Tampilkan postingan dengan label Motivasi Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi Diri. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Desember 2014

Yuk Berubah


semua orang ingin berubah; 
tetapi tidak semua berhasil melakukan perubahan #YukBerubahSekarang

Senin, 20 Januari 2014

Belajar Dari Telur

Jika sebuah telur dipecahkan oleh
kekuatan dari luar, maka kehidupan didalam telur akan berakhir.

Tapi...
Jika sebuah telur dipecahkan oleh
kekuatan dari dalam,

maka kehidupan
baru telah lahir... hal-hal besar
selalu dimulai dari dalam.

Allah.Swt tidak pernah menjanjikan bahwa :
- Langit itu selalu biru
- Bunga selalu mekar
- Mentari selalu bersinar

Tapi ketahuilah bahwa DIA selalu
memberi:

- Pelangi .....disetiap badai
- Senyum .....disetiap air mata
- Berkat .......disetiapcobaan
- Jawaban .....disetiap doa
Jangan pernah menyerah, terus
berjuanglah,

"Li fe is so beautiful"

- Hidup adalah tantangan,....H
adapilah

- Hidup adalah anugerah,....
Terimalah

- Hidup adalah tugas,.........
.selesaikanlah

- Hidup adalah cita2,...........capailah

- Hidup adalah misteri,.......
.singkapkanlah

- Hidup adalah kesempatan,..
ambillah

- Hidup adalah lagu,..........
..nyanyikanlah

- Hidup adalah janji,.........
...penuhilah

- Hidup adalah keindahan,...be
rsyukurlah

- Hidup adalah teka-teki,.....
pecahkanlah

1 hal yang buat kita bahagia adalah
cinta
1 hal yang buat kita tambah dewasa
adalah masalah
1 hal yang buat kita hancur
adalah....putusasa
1 hal yang buat kita maju
adalah....usaha
1 hal yang buat kita kuat
adalah....DOA
SUBHANALLAH...
Semoga ALLAH senantiasa
membimbing kita agar tetap
istiqomah dalam melakukan kebaikan
dan memberikan kelapangan hati kita untuk menjadikan kita pribadi yang luar biasa. Aamiinn...

Jangan jadi yang terbaik ?

Sudahlah, masa depanmu itu bukan di bumi, tapi di akhirat. Di bumi ini yang ada hanyalah "sekarang" dan "sekarang". Jangan rumitkan pikiranmu dengan "masa depan"mu yang hanya kumpulan "sekarang". Tapi selalulah perbaiki kualitas "sekarang"mu.

Cukup "do the best" dalam kesekaranganmu. Ingat ya : "do the best", bukan "be the best"...

Do the best itu sekarang
Be the best itu nanti

Do the best itu "proses"
Be the best itu "hasil"

Lakukan yang terbaik di bumi sekarang ini, maka jadilah yang terbaik di akhirat nanti. Yang terbaik bukanlah yang mengalahkan orang lain, tapi yang berhasil mengalahkan hawa nafsu dan iblis yang menggodanya.

So, selama Anda masih bernafas, maka Jangan pernah merasa telah menjadi yang terbaik, tapi cukupkan diri dengan melakukan yang terbaik...

Salam
Kang Zain
@kangzains3
Www.cahaya-semesta.com

Sabtu, 07 September 2013

YAKINlah bersama PILIHANmu

Sudahkah Engkau menikah? Kataku, MeNikAh itu “Me mang Nik mat Ah !” Ya, menikah itu pun memilih. Pria siap ditolak dengan "Tidak" atau "Tindak". Wanita siap berkata tidak atau tetap tunduk pada Tindakan pria atau apa kata Papa dan Mama. Bagaimana pun prosesnya, yang telah lalu biarlah berlalu. Tapi kuhargai pilihanmu; yang dulu, yang kini, yang akan. Walau mungkin, kau dulu menikahinya bersama ragu, dan bahkan bagi sebagianmu yang sampai saat ini masih ragu, maka coba tanamkan keyakinanmu. Tanamkan saja dengan senyum terbaikmu. Mudah. Alhamdulillah.

Jangan menunggu bahagia baru engkau tersenyum, tapi tersenyumlah sebaik upaya, maka insya Allah kebahagiaan akan segera bersamamu. Bahagia itu bukan dari sana, tapi dari sini. Bukan dari harta, tapi dari hati. Bukan dari mata, tapi dari penglihatan nurani.

Sugestikan dirimu, setiap kenikmatan bangun pagi dianugerahkan kepadamu. “Ya Allah terimakasih, dia adalah pasangan terbaik yang Engkau hadirkan untukku!” Bersyukurlah dengan pilihanmu, maka kenikmatan hidupmu akan menjulang. Tak usah mengeluh, kalaulah bersyukur itu jauh lebih ampuh.

Begitu pun, jangan menunggu sukses baru engkau bersyukur, tapi bersyukurlah sebaik upaya, maka insya Allah kesuksesan akan segera bersamamu. Sukses itu bukan dari sana, tapi dari sini. Bukan dari harta, tapi dari hati. Bukan dari mata, tapi dari penglihatan nurani. La insyakartum La aziidannakum. Kalau engkau bersyukur maka Allah berjanji akan menambahkan nikmat-Nya untukmu. Bilakah Allah tak menepati janji-janji-Nya? Bersyuklurlah.

Jadi, mulai hari ini, pilihlah jangan meragu. Pilihlah jangan terus menunggu. Menunggu keyakinan yang enggan hadir dikarenakan engkau pun belum siap menyambutnya. Sambutlah keyakinanmu dengan ceria, dan pilihlah segera, sekarang juga. Cukup satu detik untuk yakin, bisa pula sepuluh tahun untuk menjadi yakin. Itu terserahmu. Keberanianmu. Yang jelas, Memilih pun harus yakin. Setidaknya engkau YAKIN bahwa memilih jauh lebih meyakinkan dari pada berdiam diri, meragu.

Kemudian, ingatlah – sekali lagi dan selalu - bahwa memilih pun harus diiringi kekuatan syukur. Tiada lebihnya jika kau memilih lalu mengeluh semisal : “Benar dugaanku, ini adalah pilihan yang salah!”. Sebab jika kau meyakini pilihanmu sebuah kesalahan, maka kau akan mendapatkan berbagai kesalahan lainnya dalam hidupmu, sebab di fana ini, kita digerakkan oleh apa yang kita yakini adanya.

Taruhlah, walaupun di kasat mata pilihan itu ternyata salah, tapi jiwamu tetap saja boleh tersenyum, sebab kau telah banyak belajar dari kesalahanmu, dan kau tetap bersyukur dengan pilihanmu. Mari berumpama : Mungkin saja kalau pilihanmu saat itu “tepat” dalam pandanganmu, maka boleh jadi sekarang kau sudah terjerumus dalam jiwa jumawa, super istidroj – dosa-dosa yang tak terasa dosa, seperti sedang dicintai-Nya, padahal Dia sedang menghukummu dengan kesenangan semu. Dan itu tentu saja jauh lebih fatal dan vital.

Sahabatku, selama engkau yakin bahwa Allah menawarkan yang terbaik dan memberikan yang terbaik, maka engkau akan mendapatkan yang terbaik. “Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku”, begitulah firmannya dalam sebuah hadist Qudsi.

Ya, seberat apapun liku menuju keterbaikan itu. Lakukan saja liku itu. Pastinya, dibalik liku ada laku, dibalik pilu ada pahala, dibalik serat ada sehat, dibalik pelik ada pelak, dibalik kelam ada kalam, dibalik frustasi ada prestasi, dibalik sukar ada sekar, dibalik duri ada dara. “Pokoknya” bersama kesulitan itu ada kemudahan. Filter kita adalah, fokuslah pada kemudahannya, insya Allah hidup kita akan dimudahkan-Nya. Mudah, Furqon, Otomatis!

"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. {TERJEMAHAN DATA SUCI Q.S. Al-A’raaf (7) : 201}

Wallahu alam
KZ
www.cahaya-semesta.com

Sabtu, 31 Agustus 2013

Integritas Adalah...

Apa yang ada di benak Anda mengenai Integritas...
Hampir di semua perusahaan atau organisasi, dengan bidang bisnis apapun, selalu ada satu nilai di dalam organisasi yang menjadi acuan dalam bekerja, yaitu INTEGRITAS.
Bahkan Warren Buffet pun pada saat ditanya “Bagaimanakah Bapak memilih dan menentukan orang-orang yang menjadi pegawai Bapak?” menyebutkan ada 3 kualifikasi yang harus dipenuhi oleh mereka, yaitu memiliki Integritas,Kecerdasan dan Tingkat Energi yang tinggi.

Namun, apabila kualifikasi yang nomor satu tidak dimiliki oleh mereka, maka 2 kualifikasi yang lainnya tidak akan bermanfaat. Jadi, kuncinya adalah orang yang berintegritas.
"Integrity" atau integritas adalah suatu konsep yang menunjuk konsistensi antara tindakan dengan  nilai dan prinsip. Dalam etika, integritas diartikan sebagai kejujuran dan  kebenaran dari tindakan seseorang.

Lawan dari integritas adalah "hipocrisy" (hipokrit atau munafik).  Seorang dikatakan “mempunyai integritas” apabila tindakannya sesuai dengan nilai, keyakinan, dan prinsip yang dipegangnya (Wikipedia).
#integritas : mutu, sifat, atau keadaan yg menunjukkan kesatuan yg utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yg memancarkan kewibawaan; kejujuran;
*nasional* wujud keutuhan prinsip moral dan etika bangsa dl kehidupan bernegara (artikata.com)


Berikut tips agar struktur integritas karakter kita selalu bertumbuh dan berkembang, maka harus mengenali juga dengan baik karakter seperti apa yang harus dipelihara dan dikembangkan agar bisa bertumbuh dengan lebih baik.

Menurut Dr. Henry Cloud ada 6 (enam) dimensi integritas karakter yang sangat penting untuk dapat mencapai keberhasilan atau kesuksesan yang hakiki, yaitu:

1. Membangun rasa percaya
Membangun rasa percaya ini tidak cukup hanya kita membina hubungan dengan memberikan perhatian dan berbuat baik, tetapi juga bisa menunjukkan empati dan terlibat secara aktif dalam hubungan tersebut. Selain itu juga membangun kepercayaan tersebut juga dilakukan dengan memberikan bantuan dengan sikap mendukung dan bukan menentang atau menunjukkan penolakan. Dan dalam membangun kepercayaan ini dibutuhkan juga aspek kekuatan, karena kita tidak mungkin menyandarkan kepercayaan kita kepada orang-orang yang memiliki sifat pengecut, tidak kompeten dan pembohong/penipu, jadi harus ada rasa KEBUTUHAN untuk bisa membangun kepercayaan.


2. Berorientasi pada kebenaran
Seperti yang kita pahami sebelumnya, apabila kita berdiskusi tentang integritas maka konteks yang muncul adalah kejujuran dan etika, karena kedua karakter ini adalah aspek dasar dari integritas, karena tanpa keduanya maka tidak ada hal yang lainnya. Sebelum kita melangkah masuk pada jalur yang bernama kebohongan yang harus kita ingat adalah konsekuensi dari suatu kebenaran akan lebih kecil daripada konsekuensi dari sebuah kebohongan.


3. Memperoleh hasil
Kemampuan bekerja dengan cara yang menghasilkan dan dapat menyelesaikannya dengan baik dan benar, dimana disini mengarah pada pencapaian sasaran atau misi.


4. Merangkul yang negatif
Kemampuan merangkul, terlibat, dan menghadapi hal-hal yang negatif yang mengarah pada kemampuan menyelesaikan masalah atau perubahan pada kondisi yang menimbulkan atau berpotensi menimbulkan masalah.


5. Berorientasi pada peningkatan
Kemampuan untuk berorientasi pada pertumbuhan yang mengarah pada peningkatan diri secara pribadi


6. Berorientasi pada hal-hal transenden
Kemampuan untuk menjadi transenden yang mengarah pada perluasan gambaran yang lebih besar dan diri sendiri.


Intinya adalah kejujuran dan satunya kata dengan perbuatan.
Gagasannya adalah, orang yang tidak punya integritas akan hidup dengan penuh kegelisahan. Bukan saja kebohongan menimbulkan ketidaktenangan, Rasulullah Saw menyatakan bahwa :


”kebaikan adalah apa-apa yang jika kamu lakukan, hatimu tenang (damai), sedang kejahatan adalah apa-apa yang jika kamu lakukan, hatimu gelisah" [HR. Ahmad]
Artinya, sesungguhnya integritas identik dengan kebaikan dalam arti luas. Orang yang tidak mempunyai integritas akan mengembangkan keperibadian yang terpecah ("split personality"). 

Orang yang memiliki integritas  tinggi (berakhlak) adalah orang yang hidup sebagai manusia yang utuh dan penuh. Dan hanya manusia yang utuh yang bisa hidup dalam keseimbangan dan kestabilan, dalam ketenteraman dan kebahagiaan.

Sumber :
1. http://m.artikata.com/arti-330870-integritas.html
2. http://juliefisipuns.blogspot.com/2011/05/tentang-integritas.html?m=1
3. http://www.jtanzilco.com/main/index.php/component/content/article/1-kap-news/80-integritaskuncimenujukesuksesan
4. http://mizan.com/kolom-haidar-bagir/hidup-bahagia-dengan-integritas.html
5. http://almanhaj.or.id/content/3407/slash/0/kebaikan-dan-dosa/

Hukum Pengamatan

Prolog TSH (part 1)

Salah satu yang اِنْ شَآءَ اللّهُ akan di bahas pada TSH adalah : The Law of Observation atau Hukum Pengamatan

Jika Anda mengamati Mawar, maka amatilah bunganya lebih sering dibandingkan durinya. Apa yang Anda amati akan menjadi apa yang Anda rasakan. Apa yang Anda rasakan bisa menjadi kenyataan.

Amati bunganya : maka terasa indah, harum, asyik, memesona, menawan

Amati durinya : maka terasa tajam, sakit, tertusuk, berdarah, luka, infeksi, amputasi, patah hati, mati

So, berHati-hatilah atas apa yang Anda amati. Lengkapnya ikuti TSH.

Terimakasih

Menemukan identitas

Batin yang gelisah selalu "mencari" kesana kemari untuk dapat berbahagia. Mencari titik titik identitasnya yang terserak di semesta.

Ia pergi ke puncak gunung untuk menemukan identitas pemandangan yang indah, padahal pemandangan hanyalah pemandangan. Apakah identitasnya sama dengan pemandangan?
Ia pergi ke wahana wisata untuk menghadirkan berbagai kebahagiaan. Tapi batinnya tetap letih, sebab berbeda antara keinginan pikiran dan kebutuhan sang batin.

Ia pun pergi ke luar negeri untuk menemukan identitas dirinya yang mungkin saja terserak di negeri cina, itali, mesir, spanyol atau amerika. Ia pun semakin jauh dari batinnya.

Ia puaskan dirinya untuk berbisnis mencari uang dan uang, dan semakin banyak uang terkumpul, semakin sulit pula identitas batin bersua dengannya.

Oh batin, dimanakah identitasmu?
Lelah batinnya, karena fisik terus mencari ke luar, sehingga semakin terseraklah sang batin.
Nonton acara lawak, vcd, bioskop, lagu dan musik, berita televisi, baca buku-buku, koran, tabloid, majalah, kelas motivasi, wayang, travelling, gonta-ganti pasangan, ikutan komunitas, bisnis, pengajian ke mana-mana, games, BB-an, FB-an, Androidan, tiduran, semedi, dan lain sebagainya... Dan identitasnya pun semakin tak jelas walaupun pikirannya sudah mereka-reka...
Siapa saya? Untuk apa saya hidup? Siapa Tuhan saya? Mau kemana saya?
Kalaulah itu semua sudah terjawab lalu "kenapa saya mudah gelisah, mudah khawatir, dan mudah tersinggung?"
Sahabatku, Kenapa aku ini ada? Inilah pertanyaan dasar yang harus aku temukan jawabannya. Kalau aku tak mampu menjawab pertanyaan ini maka kegundahan selalu bersamaku.

Tak mungkin aku ini ada karena kebetulan atau ketidaksengajaan. Sebab kalau aku ini ada karena kebetulan maka dunia ini adalah hasil kumpulan kebetulan. Dan itu mustahil.

Bila dunia adalah kumpulan kebetulan, niscaya terjadi ketidakseimbangan yang besar. Niscaya sejak dahulu dunia sudah hancur.

Artinya, aku ada karena sudah direncanakan, by design, not by accident. Ada yang merencanakan agar aku ada di dunia ini. Ada yang mengadakanku, ada yang menciptakanku.

Aku pun mulai sadar, bahwa gundah hadir karena aku menjauh dari rencana yang mengadakanku, Sang Penciptaku. Karena aku adalah CIPTAAN, dan bukan PENCIPTA

Aku mulai tenang, tugasku jalani saja hidup sesuai kehendak Pencipta dan Pengaturku. Kalau aku keluar dari kehendak-Nya, pasti galaulah aku, binasalah aku.
Tapi... Mau KEMANA aku? Ah, mana ku tahu, yang ku tahu "sekarang" aku masih di "sini".
Apa maksud di "sini"? Apakah ada yang bernama di "sana"? Bukankah setelah aku bergerak ke sana, ternyata di "sana" pun menjadi di "sini". Berarti hakikatnya di sana ya di sini. Padahal "sini" menjadi eksis karena hadirnya "sana".

Lha, kalau "sana" ternyata "sini" berarati "sana" itu gak ada. Kalau "sana" gak ada, berarti untuk apa ada "sini"? Jangan-jangan "sini" pun gak ada.

Oh dimana identitasku?
Lalu, apa itu "sekarang"? Yang jelas yang bukan "sekarang" adalah "dahulu" dan "nanti". Tapi, "Dahulu" hanyalah "sekarang di waktu lalu". Dan "Nanti" adalah "sekarang di waktu yang akan datang".

Lalu kapan sesungguhnya WAKTU terjadinya "sekarang"? Berapa lama "sekarang" itu? 1 detik, sepersepuluh detik, seperseratus detik, atau sepertakhingga detik? Hai "sekarang", dimana kamu berada? Dimanaaaaa...?
Cling, kalau sekarang subuh maka nanti adalah zuhur. Tapi di saat nanti, maka zuhur menjadi sekarang dan subuh menjadi dahulu. Hei, sebentar, bukankah "nanti"nya zuhur adalah ashar, "nanti"nya ashar adalah maghrib, "nanti"nya maghrib adalah isya, dan "nanti"nya isya adalah subuh?
Jleb, KEMBALI ke subuh ya. Lalu kemana "sekarang"? "Sekarang" terlalu cepat bergerak, sangat cepat, saking cepatnya maka "sekarang" menjadi "tak terlihat", "tak terdeteksi", "lenyap". Jangan-jangan "sekarang" memang tak pernah ada, atau "Sekarang" dan "di sini" hanyalah eksis "sangat sementara"... Oh ini semua benar-benar PERMAINAN yang MENIPU.. tapi aku gak boleh tertipu.
Dan Kesadaranku pun berbisik "Hai Zain, bukan SEKARANG identitasmu, melainkan KEMBALI..."

Yup, KEMBaLI, itulah salah satu identitasku. Pantas saja kemarin banyak yang MUDIK atau PULANG KAMPUNG, karena mereka hendak kembali ke tanah kelahiran mereka. Dan pulang kampung yang sesungguhnya adalah pulang ke kampung akhirat. Apa? Akhirat? AKHIR?
"Kembali ke AKHIR?" Apa maksudnya? Bukankah kalau kembali itu biasanya ke AWAL? Jangan-jangan AWAL itu AKHIR...
Kalau demikian, berarti pertanyaan "KEMANA aku" memiliki jawaban yang sama dengan "DARIMANA aku"? Oh, I see, "darimana aku" dan "kemana aku" dikarenakan "kembali" pastinya ya ke situ-situ juga... Awal adalah Akhir, Akhir adalah Awal, My Start is My Finish... Subhaanallaah..

Pantas Tuhanku senang sekali kepada hamba-hamba-Nya yang berTAUBAT, bukankah TAUBAT itu artinya KEMBALI?

Sebuah perjalanan dari titik awal KEMBALI lagi ke titik awal. Sebab akhir adalah awal.

Titik pertemuan ini disebut TITIK NOL. Why? Sebab ia adalah sebuah titik yang bergerak pada orbitnya membentuk putaran seperti angka NOL.
Yup, Bulan berputar mengelilingi bumi, putarannya membentuk angka NOL. Muslimin yang Thawaf pun berputar membentuk angka NOL.
So, apakah Identitasku KEMBALI menjadi NOL?

Oh aku ini NOL. Hanya hamba-NYA (ABDULLAH) yang bertugas memarketingkan-NYA ke semesta (KHALIFAH).

Itulah tugas angka NOL, menggelinding ke sana kemari bersama intruksi-NYA, menyembah-NYA, menebarkan asma-NYA ke semesta.

Kalau aku berusaha menjadi angka 1,2, atau sejuta, maka akulah pengejar pahala yang lupa menyembah-NYA, lalu ku bangga dengan pahala-pahalaku.

Kalau aku menjadi -1, -2, atau minus sejuta, maka akulah pelaku dosa, dan enggan bertaubat atas dosaku.

Ya اَللّه, aku sadar bahwa NOL adalah identitasku. Maafkan aku yang masih lupa MENGEMBALIkan berbagai pujian kepada-MU, lupa MENGEMBALIkan berbagai musibah untuk mengingat-MU, dan lupa MENGEMBALIkan berbagai dosa-dosaku pada-MU melalui istighfar dan taubatku.

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ وَلَاحَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمَ

Jiwaku tenang bila aku tak melekat dengan pahala-pahalaku, tak melekat dengan dosa-dosaku, tak melekat dengan musibah-musibahku, tak melekat dengan kelebihan atau kekuranganku, kecuali hanya melekat pada-MU.
Ya اَللّه, mudahkan aku dan siapapun yang membaca tulisan ini kembali menjadi NOL.

Tak melekat dengan apapun kecuali dengan-Mu. Sehingga tenang jiwa kami, dan rindulah kami atas panggilan-Mu :

"Hai Jiwa yang TENANG, datanglah kepada RABB-mu dalam keadaan ridho lagi diridhoi.... "

Wallahu a'lam T A M A T
Kang Zain Awareness Trigger 2a0816be Penulis Buku "The Zero", Hidup Penuh Keajaiban Tanpa Menuhankan Keajaiban

Silakan dishare, dan temukan identitasmu.

Sabtu, 24 Agustus 2013

Menikmati Hidup

Terdengar gemercik air...
burung berkicau...
tempat yang hijau...
disepertiga bangku panjang aku memperhatikan semua ini..
seorang seniman duduk pada bangku bersama serulingnya, begitu santai... begitu syahdu dgn lantunan serulingnya.. terlihat sangat asyik menikmati hidupnya
sang mentari mulai tersenyum memberikan sinarnya... hangat terasa
disekeliling terdapat pohon yang besar lagi rindang...
pandangan mata tertuju pada rumah-rumah merpati, asyik mereka keluar masuk bersama keluarganya...
terbang dari satu dahan ke dahan berikutnya...
saat orang - orang mulai lalu lalang dengan kesibukkannya masing-masing aktifitas olah raganya
akupun mulai beranjak dari tempat duduku...
dalam hati berdecak kagum,
lirih terdengar, Subhanallah, indahnya pagi ini...
Tidak ada satupun hal yang Allah ciptakan sia-sia.
Jakarta, Sabtu pagi 24 Agustus pukul 06.07 - 07.06
Nas

Sabtu, 17 Agustus 2013

Motivasi Kemerdekaan

Merdeka itu...

M : Manfaatkan Dunia untuk Akhirat

E : Efektifkan waktu sebaik mungkin

R : Ridho Allah motivasi utama

D : Dengan Iman, Ilmu dan amal sholeh kita arungi hidup ini

E : Esok lebih baik dari hari ini

K : Kenali kekurangan & kelebihanmu

A : Allah Sebaik-baik Penolong dan pelindung

MERDEKA !!!
Nas

Senin, 12 Agustus 2013

Menghafal al-Quran, Siapa Takut?

Jadikan motivasi satu-satunya menghafal al-Quran, yakni mendapatkan keridhaan-Nya. Bukan berorientasi pada ketenaran, popularitas

SALAH satu garansi langsung dari Allah Subhanahu Wata’ala adalah, al-Quran sangat mudah dibaca dan dihafalkan. Sehingga, tak ada alasan seseorang untuk mangkir dan berpaling dari belajar membaca al-Quran. Terlebih, berdalih susah lalu tidak menghafalnya. Ini sesuai dengan janji Allah dalam firman;

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?.” (QS: al-Qamar [54]: 17).

Sekarang, mari kita kalkulasikan bersama. Jika Anda menghafal satu hari satu ayat secara konsisten, Anda akan bisa rampung menghafalnya selama 17 tahun, tujuh bulan, dan sembilan hari.

Ini bila dengan asumsi jumlah ayat mengikuti pendapat mayoritas ulama Makkah yaitu lebih dari 6220 ayat. Perinciannya sebagai berikut: 17 x 360 hari = 6120 hari. Jumlah itu ditambah tujuh bulan sembilan hari. Totalnya 6339 hari.

Jika dua hari dua ayat, maka hafalan tersebut akan kelar selama delapan tahun, sembilan bulan, dan 18 hari. Jika proses itu dijalani, tak akan terasa.

Ketahuilah, para penghafal al-Quran, mengemban misi dan tugas yang mulia. Mereka akan mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat kelak. Secara tegas, Allah memuliakan para hafidz itu melalui lisan Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam.

Penghafal Kitab Suci itu, seperti dinukilkan Imam at Tirmidzi dalam riwayatnya, “akan berhias dengan mahkota kemuliaan.” Ini karena Sang Khaliq memberikan keridhaan pada yang bersangkutan. Kebaikannya pun akan bertambah, tiap kali melantunkan satu ayat.

Para penghafal al-Quran, seperti ditegaskan pula di hadis riwayat Ahmad, adalah ‘keluarga’ Allah di muka bumi. Keutamaan inilah, yang mendorong Rasul memuliakan para sahabat penghafal al-Quran.

Ketika perang Uhud meletus, tak sedikit sahabat yang gugur dalam pertarungan itu. Rasulullah selalu mendahulukan para penghafal al-Quran untuk dimakamkan lebih dulu.

“Manakah di antara mereka yang hafal Al-Quran?,” demikian jawaban Rasul atas pertanyaan Sahabat.

Semasa Rasul hidup, gairah menghafal al-Quran di kalangan Sahabat sangatlah tinggi. Tak terkecuali para pemuda. Ada sederet nama kawula muda ketika itu yang menghafal al-Quran seperti Amar bin Salamah, al-Barra’ bin ‘Azib, dan Zaid bin Haritsah.

Sahabat Zaid bin Tsabit yang berusia belia saat itu, bahkan masuk ke dalam daftar Sahabat pencatat wahyu. Di masa Khalifah Abu Bakar, Zaid dilibatkan pula proyek kodifikasi al-Quran.

Akan tetapi, terdapat poin penting yang mesti ditekankan para penghafal al-Quran. Mereka mesti mengikuti sejumlah aturan dan etika agar proses menghafal mendapatkan keberkahan dari-Nya. Syeikh Qahthan Birqadar, memaparkan sejumlah fondasi dasar yang harus diperkokoh para penghafal al-Quran.

Yang paling utama ialah meluruskan niat. Jadikan motivasi satu-satunya menghafal al-Quran, yakni mendapatkan keridhaan-Nya. Bukan berorientasi pada ketenaran, popularitas, yang berkelindan dengan melimpah ruahnya materi. “Niat duniawi tak akan berbuah manis,” tulisnya.

Lihatlah, kisah yang tertuang di hadis riwayat Muslim. Mereka yang belajar dan mengajarkan Kitab Samawi itu, harus menerima siksa lantaran tujuannya hanya ingin dielu-elukan manusia.

Kedua, Syeikh Qahthan mengingatkan, agar menyempurnakan proyek hafalan itu dengan praktik dan pengamalan al-Quran. Amalkan ajaran, nilai, dan etika yang terkandung di dalamnya. Jadilah hafidz (penghafal) yang pionir dan selalu terdepan soal akhlak dan moralitas.

Ketiga, tetap tawadhu dan tidak sombong di hadapan orang lain. Ingatlah, Al-Quran akan menjadi saksi kita kelak di akhirat. “Al-Quran adalah saksi atats kebaikan atau keburukanmu,”sabda Rasulullah di hadis Muslim.

Keempat, tetaplah konsisten mengulang-ulang hafalan (muraja’ah). Ini agar anugerah berupa hafalan yang diberikan Allah, tidak sirna begitu saja. Proses mengulang dan menjaga hafalan, justru lebih berat dibandingkan menghafal itu sendiri.

Sebuah hadits riwayat Bukhari Muslim menyatakan hal itu. Rasul pernah menyerukan agar tetap menjaga hafalan al-Quran. “Memelihara hafalan lebih berat ketimbang mengikat seekor unta,”ujar Nabi.

Ada banyak media yang bisa dilakukan untuk proses muraja’ah. Mulai dari menjadi imam shalat, mendengarkan tilawah melalui mp3, saling bertukar bacaan, dan sebagainya. Tentu, ini akan lebih utama dan ditekankan dengan bimbingan guru yang berkompeten.*/


Minggu, 03 Februari 2013

Mengendalikan Diri (part 1)



Mengapa seseorang sulit mengendalikan dirinya? Mengapa seseorang mudah tergoda oleh hawa nafsu? Ternyata salah satu penyebabnya adalah karena kita tidak paham bahwa kita diberikan-Nya 5 alat bantu atau asisten yang akan membantu meningkatkan kualitas kita sebagai Abdullah dan Kholifatullah.

Kelima asisten itu adalah : Penampilan (PQ - Physical Quotient), Pikiran (IQ - Intellegence Quotient), Perasaan (EQ - Emotional Quotient), Keyakinan (SQ- Spiritual Quotient), dan Keimanan (RQ - Ruhani Qutient), atau kalau disingkat asisten/alat bantu itu bernama P3K2. So, P3K2 ini hanyalah ASISTEN dan bukanlah ANDA.

P3K2 = PENAMPILAN  I  PIKIRAN  I  PERASAAN   I   KEYAKINAN  I  KEIMANAN   

Jadi, Anda bukanlah Penampilan Anda, Anda bukanlah Pikiran Anda, Anda bukanlah Perasaan Anda, Anda bukanlah Keyakinan Anda, Anda bukanlah Keimanan Anda, tapi Anda adalah Abddullah dan Kholifatullah (AdK) yang dibekali 5 asisten yang bernama P3K2.

So, tugas Anda sebagai AdK (Abddullah dan Kholifatullah) adalah menggunakan potensi P3K2 ini secara seimbang dan proporsional. Misalkan, ketika Anda mau berpakaian maka gunakanlah Asisten Penampilan dan Asisten Keimanan agar Pakaian yang Anda gunakan terlihat indah dan menutup aurat.

Jika Anda menemukan masalah matematis dan sains maka gunakanlah asisten Pikiran dan Keimanan. Jangan Anda hitung soal matematik dengan menggunakan alat bantu (asisten) Perasaan. Misal : “7 x 135 perasaan 800 deh... “. Oh, duniamu pasti akan kacau.
Jika Anda bertemu dengan istri Anda, maka gunakanlah perasaan kangenmu, tapi jika Anda bertemu istri orang maka gunakanlah alat bantu pikiran dan keimanan. Jangan malah kangen sama istri orang.

Nah, kunci dari pengendalian diri adalah ketika Anda menggunakan asisten yang ada secara proporsional, dan gagalnya pengendalian diri jika Anda gagal atau salah menggunakan alat bantu yang ada. Demikian untuk sementara penjelasan dari kami.

Wallahu a’lam
Admin S3 I Cahaya-semesta.com

Jumat, 30 Maret 2012

Untuk Mencapai Tujuan, Jangan Pernah Berhenti !

Perhatikanlah jam dinding atau jam tangan, akan terlihat jarum jam yang berputar sesuai dengan hitungan waktu dari mulai angka 1 sampai dengan angka seterusnya. Ketika jarum jam itu akan menuju angka 12 terlebih dahulu harus melewati angka-angka sebelumnya.
 
Begitupun dengan arah tujuan hidup kita harus jelas, dengan kewajiban untuk menapaki langkah demi langkah dalam suatu proses menjalaninya. Dimulai dengan menetapkan tujuan, setelah itu kita beramal, berikhtiar untuk menggapai arah tujuan tersebut. Jika tidak, maka penetapan tujuan yang sudah kita canangkan sebaik apa pun, pasti kita tidak akan dapat meraihnya.
Memiliki tujuan berarti memiliki arah dalam kehidupan ini. Mau ke mana arah hidup kita? Jika sudah memiliki arah yang benar dan harus bergerak menuju arah tersebut, maka secara pasti akan dapat mencapai tujuan tersebut. Yang penting tidak berhenti di tengah jalan untuk menggapainya. Apalagi jika memiliki tujuan yang besar, akan memakan waktu yang lama. Perlu kesabaran, ketekunan, dan optimis (husnuzhan) dalam mencapai tujuan tersebut. Jika ada saat kesabaran itu pudar kemudian berhenti, maka kegagalan dalam meraih tujuan itu pasti teralami. Selama tidak berhenti, dan terus berbuat untuk meraihnya, maka semakin dekat tujuan tersebut kita raih.

Rabu, 23 November 2011

ribath adalah

“Maukah kutunjukkan kepadamu apa yang dapat menghapus dosa dan meningkatkan derajat?” Para sahabat menjawab, “Baiklah ya Rasulullah!” Beliau bersabda, “Menyempurnakan wudhu di saat kesukaran, banyaknya langkah ke masjid, menunggu sholat (berikutnya) sesudah menunaikan sholat. Itulah yang disebut ar-ribath. Itulah yang disebut ar-ribath (terikat karena menunaikan tugas).” (HR Muslim)

Hadits di atas kita dapati di dalam Riyadhus Sholihin di Bab Keutamaan Wudhu. Di dalamnya Rasulullah saw menyebutkan pentingnya ribath. Ribath biasanya dipergunakan dalam pengertian bersiap siaga menghadapi musuh namun dalam hadits di atas disebutkan bahwa menanti waktu-waktu sholat dengan bersiap dalam keadaan wudhu dan berjalan jauh ke masjid termasuk ribath. Ribath berasal dari kata robatho yang artinya mengikat.
Dalam Al Qur-an, yang dimaksud ribath adalah menyiapkan diri terikat dalam pembelaan Islam, sebagaimana firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siagalah (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (QS Ali Imraan: 200). Dalam ayat ini, Allah menggandengkan kata ribath dengan sifat shabar dan mushabaroh. Tanpa kesabaran dan memperkuat keshabaran (mushabaroh), ribath akan gagal. Shabar adalah menahan diri atas sesuatu yang tidak disukai karena mengharap ridha Allah. Sedangkan, mushabaroh artinya saling berbuat antara kedua pihak atau mengungguli musuh dalam kesabaran.
Ribath itu ada dua macam: Pertama, ribath (terikat) di front peperangan untuk membela dan menegakkan Islam. Ini lazimnya cukup ditangani oleh sebagian ummat Islam. Kedua, ribath (terikat) secara kejiwaan yaitu memelihara diri jangan sampai terjatuh ke dalam larangan Allah serta memaksa diri mengerjakan amal-amal sholeh dan membiasakannya terus menerus. Ribath ini wajib dikerjakan oleh seluruh Muslimin. Ribath jenis kedua tidak menggugurkan ribath yang pertama karena jihad membela Islam tetap berlangsung dan menjadi kewajiban Muslimin kapan pun dan di manapun manakala waktu dan kesempatannya terbuka.
Sementara itu, hadits di atas menjadi dalil bagi ribath jenis kedua ini. Karena di ujung hadits tersebut Rasulullah saw berkata, “Itulah yang disebut ar-ribath (terikat karena menunaikar tugas)”. Dengan kata lain, hadits menggambarkan betapa besarnya perhatian Rasulullah terhadap julus fi masajid (duduk di masjid). Rasulullah saw menjelaskan bahwa menghapus dosa dan meninggikan derajat dilakukan dengan memakmurkan masjid-masjid. Dengan menggunakan kata ribath, beliau memberikan perumpamaan seorang yang memakmurkan masjid tidak ubahnya sebagai mujahid yang berperang menghadapi musuh.
Berdasarkan hadits di atas yang disebut ribath dan akan menaikkan derajat serta menghapus dosa:
  1. Melakukan wudhu kendati di saat kesukaran air. Yaitu memelihara kesucian diri dengan kondisi bersiap melaksanakan sholat kapan pun dan di mana pun. Sebab, wudhu adalah diantara syarat sahnya sholat. Hal ini tergambar pada para sahabat Rasulullah yang mencintai kesuciaan dan tempat yang suci (masjid): “…Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih”. (WS At Taubah: 108)
  2. Menunggu-nunggu waktu sholat dengan penuh harap berjumpa dengan Allah.
  3. Mendatangi masjid dengan sholat berjamaah meskipun tempatnya jauh. Nabi SAW bertanya kepada malaikat Jibril as, “Wahai Jibril, tempat manakah yang paling disenangi Allah?” Jibril AS menjawab, “Masjid-masjid dan yang paling disenangi adalah yang pertama masuk dan yang paling terakhir meninggalkannya…” (HR. Muslim)
Di tengah gencarnya sekularisasi dan ghazwul fikri (pertarungan pemikiran), setiap Muslim dituntut untuk bertahan di masjid sebagai benteng akidah dan akhlak kaum Muslimin. Apalagi seorang aktivis dakwah Islam, dia bukan hanya dituntut untuk melakukan ribath, tetapi juga meramaikan masjid.
Di masjid-masjid, rahmat dan kasih sayang Allah bertaburan. Maka dengan memperbanyak duduk di masjid, Muslim berorientasi mempertahankan masyarakat Islam. Adapun pengajian di masjid akan dengan mudah dibentuk manakala masjid-masjid telah menjadi tempat ribath para aktivis.
(Ditulis oleh M. Aminullah)

Jumat, 11 November 2011

#obatgalau Bernama Kematian

Kehidupan berlangsung tanpa disadari dari detik ke detik. Apakah anda tidak menyadari bahwa hari-hari yang anda lewati justru semakin mendekatkan anda kepada kematian sebagaimana juga yang berlaku bagi orang lain?
Seperti yang tercantum dalam ayat “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. 29:57) tiap orang yang pernah hidup di muka bumi ini ditakdirkan untuk mati. Tanpa kecuali, mereka semua akan mati, tiap orang. Saat ini, kita tidak pernah menemukan jejak orang-orang yang telah meninggal dunia. 

Mereka yang saat ini masih hidup dan mereka yang akan hidup juga akan menghadapi kematian pada hari yang telah ditentukan. Walaupun demikian, masyarakat pada umumnya cenderung melihat kematian sebagai suatu peristiwa yang terjadi secara kebetulan saja.
Coba renungkan seorang bayi yang baru saja membuka matanya di dunia ini dengan seseorang yang sedang mengalami sakaratul maut. Keduanya sama sekali tidak berkuasa terhadap kelahiran dan kematian mereka. Hanya Allah yang memiliki kuasa untuk memberikan nafas bagi kehidupan atau untuk mengambilnya.
Semua makhluk hidup akan hidup sampai suatu hari yang telah ditentukan dan kemudian mati; Allah menjelaskan dalam Quran tentang prilaku manusia pada umumnya terhadap kematian dalam ayat berikut ini:
Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. 62:8)
Kebanyakan orang menghindari untuk berpikir tentang kematian. Dalam kehidupan modern ini, seseorang biasanya menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang sangat bertolak belakang [dengan kematian]; mereka berpikir tentang: di mana mereka akan kuliah, di perusahaan mana mereka akan bekerja, baju apa yang akan mereka gunakan besok pagi, apa yang akan dimasak untuk makan malam nanti, hal-hal ini merupakan persoalan-persoalan penting yang sering kita pikirkan. Kehidupan diartikan sebagai sebuah proses kebiasaan yang dilakukan sehari-hari. Pembicaraan tentang kematian sering dicela oleh mereka yang merasa tidak nyaman mendengarnya. Mereka menganggap bahwa kematian hanya akan terjadi ketika seseorang telah lanjut usia, seseorang tidak ingin memikirkan tentang kematian dirinya yang tidak menyenangkannya ini. 

Sekalipun begitu ingatlah selalu, tidak ada yang menjamin bahwa seseorang akan hidup dalam satu jam berikutnya. Tiap hari, orang-orang menyaksikan kematian orang lain di sekitarnya tetapi tidak memikirkan tentang hari ketika orang lain menyaksikan kematian dirinya. Ia tidak mengira bahwa kematian itu sedang menunggunya!
Ketika kematian dialami oleh seorang manusia, semua “kenyataan” dalam hidup tiba-tiba lenyap. Tidak ada lagi kenangan akan “hari-hari indah” di dunia ini. Renungkanlah segala sesuatu yang anda dapat lakukan saat ini: anda dapat mengedipkan mata anda, menggerakkan badan anda, berbicara, tertawa; semua ini merupakan fungsi tubuh anda. Sekarang renungkan bagaimana keadaan dan bentuk tubuh anda setelah anda mati nanti.
Dimulai saat anda menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya, anda tidak ada apa-apanya lagi selain “seonggok daging”. Tubuh anda yang diam dan terbujur kaku, akan dibawa ke kamar mayat. Di sana, ia akan dimandikan untuk yang terakhir kalinya. Dengan dibungkus kain kafan, jenazah anda akan di bawa ke kuburan dalam sebuah peti mati. 

Sesudah jenazah anda dimasukkan ke dalam liang lahat, maka tanah akan menutupi anda. Ini adalah kesudahan cerita anda. Mulai saat ini, anda hanyalah seseorang yang namanya terukir pada batu nisan di kuburan.
Selama bulan-bulan atau tahun-tahun pertama, kuburan anda sering dikunjungi. Seiring dengan berlalunya waktu, hanya sedikit orang yang datang. Beberapa tahun kemudian, tidak seorang pun yang datang mengunjungi.
Sementara itu, keluarga dekat anda akan mengalami kehidupan yang berbeda yang disebabkan oleh kematian anda. Di rumah, ruang dan tempat tidur anda akan kosong. Setelah pemakaman, sebagian barang-barang milik anda akan disimpan di rumah: baju, sepatu, dan lain-lain yang dulu menjadi milik anda akan diberikan kepada mereka yang memerlukannya. Berkas-berkas anda di kantor akan dibuang atau diarsipkan.

Selama tahun-tahun pertama, beberapa orang masih berkabung akan kepergian anda. Namun, waktu akan mempengaruhi ingatan-ingatan mereka terhadap masa lalu. Empat atau lima dasawarsa kemudian, hanya sedikit orang saja yang masih mengenang anda. Tak lama lagi, generasi baru muncul dan tidak seorang pun dari generasi anda yang masih hidup di muka bumi ini. Apakah anda diingat orang atau tidak, hal tersebut tidak ada gunanya bagi anda.
Sementara semua hal ini terjadi di dunia, jenazah yang ditimbun tanah akan mengalami proses pembusukan yang cepat. Segera setelah anda dimakamkan, maka bakteri-bakteri dan serangga-serangga berkembang biak pada mayat tersebut; hal tersebut terjadi dikarenakan ketiadaan oksigen. Gas yang dilepaskan oleh jasad renik ini mengakibatkan tubuh jenazah menggembung, mulai dari daerah perut, yang mengubah bentuk dan rupanya. Buih-buih darah akan meletup dari mulut dan hidung dikarenakan tekanan gas yang terjadi di sekitar diafragma. Selagi proses ini berlangsung, rambut, kuku, tapak kaki, dan tangan akan terlepas. Seiring dengan terjadinya perubahan di luar tubuh, organ tubuh bagian dalam seperti paru-paru, jantung dan hati juga membusuk. Sementara itu, pemandangan yang paling mengerikan terjadi di sekitar perut, ketika kulit tidak dapat lagi menahan tekanan gas dan tiba-tiba pecah, menyebarkan bau menjijikkan yang tak tertahankan. Mulai dari tengkorak, otot-otot akan terlepas dari tempatnya. Kulit dan jaringan lembut lainnya akan tercerai berai. Otak juga akan membusuk dan tampak seperti tanah liat. Semua proses ini berlangsung sehingga seluruh tubuh menjadi kerangka.
Tidak ada kesempatan untuk kembali kepada kehidupan yang sebelumnya. Berkumpul bersama keluarga di meja makan, bersosialisasi atau memiliki pekerjaan yang terhormat; semuanya tidak akan mungkin terjadi.
Singkatnya, “onggokkan daging dan tulang” yang tadinya dapat dikenali; mengalami akhir yang menjijikkan. Di lain pihak, anda – atau lebih tepatnya, jiwa anda – akan meninggalkan tubuh ini segera setelah nafas anda berakhir. Sedangkan sisa dari anda – tubuh anda – akan menjadi bagian dari tanah.
Ya, tetapi apa alasan semua hal ini terjadi?
Seandainya Allah ingin, tubuh ini dapat saja tidak membusuk seperti kejadian di atas. Tetapi hal ini justru menyimpan suatu pesan tersembunyi yang sangat penting
Akhir kehidupan yang sangat dahsyat yang menunggu manusia; seharusnya menyadarkan dirinya bahwa ia bukanlah hanya tubuh semata, melainkan jiwa yang “dibungkus” dalam tubuh. Dengan lain perkataan, manusia harus menyadari bahwa ia memiliki suatu eksistensi di luar tubuhnya. Selain itu, manusia harus paham akan kematian tubuhnya - yang ia coba untuk miliki seakan-akan ia akan hidup selamanya di dunia yang sementara ini -. Tubuh yang dianggapnya sangat penting ini, akan membusuk serta menjadi makanan cacing suatu hari nanti dan berakhir menjadi kerangka. Mungkin saja hal tersebut segera terjadi.
Walaupun setelah melihat kenyataan-kenyataan ini, ternyata mental manusia cenderung untuk tidak peduli terhadap hal-hal yang tidak disukai atau diingininya. Bahkan ia cenderung untuk menafikan eksistensi sesuatu yang ia hindari pertemuannya. Kecenderungan seperti ini tampak terlihat jelas sekali ketika membicarakan kematian. Hanya pemakaman atau kematian tiba-tiba keluarga dekat sajalah yang dapat mengingatkannya [akan kematian]. Kebanyakan orang melihat kematian itu jauh dari diri mereka. Asumsi yang menyatakan bahwa mereka yang mati pada saat sedang tidur atau karena kecelakaan merupakan orang lain; dan apa yang mereka [yang mati] alami tidak akan menimpa diri mereka! Semua orang berpikiran, belum saatnya mati dan mereka selalu berpikir selalu masih ada hari esok untuk hidup.
Bahkan mungkin saja, orang yang meninggal dalam perjalanannya ke sekolah atau terburu-buru untuk menghadiri rapat di kantornya juga berpikiran serupa. Tidak pernah terpikirkan oleh mereka bahwa koran esok hari akan memberitakan kematian mereka. Sangat mungkin, selagi anda membaca artikel ini, anda berharap untuk tidak meninggal setelah anda menyelesaikan membacanya atau bahkan menghibur kemungkinan tersebut terjadi. Mungkin anda merasa bahwa saat ini belum waktunya mati karena masih banyak hal-hal yang harus diselesaikan. Namun demikian, hal ini hanyalah alasan untuk menghindari kematian dan usaha-usaha seperti ini hanyalah hal yang sia-sia untuk menghindarinya:
Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.” (QS. 33:16)
Manusia yang diciptakan seorang diri haruslah waspada bahwa ia juga akan mati seorang diri. Namun selama hidupnya, ia hampir selalu hidup untuk memenuhi segala keinginannya. Tujuan utamanya dalam hidup adalah untuk memenuhi hawa nafsunya. Namun, tidak seorang pun dapat membawa harta bendanya ke dalam kuburan. Jenazah dikuburkan hanya dengan dibungkus kain kafan yang dibuat dari bahan yang murah. Tubuh datang ke dunia ini seorang diri dan pergi darinya pun dengan cara yang sama. Modal yang dapat di bawa seseorang ketika mati hanyalah amal-amalnya saja.

Minggu, 18 September 2011

Apa yang Patut Anda Ketahui sebagai Pelajar Islam


Hanya ilmu yang dapat mengangkat derajat manusia. Olehnya itu, Allah SWT memberi mereka aneka ragam potensi diri. Orang yang cacat sejak lahir punya kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensi diri sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Di dalam Islam setiap manusia punya hak yang sama dalam memperoleh pendidikan.

Keurgensian ilmu pengetahuan terangkum dalam seruan Allah SWT kepada umat manusia untuk senantiasa membaca, menelaah, dan berpikir positif. Dia berfirman:
“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar manusia dengan perantara kalam (alat tulis baca). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”(QS. al-Alaq [96]:1-5)

Objek dari ilmu pengetahuan yang diserukan Alqur'an tidak disebutkan secara eksplisit, karena ia melihat tujuan utama dari setiap disiplin ilmu, yaitu mengungkap tanda-tanda keberadaan dan keagungan Allah SWT.

Mahasiswa kedokteran mempelejari ilmu kedokteran supaya mampu menangkap sinyal-sinyal dari manifestasi nama-Nya, as-Syafi' (Yang Maha Pemberi Kesembuhan). Sekolah teknik kejuruan mengajarkan mekanisme kerja mesin, arsitektur bangunan, dan keterampilan khusus serta operasional satuan kerja di lapangan, supaya mereka dapat mengetahui perwujudan nama-Nya, al-Muqaddir (Yang Maha Tahu dalam Menentukan kadar sesuatu).

Jika seorang dokter mampu menyembuhkan penyakit dengan obat dan terapi khusus, maka disana ada zat Yang Maha Penyembuh, sumber dari segala kesembuhan. Apabila seorang insinyur bangunan dapat membangun gedung bertingkat, dan dengan ketangkasan seorang mekanik merakit kepingan-kepingan besi menjadi benda yang berguna, maka pasti disana ada Zat Yang Maha Mampu Menciptakan sesuatu dengan kadar dan komposisi tertentu tanpa butuh kepada yang lain, dan tidak dijangkiti rasa lelah dan capek.

Setiap disiplin ilmu bisa dikatakan sebagai ilmu, jika ia memberi hakikat seperti ini. Pelajar yang benar adalah mereka yang mampu mengenal manifestasi nama-nama Allah SWT lewat ilmu yang digelutinya. Ahli sains sejati adalah mereka yang menjadikan alam semesta sebagai laboratorium, tempat dimana mereka menemukan tanda-tanda kekuasaan-Nya. [1]

Maka dari itu, sejak awal Alqur'an mengangkat derajat orang-orang yang berilmu pengetahuan. Dia berfirman:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS.. al-Mujadalah [58]: 11)

Orang-orang yang berilmu pengetahuan disini sebagaimana yang digarisbawahi ayat di atas adalah mereka yang mengedepankan akalnya dalam setiap masalah, tidak mengikuti hawa nafsunya, mendahulukan yang amat penting dari yang penting, punya perencanaan ke depan, bekerja dengan dedikasi tinggi, dan tidak membodohi sesama atau mengeksploitasi seseorang untuk kepentingan pribadi. Hematnya, mereka itu adalah orang-orang yang tahu dimana letaknya kebenaran dan keburukan. Bukankah jarak di antara mereka berdua seperti jaraknya langit dan bumi?

Jika ada yang bertanya: “Kenapa proses pembelajaran sering kali tidak mendatangkan berkah terhadap kehidupan mereka? Dimana letak dari keberhasilan pendidikan yang senantiasa dicari oleh setiap pelajar?”

Saya menjawab: ada beberapa hal yang mendasari keberhasilan pendidikan yang penuh berkah yang mereka tidak miliki, di antaranya:

1. Menjadikan keinginan belajar sebagai kebutuhan pokok

Orang yang menghargai ilmu adalah mereka yang senantiasa tidak ingin lepas dari buku, punya rasa ingin tahu yang kuat, mencari ilmu dimanapun ia berada, mendatangi ilmu dan tidak mengharap ilmu yang mendatanginya. Tentunya, ini tidak terwujud kecuali jika rasa ingin tahu telah mendarah daging dalam diri, dan menjadi sebuah kebutuhan tersendiri.
Makna ini tersirat dalam sabda Rasul Saw berikut ini:
“Tuntutlah ilmu pengetahuan, meskipun itu di negeri Cina.” [2]
Jika anda berkata: “kenapa dalam melihat ilmu pengetahuan harus disejajarkan dengan makanan pokok?” maka Jawabannya seperti ini:

“kelangsungan hidup setiap makhluk tergantung kepada makanan, dan tentunya ketahanan fisik ada pada makanan pokok yang wajib dikomsumsi setiap hari. Begitu pula dengan rohani, supaya ia dapat melahirkan ide dan inspirasi untuk mendatangkan kemaslahatan jasmani, maka ia harus membaca dan menelaah. Seseorang bisa bertahan hidup tanpa makan dan minum selama 40 hari, tetapi ia tidak bisa menghabiskan satu hari tanpa berfikir. Olehnya itu, jika pada tenggang waktu tertentu manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, maka pada saat sekarang manusia sepatutnya dikatakan sebagai makhluk penuntut ilmu demi tercapainya kebutuhan rohani dan jasmani secara berimbang.”

Mereka yang punya sikap seperti ini adalah mereka yang tidak membedakan satuan ilmu pengetahuan dari yang lain. Mereka yang menghargai semua guru, karena apa yang mereka sampaikan adalah makanan primer terhadap rohani. Bukankah suatu kebodohan jika menjauhkan diri dari orang yang datang dengan sengaja menyuguhkan dan menyuapi makanan kesukaan kita? Kenapa kita ingin menolak pemberian itu, bukankah hewan sendiri suka disuapi?
Ingatlah! Berkah ilmu tergantung dari sejauh mana kita menghargai ilmu pengetahuan dan orang-orang yang berilmu.

2. Terus menerus belajar

Makanan pokok tidak dikatakan sebagai kebutuhan mendasar jika hanya sekali dimakan saja, tetapi makanan pokok itu adalah makanan yang senantiasa dikomsumsi tiap harinya. Seseorang bisa saja tidak makan kerupuk pada hari ini dan hari-hari mendatang, tetapi amat sulit baginya jika tidak makan nasi pada tiap kali mengusir rasa lapar.
Pelajaran menjadi kebutuhan utama, jika dalam diri senantiasa ada dorongan kuat untuk membaca, mengetahui, dan memahami.

Bukanlah belajar itu dengan membaca sekali kemudian berhenti karena telah merasa puas, tapi belajar yang benar itu adalah belajar yang tidak pernah mengenal rasa puas, senantiasa haus dengan ilmu, selalu membaca di setiap ada kesempatan. Jika tidak membaca dalam jangka waktu tertentu tercipta dalam diri sebuah keanehan dan rasa tidak nyaman, seperti orang yang merasa lemah akibat tidak makan dan minum.

Para ilmuwan Islam terkemuka telah terbiasa menghabiskan waktu mereka berjam-jam tanpa makan dan minum, hanya karena terbuai oleh indahnya setiap hakikat ilmu pengetahuan yang mereka pahami. Bahkan, di antara mereka yang ditakdirkan masuk penjara meminta agar tidak dipisahkan dengan bukunya, meski ia hanya membawa sehelai pakaian. Itu bukanlah hal yang aneh, karena kepribadian manusia terbentuk dari kebiasaan.

Hemat penulis, seruan itu tersirat dari ayat-ayat yang menganjurkan umat untuk senantiasa memikirkan dan mengungkap rahasia-rahasia Allah SWT di balik setiap penciptaan entitas kehidupan. Alqur'an dalam menyeru kepada hal tersebut kerap kali mempergunakan fi'il mudhari (kata kerja yang menunjukan pekerjaan yang terjadi pada saat sekarang dan masa mendatang). Seperti firman-Nya di bawah ini:

“Maka tidaklah kamu memahaminya?”(QS. al-Baqarah [2]: 44)

Dan firman-Nya juga:
“Maka apakah kamu tidak memikirkannya?” (QS. al-An'am [6]: 50)

serta firman-Nya:
“Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?”(Qs. Yunus [10]: 3)
Dan pastinya, seruan untuk memahami, berpikir, dan mengambil pelajaran senantiasa langgeng sampai hari kiamat.

3. Merendah diri terhadap sesama

Tawadhu' (rendah diri) merupakan tujuan ilmu, dan pada waktu yang sama dia juga jalan meraih berkah pendidikan. Karena dengan sifat itu, seseorang tidak menganggap remeh ilmu pengetahuan, melihat enteng orang lain, membuang kesombongan dan ego, dan senantiasa melihat dirinya sama dengan yang lain. Orang yang menyombongkan diri dengan pengetahuannya telah berada pada kebodohan dalam keadaan tidak sadar.

Apakah yang dapat kita sombongkan dari ilmu itu? Bukankah pada suatu waktu seorang pelajar kadang lupa apa yang pernah dipelajarinya, sementara ia amat yakin bahwa hafalan tersebut senantiasa melekat di benaknya? Bukankah ini pertanda bahwa setiap pelajar hanya dituntut untuk belajar dan berusaha semaksimal mungkin mengetahui, tahu atau tidaknya itu tergantung kepada kebijakan Allah SWT? Bukankah itu sinyal dari kelemahan dan ketidakmampuan kita sebagai hamba, jadi apa lagi yang mesti disombongkang, wahai mereka yang bersikap angkuh dengan ilmunya?

Orang tua murid sering kali melantunkan pepatah ini: “Padi jika menguning merundukkan daun”. Orang yang rendah diri adalah mereka yang tahu jati diri, tidak melihat ada sesuatu kelebihan dalam diri, karena yang memberi isi dan bobot ilmu pengetahuan dalam dirinya adalah Sang Pencipta. Ia hanya tempat air yang siap untuk diisi, dan tidak menutup kemungkinan air itu ada yang tumpah sebagian. Jika perihalnya seperti itu, kenapa kita tidak ingin menundukkan muka, merendah diri terhadap sesama?

Di dalam sifat ini tersimpan kebaikan yang tidak terkira. Jika rendah diri telah menjadi pakaian seseorang, maka ia akan memberi rasa damai, tawakkal, dan percaya diri yang luar biasa. Kenapa tidak? Bukankah rendah diri itu sifat para ulama.

Wahai mereka yang berilmu, Berbagahagialah! Anda adalah pelanjut perjuangan para nabi-nabi dalam mengemban dakwah Islam, diberikan potensi untuk mengetahui manifestasi nama-nama Allah SWT di alam semesta, diangkat derajatnya di antara hamba-hamba-Nya, dan tentunya, mereka itu meniti jalan kebenaran menuju akhirat.

Berbahagialah kalian! Di dunia anda dimuliakan sesama, di akhirat anda mendapatkan tempat kehormatan tersendiri di sisi Allah SWT. Olehnya itu, Buanglah jauh, dan kubur mati kesombongan itu, serta tanamkan dalam diri sikap rendah diri! Itulah keberuntungan yang sebenarnya.