraan untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS Al-Qamar [54] : 32)
Banyak orang di seluruh dunia menghafal Al-Qur’an, dan tidak aneh melihat seorang anak menghafal Al-Qur’an dan di usia yang sangat muda. Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan Al-Qur’an mudah untuk dihafalkan, telah menjadikanya mudah bagi Ummu Shalih yang berusia 82 tahun. Dalam wawancara bersama Ummu Shalih, ia ditanyai sejumlah pertanyaan berikut:
“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quraan untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS Al-Qamar [54] : 32)
Banyak orang di seluruh dunia menghafal Al-Qur’an, dan tidak aneh melihat seorang anak menghafal Al-Qur’an dan di usia yang sangat muda. Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan Al-Qur’an mudah untuk dihafalkan, telah menjadikanya mudah bagi Ummu Shalih yang berusia 82 tahun. Dalam wawancara bersama Ummu Shalih, ia ditanyai sejumlah pertanyaan berikut:
Penelitian Ilmiah: Menghafal Al-Qur’an Melindungi dari Stress
Hasil Penelitian Ilmiah di Universitas al-Imam Muhammad bin Sa’ud al-Islamiyyah membuktikan ketika kadar hafalan al-Qur’an siswa meningkat maka akan meningkat pula kesehatan jiwanya.
Membaca Al Qur’an Mencerdaskan Otak
Menurut hasil penelitian ternyata membaca Al
“Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang kuat ingatan atau hafalannya. Di antaranya, menyedikitkan makan, membiasakan melaksanakan ibadah salat malam, dan membaca Alquran sambil melihat kepada mushaf”.
Qur’an sehabis maghrib dan sesudah subuh itu dapat meningkatkan
kecerdasan otak sampai 80 % , karena di sana ada pergantian dari siang
ke malam dan dari malam kesiang hari di samping itu ada tiga aktifitas
sekaligus , membaca , melihat dan mendengar .
kecerdasan otak sampai 80 % , karena di sana ada pergantian dari siang
ke malam dan dari malam kesiang hari di samping itu ada tiga aktifitas
sekaligus , membaca , melihat dan mendengar .
“Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang kuat ingatan atau hafalannya. Di antaranya, menyedikitkan makan, membiasakan melaksanakan ibadah salat malam, dan membaca Alquran sambil melihat kepada mushaf”.
Rabu, 16 Maret 2011
Surat Al-Mulk, penjaga dari siksa kubur & neraka?
Penanya: Abu Hanan
Pertanyaan: Apakah shohih? Hadits yg menyatakan bahwa dengan hapal surat Al-mulk dan dibaca berulang-ulang dapat menjaganya dari siksa kubur, dan di akherat nanti dapat menjadi salah satu syafaat? Makasih.
Jawaban:
Pertama: Memang banyak fadhilah dan keutamaan dari surat al-Mulk, diantaranya yang shohih (bisa dijadikan pegangan) adalah:
ـ(1) عن أبي هريرة، عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: سورة من القرأن، ثلاثون اية؛ تَشْفَعُ لصاحبها حتى يُغْفَرَ له: تبارك الذي بيده الملك. (رواه أبو داود واللفظ له, والترمذي وغيرهما، وصححه ابن حبان والحاكم والذهبي، وحسنه الترمذي والألباني)ـ
Dari Abu Huroiroh, Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Ada surat dari Alqur’an yang terdiri dari 30 ayat, Surat tersebut dapat memberikan syafa’at bagi ‘temannya’ (yakni orang yang banyak membacanya) sehingga orang tersebut diampuni dosanya, yaitu: Surat Tabarokalladi bi yadihil mulk“. (HR. Abu Dawud dg redaksinya, diriwayatkan pula oleh at-Tirmidzi dan yang lainnya. Hadits ini di-shohih-kan oleh Ibnu Hibban, al-Hakim, dan adz-Dzahabi, sedangkan at-Tirmidzy dan Albani menghasankannya)
Langganan:
Postingan (Atom)

